Kamis, 23 Maret 2017

10 Aturan Membuat Puisi yang Tidak Banyak Diketahui

Tulisan yang berstandar Puisi, tentu saja tujuannya berkomunikasi dengan pembaca atau penyimak, menggambarkan bentuk standard atau konvensional pun dari suatu genre literasi yang familiar bagi pembaca atau penyimak berpengalaman, agar bisa menghasilkan suatu respon pada ruang pikiran dan penjiwaan penyimak Puisi anda. Intinya, jika tulisan (baca: Puisi) sederhana hanya berdasarkan perasaan anda, belum cukup disebut sebagai Puisi.


Setiap penulis memiliki cara masing-masing dalam proses kreatif penulisan sampai tercipta sebuah Puisi. Setidaknya, di bawah ini sekedar berbagi. Berikut ini adalah 10 aturan penting tentang menulis puisi yang tidak banyak diketahui:

1. Tentukan Tujuan/Maksud Puisi

Sebelum menulis puisi, tentukan tujuan penulisan puisi tsb. Apakah isi puisi anda akan menulis tentang kehidupan anda sendiri, atau orang lain, tentang protes social, tentang cinta, tentang keindahan alam dll. Setelah anda menetapkan tujuan dari pilihan bentuk, thema, judul, topik dari puisi, pilihlah kata-kata atau kalimat yang sesuai untuk membentuk diksi yang mewakili tujuan content/isi puisi tersebut.

2. Hindarkan Klise

Hindarkan kata-kata klise atau kalimat klise, artinya menghindari menulis kata-kata atau kalimat yang sudah sangat populer di masyarakat. Karena hal tsb bersifat pengulangan yang terlalu sering, dikhawatirkan pembaca Puisi anda tidak akan membaca Puisi tsb sampai selesai begitu membaca kata-kata atau kalimat Klise tsb. Contoh: "Matahari bersinar indah di pagi hari", kalimat ini sudah begitu dikenal oleh masyarakat. Jika anda dihadapkan harus juga menulis dengan kata-kata Klise, maka bisa dibuat modifikasi yang menarik. Intinya suatu ungkapan personifikasi dll yang sudah sangat dikenal karena sangat sering ditulis oleh para Penyair cenderung pembaca mempunyai kesan bahwa Puisi anda tsb. menjemukan.

3. Hindarkan Sentimentality

Menghindari perasaan halus mendayu, maksudnya hindari ungkapan perasaan yang berlebihan. Benar bahwa sebuah Puisi adalah ungkapan perasaan/hati/jiwa. Tapi jika anda mencurahkan sentimentality secara keseluruhan dalam sebuah tulisan, maka itu bukan standard sebuah Puisi. Jika pembaca atau penikmat puisi anda menafsirkan bahwa puisi anda didominasi ungkapan hati atau perasaan yang mendayu, yang dibuat seindah-indahnya berkesan memaksa, maka pembaca puisi cenderung tidak menyimaknya dengan sungguh-sungguh. Justru ungkapan yang terlalu mendayu tersebut akan mengurangi keindahan kualitas standard literasi. Jika Puisi anda terkesan cengeng atau sentimental, menggambarkan cucuran airmata, pembaca atau penyimak ahli atau berpengalaman, dengan mudah dapat menangkap seolah memohon respon belas kasihan. Jika terjadi seperti itu, maka pembaca cenderung berkesimpulan bahwa tulisan anda bukan standard Puisi. Sebaliknya, pemilihan kata-kata atau kalimat yang tepat menggiring ke arah suasana sedih yang menghasilkan diksi puitis, indah, menyentuh, justru pembaca menjadi penasaran dalam kesedihan tsb.

4. Libatkan Imaji/Imajinasi

“Jadilah seorang Pelukis kata-kata”; Puisi melibatkan unsur-unsur penginderaan ruh dan warna, melibatkan: penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, rasa, dan kinesiology/motion, penjiwaan. Contoh: *Ada semangat menghebat pada derajat maksimal (motion). *Puisiku judul Kleptomania Berbisa.

