Senin, 20 Maret 2017

Menulis Semudah Bernafas

Banyak yang minta pendapat soal kepenulisan pada saya. Perlu saya jelaskan di sini agar tidak terjadi salah paham. Dulu, saya memang sering terlibat soal beginian saat masih aktif bergelut dalam dunia sastra. Proses belajar saya memang begitu, mengajar yang saya tahu, bertanya yang saya tidak tahu. Karena membaca saja tidak cukup.

Beberapa tahun sesudah menarik diri dari menulis dan membaca karya sastra, saya juga tidak tertarik dengan diskusi kepenulisan. Apalagi yang menyoal hal-hal teknis, seperti soal tatabahasa. Saya mungkin belum sampai taraf ahli, tapi saya cukupkan di situ.

Orang-orang yang belum selesai terhadap hal mendasar, seperti memahami tanda baca, penggunaan imbuhan, konjungsi, kapitalisasi, dll, mestinya memang harus belajar dulu. Ini bisa dilakukan sendiri. Namun soal seni kepenulisan, soal gaya, soal kemampuan memproduksi tulisan yang baik, dll, saya pikir lebih aman masuk sekolah kepenulisan. Diskusi saja tidak cukup.


Seseorang perlu waktu lama untuk memperoleh hasil seperti itu. Seorang novelis yang berhasil tidak lahir dalam waktu sehari. Seorang cerpenis, penyair, esais, penulis opini mahir, bukan hasil sulapan. Mereka belajar dan berlatih sangat lama. Kita tidak tahu proses apa yang telah mereka lalui, kita hanya tahu tulisannya bagus dan menarik setelah ia jadi.

Menulis bagi saya itu semudah bernapas. Ide itu jungkir balik di dalam kepala saya. Bisa puluhan atau ratusan setiap hari. Jadi kalau ada orang menunggu ide untuk menulis itu lucu menurut saya. Persoalannya kemudian, apakah ide itu bisa dieksekusi dengan baik atau tidak?

Setiap penulis mahir tentu punya cara mereka masing-masing untuk meringkus ide dan membentuknya jadi tulisan layak. Mereka pastinya telah berproses lama untuk itu. Saran saya, kalau ingin cepat jadi ya ikut sekolah menulis tadi. Langsung maupun online.

Saya yakin semua orang bisa menulis. Ini kan soal skill saja. Untuk jadi mahir perlu dilatih. Tentunya dengan melibatkan mentor, seseorang yang memang ahli di bidangnya. Apa iya, ente mau belajar melukis dari tukang tambal ban? Atau belajar mbatik dari kuli bangunan? Ya kalau yang bersangkutan menguasai tekniknya tidak masalah. Secara umum proses demikian ya tidak tepat.

Jadi menulis asal-asalan memang gampang, menulis bagus yang sulit. Siapapun yang minta pendapat saya soal tulisannya, tentu akan saya berikan secara gratis, sejauh yang saya bisa. Namun untuk hal-hal mendalam, silakan berproses dan terus belajar sendiri. Saya tidak punya cukup kesabaran untuk terlibat. Kalau bisa ikuti forum atau kelompok penulisan. Seperti ikan, penulis juga butuh habitat.

Kenapa saya terlihat ogah-ogahan? Ya karena banyak yang menganggap menulis itu gampang, padahal sulit. Atau sebaliknya yang menganggap menulis itu sangat sulit, padahal ya tak semomok itu. Kuncinya menurut saya ya menulis dengan hati. Sebelumnya tentu harus beres persoalan mendasar. Ente soal di sebagai kata depan (preposisi) dan di sebagai imbuhan (afiksasi) saja bingung, lalu merasa bisa menulis? Hambok sambil gulung-gulung lho sampean tak bakal bisa menulis. Kenapa begitu, dasarnya saja sudah keliru, apalagi soal seni menulisnya.

Mau menulis ya harus belajar teknik menulis, sama seperti ketika mau melukis. Semua itu tidak instan, juga bukan persoalan mustahil. Yang penting situ niatnya setengah-setengah apa sungguh-sungguh? Kalau hanya iseng mending tak usah saja. Selain berpotensi merusak, kemahiran tidak akan lahir dari keisengan.

Tulisan dari : Kajitow Elkayeni

0 Komentar Menulis Semudah Bernafas

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top