Rabu, 22 Maret 2017

Gagal Jadi Guru, Wanita ini Malah Sukses Jadi Pengusaha Garmen Kelas Internasional


Cita-cita sebagai pendidik akhirnya kandas di tengah jalan. Kini, dia malah sukses berkutat di usaha. Mengelola bisnis garmen sampai tembus manca negara.

Ruangan kecil di ujung barat laut rumah di kawasan Perumahan Permata Indah, Jalan Pererepan nomor 44, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar tampak cukup sederhana. Hanya dilengkapi dua meja persegi panjang, alat pendingin, sebuah tempat meletakkan sesaji (pelangkiran) di ujung timur laut, serta lukisan kuda berlari penuh energik.

Di bawah lukisan kuda, wanita setengah baya mengenakan baju kaos berwarna merah muda dengan rambut sedikit acak-acakan, tampak duduk santai. Sesekali waktu kepalanya ditengadahkan melnikmati plafon rumah nan bersih.

Sejurus kemudian, dia keluar menuju tempat puluhan orang yang lagi sibuk menjahit, menyetrika baju kaos oblong sudah jadi. Wanita bernama lengkap Desak Putu Kriani itu terlihat berkeliling ruangan. Mengamati orang-orang yang suntuk menunaikan kewajiban. “Memantau karwayan bekerja, siapa tahu ada kesalahan atau ada yang perlu dipertanyakan,” pengusaha garmen bertubuh langsing itu beralasan. Ibu Desak, begitu putri pertama dari lima berkeluarga buah hati Dewa Putu Mergug dengan Jro Made Mundeh ini biasa disapa, saat ini lagi disibukkan mengurus garmen. Satu usaha yang dirintisnya kini berkembang cukup pesat. Tak hanya meladeni pesanan dalam negeri, tiada sedikit melayani permintaan pelanggan dari luar negeri seperti Jepang, Jerman, Perancis, dan negara Eropa lainnya.


Di sela-sela kesibukan mengurus usaha garmen yang bernaung di bawah payung PT Adhi Manggala Putra, wartawan SARAD I Wayan Sucipta, sempat bercengkerama terkait kisah awal terjun di bisnis garmen. Berikut ini hasil wawancaranya :

Sejak kecil Kriani memang berkeinginan menjadi guru. Maklum, dasa warsa 1980-an profesi guru begitu melekat di masyarakat, termasuk dalam diri Kriani. Maka, selepas Sekolah Menengah Pertama (SMP), Kriani langsung melamar ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Denpasar. Kini menjadi SMA 7 Denpasar.

Kriani membayangkan, pagi pergi ke sekolah berpakian bersih dan rapi, bertemu teman-teman seprofesi, kemudian mengajar anak-anak. Siang hari pulang. Sempat pula terbayangkan bisa membeli kendaraan.

Niat Desak Kriani menjadi “Pahlawan tanpa tanda jasa” begitu membara memang. Terbukti tamat dari SPG Negeri Denpasar tahun 1987, ibu empat putra ini memilih melanjutkan kuliah pada IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) swasta di bilangan Denpasar.

Karena orangtuanya tak sanggup membiayai, maka sambil kuliah dia mengajar di sekolah dasar (SD) swasta. Dari sinilah mencoba meraih cita-citanya menjadi seorang pendidik dengan mengetoktularkan ilmu yang didapatkan selama bersekolah di SPG.

Beberapa bulan berjalan, Kriani menikmati profesi sebagai pendidik. Hatinya teramat girang bisa mengajar, mempraktekkan sistem pembelajaran pada anak-anak di sekolah dasar. Pagi-pagi sudah
bangun, membersihkan diri, mengenakan busana atas bawah yang rapi kemudian berangkat ke sekolah.

Siang hari saat jam sekolah usai, dia kembali ke tempat kos. Sorenya pergi kuliah, hendak memperdalam ilmu menjadi guru.

Sayang, rasa riang itu lamat-lamat mulai terusik. Jiwa pengabdian menjadi guru mulai ada yang mengganjal. Bukan karena sistem mengajar, bukan pula akibat gangguan suasana sekitar sehingga Desak Kriani memilih berhenti dari profesi yang sempat dicita-citakansejak masih duduk di bangku SD.

Perhitungan kala itu murni soal keperluan hidup. Kriani masih kuliah dengan biaya sendiri. Termasuk membayar sewa rumah. Sedangkan pendapatan dari menjadi guru, lebih-lebih di swasta kala itu amat minim. Jangankan beli baju, bisa bayar kos-kosan saja sudah syukur.

Agar kuliah tak terbengkalai, apalagi sampai berhenti, maka Kriani memilih kerja di swasta dan itu bukan menjadi guru melainkan di satu perusahaan garmen.

Begitu terjun di kerjaan baru, malah kebingungan. Apalagi bertugas merekap data dan mengetik. Sedangkan kerja mengetik sama sekali belum pernah dilakoni. Akibatnya, tugas-tugas yang harus diselesaikan berjalan lamban. Itu sebab waktu awal-awal bekerja, bos sempat bilang rugi membayar karyawan kalau cara kerjanya seperti ini.

Cukup tersentak, dan Kriani bilang kalau begitu, nggak usah dibayar saja. Untungnya pemilik perusahaan cepat tanggap dan mengatakan maksud dari peringatan itu agar Kriani lebih giat belajar mengetik.

Desak Kriani menyadari kekurangan dalam diri, maka dia berupaya belajar lebih giat. Begitu lepas dari IKIP tahun 1993, ternyata tak lagi berkeinginan melamar jadi guru. Dia tetap memilih bekerja di perusahaan.

