Jumat, 17 Maret 2017

Redefinisi Sastra

Definisi-definisi lama tentang sastra menempatkan bahasa [unsur verbal] sebagai pewatas dan penentu utama. Tiada sastra tanpa bahasa. Tak ayal, sastra identik atau sama sebangun dengan bahasa atau unsur verbal dari simbolisme kebudayaan. Yang bukan bahasa atau verbal bukan sastra!

Namun, sekarang kita berhadapan dengan istilah novel grafis dan karya-karya yang digolongkan ke dalam novel grafis. Seorang perupa pernah saya tanya: apakah novel grafis bukan genre baru komik? Dia jawab: komik beda dengan novel grafis! Apakah novel grafis ini kita perlakukan bukan sastra atau kita terima sebagai genre baru sastra, sebutlah novel hibrida. Jika kita terima, maka sastra tak hanya menggunakan media bahasa, tapi juga rupa, yang dalam bahasa puisi sudah dijelajahi dan direka begitu rupa dengan tipografi. Konsekuensinya, diperlukan redefinisi sastra.

sastra indonesia, novel, puisi, buku sastra, karya sastra, kritik sastra

Ketika memasuki zaman modern, sastra khususnya fiksi berkutat dan berumah di dunia fiksional dan imajinatif. Sastra berkelit dan mengelak dari dunia pemikiran dan kenyataan teralami oleh manusia. Tak heran, novel selalu diberi peringatan di halaman sampul dalamnya: cerita ini fiksi belaka...bla bla bla. Pernyataan ini tegas menegasi doktrin: tjeritera betoel suda kedjadian, yang berlaku pada sastra kurun sebelumnya. Tetapi, sekarang kita berhadapan dengan novel yang dengan tegas diberi label: berdasarkan kisah nyata, based on true story, novel pembangun jiwa, novelisasi sejarah, novelisasi hidup, dan sejenisnya.

Pernyataan ini membawa sastra pada dunia gagasan, pemikiran, faktualitas, dan realitas primer hidup manusia. Kalau kita terima sebagai sastra yang terhormat, konsekuensinya, kita harus menerima kenyataan bahwa sastra tak hanya berurusan dengan dunia fiksionalitas dan imajinasi, tapi juga faktualitas dan pemikiran. Lebih lanjut, pemilahan tegas antara indah dan guna [dulce et utile] tak terlalu relevan karena pada dasarnya sastra [pinjam konsep Jawa Kuna] adalah kagunan. Sebab itu, redefinisi sastra makin diperlukan.

Penulis: Prof. Djoko Saryono

0 Komentar Redefinisi Sastra

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top