Jumat, 17 Maret 2017

Pendidikan dalam Budaya Agraris

Pendidikan dalam Budaya Agraris - Masihkah budaya agraris eksis sekarang – baik budaya agraris tradisional maupun budaya agraris modern? Pandangan linieritas kebudayaan tentu saja menjawab bahwa zaman budaya agraris sudah lewat. Sekarang kita sudah tiba pada zaman budaya industrial atau malah zaman informasi, bahkan zaman serba pengetahuan. Dengan berapi-api dan penuh semangat Alvin Toffler, dua puluh tahun lalu, dalam buku Third Wave, meniupkan sangkakala kematian budaya agraris – yang disebutnya Gelombang Pertama Peradaban. Demikian juga ahli-ahli futurologi lain: beramai-ramai mengumandangkan maklumat kematian budaya agraris sekaligus memaklumkan hadirnya budaya industrial atau informasi.

Tapi, kita tahu, hingga sekarang budaya agraris tetap eksis di Indonesia. Memang di Jawa budaya agraris surut atau terpinggirkan akibat berkurangnya tanah pertanian dan makin kuatnya budaya industrial atau informasi. Tapi, lihatlah, di tempat-tempat lain di seantero Indonesia, budaya agraris tetap eksis dan berkembang sampai sekarang. Bermuhibahlah ke relung-relung wilayah Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi, bahkan Papua dan NTT, niscaya akan terlihat nyata keberadaan budaya agraris. Hal ini berarti, munculnya suatu budaya baru tidak serta-merta meniadakan budaya lain: di sini munculnya budaya industrial atau informasi tidak otomatis menghancurkan budaya agraris. Budaya agraris, budaya industrial, dan budaya informasi atau pengetahuan ternyata membentuk gugusan-gugusan (nebula-nebula) budaya – yang kadang berinteraksi dan kadang juga membentuk identitas tersendiri. Ini semua menunjukkan, budaya agraris bukan melulu sesuatu yang lampau, tapi juga sesuatu yang hadir kini-dan-disini.


Mengapa budaya agraris tetap eksis, bahkan berkembang meskipun sudah timbul budaya industrial dan budaya informasi – yang oleh Toffler digolongkan ke dalam peradaban Gelombang Kedua dan Gelombang Ketiga? Pertama, karena tanah (pertanian) sebagai basis utama eksistensi budaya agraris masih ada secara fungsional. Kendati berkurang di berbagai tempat di Jawa, di berbagai tempat di luar Jawa justru bertambah. Pembukaan lahan-lahan pertanian di luar Jawa demikian berarti dan nyata dan hal ini dapat menjadi landasan atau akar-kuat eksistensi budaya agraris; seperti halnya air atau laut menjadi akar atau landasan budaya kemaritiman/kebaharian/kelautan.

Kedua, masyarakat atau komunitas yang meletakkan eksistensinya pada (pengolahan) tanah menjadi pertanian masih tetap ada dengan jumlah yang relatif berarti. Masyarakat atau komunitas inilah yang menjadi pemangku budaya agraris – yang kemudian kita sebut sebagai masyarakat agraris atau pertanian. Merekalah penentu hidup matinya budaya agraris (bukan para pakar atau ahli) karena masyarakat dan kebudayaan senantiasa berhubungan simbiotis-mutualistis.

Ketiga, kosmologi dan pranata-pranata kehidupan (baik sosial-budaya, sosial-politis maupun spiritual) yang dimiliki oleh komunitas agraris masih tetap ada dan dijaga – kendati di sana-sini koyak-moyak. Kita tahu, masyarakat agraris sangat patuh dan menyandarkan diri pada adanya tata yang teratur, mantap, dan pasti-ajek; berbeda dengan masyarakat industrial yang justru menyandarkan diri pada kesemrawutan. Karena itu, arti kosmologi dan pranata kehidupan demikian penting dan sentral dalam masyarakat agraris. Kosmologi dan pranata kehidupan ini menjaga dan mengatur kehidupan mereka sekaligus keberadaan budaya agraris.Selanjutnya keempat, masyarakat sekaligus budaya agraris terbukti terus-menerus berupaya bertransformasi sebagai usaha menanggapi dan menjawab pelbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya; di antaranya perubahan yang terjadi akibat hadirnya sistem nilai, sosial, dan material baru dari budaya industrial dan informasi.