Selama rentang waktu 7 tahun dia sempat menjadi karyawan di berbagai perusahaan swasta. Pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dan, dalam kurun waktu itu pula berbagai jabatan pernah direngkuh, dari soal administrasi, menangani eksport, sampai tingkat manager produksi.

Tahun 2000, saat masih bekerja di kawasan Kuta, terbersit keinginan lain. Kriani berkeinginan punya kerja sampingan. Waktu itu tujuannya amat sederhana, sambil bekerja agar bisa mengurus anak-anak. Kriani pun berpikir tak mungkin bisa berlama-lama bekerja di perusahaan milik orang. Maka, dengan modal Rp 10 juta membeli mesin jahit.

Meskipun Kriani memang tak bisa menjahit, bahkan sampai sekarang. Saat awal membangun usaha juga merekrut empat orang tukang jarit. Itu semua memang tiada lepas dari pengaruh yang Kriani dapatkan selama bekerja.

Sebelum membuka usaha sendiri, Kriani pernah bekerja pada beberapa perusahaan swasta di bilangan Denpasar dan Kuta. Kebetulan tempat itu dominan bergerak di usaha garmen.

Pagi bekerja, sore sepulang kantor keliling mencari pesanan. Berbagai tempat ditelusuri mencari orang-orang yang mau memanfaatkan jasa menjahit. Termasuk bilang pada pemimpin perusahaan tempat bekerja, jika Kriani sekarang memiliki tukang jarit yang siap mengerjakan baju kaos pesanan perusahaan.

Beruntung bos tempat bekerja baik hati dan terus mendorong untuk maju, termasuk memberikan orderan. Karena telah dipercaya, Kriani pun berupaya memberikan pelayanan terbaik lewat menunjukkan hasil kerja yang maksimal.

Pasca memiliki usaha sampingan, istri dari Gede Putu ini terus memacu semangat kerja. Menjalin komunikasi dengan banyak orang agar bisa. Sifat kerja keras yang tertanam sejak kecil tentu tak terlalu menyulitkan Desak Kriani dalam melakukan tugas-tugasnya. Setiap peluang ditangkap sebaik mungkin, kemudian dicerna secara maksimal. Menginjak tahun ke tiga (2003), nyaris tanpa kendala.

Kriani terus berupaya membesarkan perusahaan. Selain mencari pesanan, tiap kali dapat untung, modalnya dialihkan untuk menambah mesin sehingga mempermudah bekerja. Urusan di rumah tangga, sepenuhnya diserahkan ke suami yang kebetulan juga bekerja.

Jiwa mendidik itu tetap menjadi pegangan agar para karyawan betah dan nyaman bekerja. Sekalipun gagal menjadi guru secara formal, ilmu itu coba Kriani terapkan di perusahaan.

Mereka Kriani arahkan secara baik, benar, dan teliti. Konsep kerja hati-hati dan ketelitian itu amatlah penting. Lebih-lebih diperuntukkan bagi orang luar. Sedikit saja ada yang kurang memuaskan, customer akan protes. Itu sebab ketika ada kegiatan packing, menjarit, menyetrika, Kriani tetap memantau sepenuhnya.

Tetap menumbuhkembangkan komunikasi. Semua di sini adalah keluarga besar, maka komunikasi itu harus nyambung. Bila ada kendala mesti diperbincangkan sehingga bisa diselesaikan dengan baik. Mungkin karena Kriani terlahir dari keluarga kurang mampu, maka Kriani tak tahan melihat penderitaan orang. Termasuk karyawan.

Sedapat mungkin kewajiban untuk karyawan diutamakan. Bila melihat ada yang perlu mesin atau kendaraan, sedapat mungkin dilayani. Untuk pembayaran mereka bisa mencicil lewat perusahaan.

Mengelola perusahaan agar tetap maju itu penting dilakukan. Tapi bagi Kriani, lebih penting masalah keluarga. Sesibuk apapun Kriani selalu menyempatkan diri bercengkerama dengan anak-anak dan suami.

Kedekatan itu amat penting dilakukan sehingga keluarga tak mudah terpecah. Kriani juga sering melibatkan anak-anak dalam perusahaan. Misalkan ada pengepakkan barang, mereka Kriani ajarkan dan langsung dipraktekkan. Cara-cara seperti ini disamping untuk menjalin rasa keakraban, sekaligus mengajarkan anak-anak agar nanti hidup mandiri.

Kriani tergolong sukses menjalankan usaha garmen. Wanita kelahiran Pejeng 40 tahun silam Desak Putu Kriani lahir di Banjar Intaran, Desa pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, 5 Pebruari 1969—tetap tampil sederhana. Tiada kemewahan yang tampak dalam dirinya. Sifat itu muncul tentu tak lepas dari kebiasaan yang tertanam dan melekat dalam diri sedari kecil.

Berasal dari lingkungan keluarga tergolong berpendapatan rendah, menyebabkan dia mesti hidup serba dalam keterbatasan. Kesederhanaan, tampil bersahaja dan seadanya seakan menjadi kartu as dalam hidupnya.

Beberapa tahun lalu sempat mencoba mencari PNS, begitu sampai pada detik-detik terakhir akan dapat, ada saja kendala menghadang yang pada akhirnya membuahkan kegagalan. Dan, Kriani meyakini apapun yang dikerjakan asal dilandasi kemauan, kerja keras, dan berasal dari lubuk hati paling dalam, pasti bisa meraih sukses.

0 Komentar Gagal Jadi Guru, Wanita ini Malah Sukses Jadi Pengusaha Garmen Kelas Internasional

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top