5. Gunakan Metaphora dan Simile

Tulislah Metaphora dan Simile (kiasan). Seorang Penyair yang telah berpengalaman atau sering menulis Puisi biasanya mampu merangkai diksi dengan "kiasan" ini tanpa mengabaikan SPO (Subjek, Predikat, Objek) dalam kalimat-kalimatnya. Semua itu dirangkai, bisa dalam arti tunggal atau ambiguitas kata atau kalimat dalam majas tertentu. Metaphora bisa juga diartikan suatu phrase atau kalimat sesungguhnya, tapi memiliki ambiguitas atau arti lain. Kombinasi methapora, personifikasi, terangkai dengan majas (gaya bahasa) tertentu, bukan memaksa untuk membuat indah diksi. Simile adalah ungkapan yang ditulis tentang sebuah objek yang memiliki arti sama dengan objek lain. Simile biasanya ditandai dengan kata-kata: bagaikan, bak, seperti, bagai, dll. Suatu Simile tidak secara otomatis membuat lebih puitis atau kurang puitis daripada Metaphora, atau sebaliknya. Intinya, komparasi, kesimpulan, sugesti, termasuk unsur penting dalam penulisan Puisi. Metaphora dan Simile itulah yang berfungsi untuk menghasilkan ruh dari sebuah Puisi.

6. Memilih Kata Konkrit atau Abstrak

Bukan keharusan seorang penulis Puisi merangkai diksi-nya dengan menggunakan kata-kata konkrit. Tapi pada umumnya Penyair Barat Pemula lebih banyak menuliskan kata-kata konkrit dalam Puisinya. Dari beberapa Genre Puisi yang ditulis oleh para Penyair Indonesia pada umumnya kombinasi antara kata-kata abstrak dan kata-kata konkrit tergantung kebutuhan dan penyesuaian dengan majas yang mereka gunakan.

7. Thema Komunikatif

Puisi selalu memiliki suatu thema. Thema bukan hanya sekedar suatu topik atau judul, tapi merupakan suatu gagasan hasil suatu pemikiran. Thema bisa saja menguatkan inspirasi dan hasil pemikiran mengacu pada opini umum dan fakta. Suatu thema komunikatif akan lebih mudah disimak oleh pembaca awam maupun penyimak akhli/berpengalaman. Topik adalah suatu subjek, hanyalah penunjuk suatu peristiwa, tidak ada inspirasi atau opini, yang secara langsung mengisi suatu Puisi. Sedangkan thema bukan hanya suatu kejadian/peristiwa, tapi suatu ungkapan tentang kejadian itu sendiri. Thema bisa dikatakan dasar pemikiran Penyair untuk menuliskan Puisinya. Penyair berusaha mengkomunikasikan thema tersebut kepada pembacanya dalam bentuk Puisi yang sesuai dengan standard teknik literasi.

8. Mengubah Hal Biasa

Kekuatan Puisi adalah kemampuan melihat apa yang biasa dilihat orang lain setiap harinya dengan suatu cara yang baru. Anda tidak harus menjadi seorang specialist atau seorang genius dalam bidang sastra untuk dapat menulis Puisi-puisi yang bagus. Apa yang harus anda lakukan adalah menjadikan suatu objek/benda, tempat, orang, atau sebuah gagasan, memunculkannya dalam bentuk tulisan anda menjadikan hal-hal tsb terbarukan, sehingga pembaca termotivasi pada persepsi baru tentang hal-hal tsb.

9. Irama

Tulisan yang memiliki standard sebagai Puisi, tentu saja memiliki irama, rasa, ruh, warna dan bentuk dari setiap genre Puisi. Irama dan bentuk yang dipaksakan kuat dengan mengandalkan satu kata atau satu kalimat, tentu saja bisa merusak diksi itu sendiri jika menggunakannya tidak tepat. Jika irama diksi Puisi anda terkesan seperti lirik sebuah lagu, maka akan mengurangi kualitas standard literasi sebagai Puisi.. Bagi Penyair Pemula abaikan saja tentang irama ini. Tidak mudah mencari penyesuaian keseluruhan diksi dengan irama yang ingin Penulis perlihatkan kepada pembaca.

10. Revisi

Revisi. adalah memperbaiki, langkah terakhir ini untuk mengkaji ulang, memperbaiki jika anda merasakan Puisi yang ditulis belum sesuai dengan standard. Ini adalah meng-edit atau menyunting sebelum anda mempertimbangkan bahwa Puisi tsb sudah jadi. Proses kreatif ini penting supaya yakin tulisan anda adalah sebuah Puisi bagi pembaca. [Penulis; Iwan Darta]

Setalah anda membaca dan memahami 10 tips membuat puisi di atas, berikut ini saya sajikan kumpulan puisi tentang cinta yang merupakan karya dari para penulis puisi senior sebagai contohnya.