Salah satu pranata kehidupan yang senantiasa dimiliki oleh masyarakat atau komunitas apapun (baik masyarakat agraris, industrial maupun informatif) adalah pendidikan karena setiap masyarakat senantiasa mendidik (educating) diri mereka dan komunitas mereka agar tetap eksis. Pendidikan di sini dalam arti seluas-luasnya: usaha mengajar, melatih, membimbing, mendampingi dan mengarahkan subjek didik secara berkelanjutan. Demikianlah, masyarakat agraris juga memiliki pranata pendidikan sebagai usaha mendidik diri dan komunitas mereka agar tetap eksis.

Sebagai salah satu pranata sosial-budaya, dalam masyarakat dan budaya agraris, pendidikan pada dasarnya dan awalnya difungsikan untuk (i) membebaskan dan memerdekakan komunitas agraris dari pelbagai kemungkinan yang membuatnya menjadi bukan manusia; (ii) memekarkan dan mengembangkan kemanusiaan agar masyarakat agraris menjadi sepenuhnya manusia; (iii) memberdayakan komunitas agraris agar mampu mengembangkan dan melangsungkan kehidupan sebagai manusia secara manusiawi. Ini berarti, bagi masyarakat agraris, pendidikan menjadi instrumen mendasar liberasi dan humanisasi. Selanjutnya, ia juga dijadikan instrumen pokok untuk melangsungkan, mempertahankan, mewariskan, dan mengembangkan eksistensi masyarakat dan budaya agraris. Jadi, sebagaimana dalam masyarakat lain, dalam masyarakat dan budaya agraris pendidikan ditempatkan sebagai instrumen pemantapan dan penguatan eksistensi dengan fungsi mengalihkan dan mentransformasikan nilai-nilai budaya agraris.

Pendidikan macam apakah yang (ber/di)kembang(kan) dalam masyarakat dan budaya agraris? Atau sosok pendidikan seperti apakah yang terdapat dalam masyarakat dan budaya agraris? Seperti apakah landasan-landasan pendidikan yang kita jumpai dalam budaya agraris? Seiring dengan pertanyaan itu, asas-asas atau prinsip-prinsip apakah yang mendasari penyelenggaraan pendidikan dalam masyarakat dan budaya agraris? Harus diakui dengan jujur, pertanyaan-pertanyaan tersebut tak mudah dikuak, apalagi dijawab. Sebabnya, pertama, masyarakat agraris umumnya tidak menyibukkan diri dengan konseptualisasi dan sofistikasi teoretis sehingga tidak berkembang teori pendidikan dalam masyarakat agraris; dan kedua budaya agraris bertumpu dan berguru pada alam semesta, bukan bertumpu dan berguru pada ilmu [pengetahuan] dan teknologi sebagaimana budaya industrial atau informasi, sehingga lebih banyak melakukan praksis pendidikan atau laku kehidupan berupa pendidikan.

Tak mengherankan, dalam masyarakat dan budaya agraris, pendidikan merupakan laku kehidupan sehari-hari yang dilaksanakan dengan penuh kecintaan demi kelangsungan-hidup masyarakat dan budaya agraris, bukan demi kelimpahan benda atau harta semata. Secara bersama-sama, laku pendidikan tersebut dilaksanakan di dalam keluarga dan komunitas, terpadu dengan laku-laku kehidupan lainnya. Pada masyarakat agraris (tradisional), pelembagaan atau institusionalisasi laku pendidikan secara mandiri-otonom [yang membuat proses pendidikan terpisah dari laku kehidupan lain] belum terjadi atau kalau terjadi tidak seberapa kuat sehingga dalam masyarakat agraris kita hanya menemukan lembaga pendidikan sejenis padepokan-padepokan atau pondok-pondok yang struktur organisasinya sederhana. Karena itu, dalam masyarakat dan budaya agraris, proses pendidikan merupakan kegiatan amateur, bukan kegiatan profesional [bisa dibaca: pendidikan adalah kegiatan amatir, bukan profesional!] di dalam keluarga dan masyarakat. Di sinilah setiap anggota komunitas budaya agraris dapat berperan menjadi guru meskipun peran guru bisa saja disandang orang tertentu. Ini semua menunjukkan, pendidikan dalam masyarakat agraris: (a) bercirikan holistis dan integratif, (b) mengedepankan praksis daripada teori, (c) ditempatkan sebagai kegiatan amatir daripada profesional, (d) dilaksanakan secara kontekstual, dan (e) berbasis keluarga dan komunitas.

Kita tahu, masyarakat agraris sangat mengutamakan terlaksananya tata yang teratur dan ajek sehingga budaya agraris cenderung berorientasi ke dalam (in-ward looking) daripada orientasi keluar (out-ward looking). Pendidikan dalam budaya agraris diabdikan demi kepentingan menjaga tata yang teratur dan ajek (kosmos) tersebut, dalam arti menjaga kelangsungan-hidup masyarakat dan budaya agraris. Konsekuensinya, pendidikan dalam budaya agraris berisi pengenalan-pengenalan dan pengalihan-pengalihan etika yang dapat menjaga keteraturan dan keajekan tata di samping pengenalan dan pengenalan cara-cara bertani yang tetap memuliakan tanah. Karena itu, pendidikan dalam budaya agraris cenderung bersifat etis dan techne (vokasional) daripada intelektual dan kompetitif.

Pendidikan yang cenderung etis dan vokasional ini membuat muatan-muatan pendidikan sarat dengan hal-hal etis dan vokasional. Sesuai dengan prinsip utama pendidikan dalam budaya agraris, muatan etis dan vokasional disajikan dalam praktik, contoh, dan teladan di dalam keluarga dan masyarakat secara langsung dan bersama-sama. Ini membuat proses atau kegiatan pendidikan berlangsung secara hangat dan menyenangkan di samping berjalan di dalam lingkungan yang selaras dengan subjek didik. Ini berarti, pendidikan kontekstual dan nyaman dapat berlangsung. Kekerasan-kekerasan dalam beraneka bentuknya tak terjadi dalam kegiatan pendidikan masyarakat agraris. Di samping itu, pendidikan bergaya bank (banking system ala Freire) tak terjadi pula.

Kita tahu, masyarakat dan budaya agraris tidak statis sebab di sekitarnya ada masyarakat dan budaya lain. Tak dapat ditolak, perubahan-perubahan juga terjadi dalam masyarakat dan budaya agraris. Hal ini juga mengubah atau menggeser cita-cita dan sendi-sendi pendidikan dalam masyarakat agraris. Akibat persentuhannya dengan budaya industrial-awal, masyarakat agraris tidak lagi menjadikan pendidikan semata-mata sebagai instrumen menjaga kelangsungan-hidup budaya agraris; mereka menjadikan pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial-ekonomis dan kultural.

Pendidikan akhirnya menjadi sarana untuk keluar dari tata masyarakat agraris sehingga pendidikan justru mendekonstruksi budaya agraris daripada mentransformasi budaya agraris. Di sinilah kemudian timbul pelembagaan proses pendidikan di samping pemisahan pendidikan dari keluarga dan komunitas. Wujudnya berupa penyekolahan (schooling) warga masyarakat agraris dan munculnya sekolah dalam lingkungan budaya agraris. Munculnya sekolah dan penyekolahan ini tentu saja ikut pula mengubah prinsip-prinsip pendidikan dalam masyarakat dan budaya agraris. Prinsip-prinsip pendidikan itu banyak mengadopsi prinsip-prinsip pendidikan dalam masyarakat dan budaya industrial. Sekarang, menurut hemat saya, masyarakat dan budaya agraris sedang berada dalam perjalanan meninggalkan prinsip-prinsip pendidikan dalam budaya agraris-alamiah pada satu sisi dan pada sisi lain sedang dalam proses memeluk prinsip-prinsip pendidikan dalam masyarakat dan budaya industrial.