Judul: CINTA (?)
Karya: Tarsisius Ramto Idong (TRI)

Setiap kali bertamu-
Pandang mata bertemu;
Di sana tinta peta cinta
Harta setiap manusia

Dari senyum biasa
Jadi rindu yang berulang
Di malam purnama;
Setiap langkah menelusuri peta
Umpan lelah jadi sanding bahagia

Bukan manusia yang menggariskan
Tapi cinta yang diwariskan adam lebih dulu
Meramu teguk di tiap dahaga;
Bila baik dirasa maka nama tak kan dilupa
(Mungkin) jadi inspirasi sajak
Yang oleh setiap jiwa jadi penuntun
Mendera setiap dosa

Inilah cinta
Di tiap jiwa manusia;
Inilah cinta
Memeras peluh
Menuju surga



Judul: RINDU (...)
Karya: Tarsisius Ramto Idong (TRI)

Rindu menjelma kelopak mawar
Yang sekali waktu jatuh lalu dibiarkan saja
Seolah tak berharga; padahal
Ia melengkapi yang telah tumbuh-
Yang jadi alat mengungkap cinta

Pun ada yang kesal (percuma saja)
Emosi tertahan di rintih yang mengganggu langkah;,
Dibiarkan pun ada benarnya
Yang telah patah akan terganti yang baru-
Walau tak sama

Rindu yang menjelma kelopak
Hanya mencumbu bau tanah yang tiap hari
Gadis yang dicinta (dalam angan) melangkah;
Masih tersisa walau tinggal sekumpulan debu
Yang menghiasi bahu jalan
Masih enak dicium harumnya walau
Bercampur dengan kecut si pe-nista

Yang berharga akan jadi tak berharga
Bila harum keji membunuh suasanna



Judul: MEMILIHMU
Karya: Tarsisius Ramto Idong (TRI)

Siapakah aku bagimu?

Seberapa hargaku bagimu?

Serindu apa hatimu padaku?

Kau yang pertama menabur rindu
Pada senyum mempesonamu
Tak peduli kau tak tahu
Aku merasa begitu

Bila ini bukan jalannya
Mengapa aku harus menunggu;
Dan, ada waktu suatu hari itu
Meraup pilu dari pandang mata yang bertemu;
Pilihanmu bukan aku

Apakah karena cintaku padamu
Besar tak terhitung volumenya-
Rumus pun tak peduli
Pada rasaku yang memburumu

Kenapa harus aku?

Kenapa rasa ini tak pergi
Bersama bayangmu?

Ah... Hatiku
Terlalu mencintaimu-
Masih terus mencintaimu

Walau kau tak menilihku



BULAN CADAS
by Petruk Gandrung Berjuang

Jika kita tak mengerti
Dan jika kita tak pernah mau mengerti
Dan cinta selalu dipertanyakan ?
Sepertinya aku berjalan diatas air
Sekiranya langkah ini berjejak diantara bara

Aku hanya seorang lelaki kecil
Yang terkadang letih
Yang tak punya apa-apa
Yang mencoba menggaris angan pada pelupuk mimpi
Lalu membenarkan dalam hening doaku

Berkali-kali patah
Berkali-kali jatuh
Hati ini!
Sungguh tak terkira
Dan aku sudah lupa



KASIH TAK SAMPAI
oleh Alva Atskiyatul Ihya Alfarizy

Untaian kekata itu
yang kita rakit bersama
di bawah rembulan 'tak bernyawa
terhempas jauh di gebuan kesejukan malam.

Kucoba mencari dan terus mencari
sepijak rindu yang tersimpan mesra
bersama buih kesyahduan ini
kubersimpuh berderai.

Ketika kerlipan bintang berkedip
ukirkan lekukan indah wajahnya
tak terasa, basahi pelipis pipiku
sebab teringat canda gurauan.



AKU (Tak) SEPERTI PINOKIO
oleh Alva Atskiyatul Ihya Alfarizy

Terukir cinta di kayu itu,
Tepat dalam dada, kau isikan kasih sayangmu
Membentang luas, penuh heharap

Hari merangkak
Bergulir penuh kisah
'Tika kau berikan cucuran keringatmu
Di setiap rautan asamu

Kutertatap lugu, di pangkuanmu
Melihat rinai tak tertuju
Basahi pipiku

Detakan itu, kan slalu teringat di qalbu
Walau kau tlah berbeda
Kasihmu masih terasa di kertas suciku

Haruskahku menunggu, sebiji keajaiban ?
Agar kau terbesit; 'tak membengkalaikanku

1 Response to 10 Aturan Membuat Puisi yang Tidak Banyak Diketahui

  1. Ah, Boleh tau admin ini siapa?
    Terima kasih karena telah memakai puisi saya untuk belajar (Tarsisius Ramto Idong). saya amat sangat senang dapat membantu

    BalasHapus

Wikipendidikan
Back To Top