Konon kabarnya, sebagaimana dilansir oleh George Soros, Morgan, Habermas, Yasraf Amir Piliang dan lain-lain, sesungguhnya masyarakat dan budaya industrial, bahkan informasi sedang berada dalam krisis. Krisis masyarakat dan budaya industrial ini juga menerpa sendi-sendi atau prinsip-prinsip utama pendidikan dalam budaya industrial atau informasi. Kita bisa membaca dan tahu, sudah begitu banyak pihak yang membeberkan berbagai krisis sendi-sendi pendidikan dalam budaya industrial atau informasi.

Dengarlah pekik keterperanjatan beberapa orang berikut ini. Pada tahun 1970-an, Ivan Illich memekik lantang: sekolah telah menjadi belenggu masyarakat sehingga masyarakat harus dibebaskan dari sekolah (ingat: deschooling society). Pada tahun 1970-an pula Paulo Freire memekik-mekik bahwa pendidikan telah menjadi praktik penindasan, bukan lagi praktik penyadaran dan pembebasan serta pemanusiaan manusia. Roem Topatimasang, protolan IKIP Bandung, berteriak lantang (mirip teriakan Marx ihwal agama) bahwa sekolah telah menjadi candu bagi masyarakat. Sindhunata, seorang romo sekaligus budayawan terkemuka kita, bersaksi dramatis bahwa pendidikan persekolahan hanya menghasilkan air mata. Mansoer Fakih, pentolan LSM, dengan tegas memberi kesaksian bahwa pendidikan telah mengalami komodifikasi yang nyata-nyata mengancam kemanusiaan. Preire malah lebih tegas lagi menuduh bahwa sekolah telah menjadi kapitalisme yang licik. Senada dengan ini, Francis Wahano berteriak bahwa sekarang telah terjadi kapitalisme pendidikan yang akut yang mengancam kebebasan dan kelangsungan hidup semua manusia. Ariel Heryanto, pengamat sosial terkemuka, juga bilang bahwa industrialisasi pendidikan telah terjadi seiring dengan perubahan sosial yang berlangsung amat pesat, rumit, dan kompleks. Dave Meier, penulis buku laris-manis bertajuk The Accelerated Learning Handbook, bilang pendidikan dan sekolah modern telah mengalami fabrikasi di samping mengalami puritanisasi, individualisasi, segregatif, maskulin, dan linierisasi – yang terbukti menjadi penyakit bagi manusia modern dan kemanusiaan. Ini semua jelas merupakan sinyalemen serius kalau pendidikan dan terutama sekolah dalam masyarakat dan budaya industrial sudah jauh menyimpang kittah dasar-awalnya.

Sehubungan dengan itu, sekarang sedang berlangsung usaha-usaha mengatasi krisis pendidikan dalam masyarakat dan budaya industrial. Sedang ditimbang kembali apakah prinsip-prinsip pendidikan dalam budaya industrial yang sekarang ada masih dapat dipertahankan atau tidak. Di samping itu, sekarang juga sedang dicari alternatif prinsip-prinsip pendidikan yang dapat dipakai dalam masyarakat dan budaya informasi atau pengetahuan yang kian jelas-kuat sosoknya. Dalam konteks usaha mencari-menemukan alternatif prinsip-prinsip pendidikan inilah, menurut hemat saya, prinsip-prinsip pendidikan dalam masyarakat dan budaya agraris dapat memberikan sumbangannya. Menurut hemat saya, prinsip-prinsip pendidikan dalam masyarakat dan budaya agraris yang di Indonesia sangat beraneka ragam banyak yang compatible atau cocok dengan kebutuhan pendidikan dalam masyarakat dan budaya industrial-lanjut atau informasi. Inilah sumbangan kearifan lokal bagi modernitas atau transmodernitas kehidupan.

Penulis: Prof. Djoko Saryono

0 Komentar Pendidikan dalam Budaya Agraris

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top