Rabu, 22 Maret 2017

Waspadalah! Pelaku Pedofilia Ada di mana-mana

Secara sederhana pedofilia adalah gangguan jiwa yang dialami orang dewasa (umur 16 tahun atau lebih) terkait kepentingan seksual pada anak-anak dibawah umur atau prapuber umur 13 tahun atau di bawahnya.

Beberapa hari ini kita menyaksikan peristiwa miris tentang kasus pedofilia yang menyerang anak-anak Indonesia. Ini melengkapi kekerasan seksual yang sebelumnya juga marak terjadi di sekitar kita. Pertanyaannya bukan WHY lagi karena sudah ada Komnas HAM dan KPAI yang punya otoritas mencari tahu. Tapi WHAT, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua agar anak-anak kita, buah hati kita, penerus masa depan kita bisa terhindarkan dari maraknya pedofilia ini.

Jika bicara kasus kekerasan seksual terhadap anak, maka pelakunya biasanya melakukan tindak pemaksaan terhadap korban. Berbeda dengan kasus pedofilia dilakukan tanpa kekerasan. Maka anak tidak menunjukkan tanda-tanda yang cukup kasat mata bahwa mereka korban pelecehan seksual.

Melihat posting-an di grup media sosial "Official Candy's Group" yang beberapa waktu lalu jadi viral, terlihat begitu banyak trik halus digunakan para pedofil untuk menjebak korban. Antara lain, ada yang menggunakan hewan-hewan peliharaan lucu seperti kucing dan hamster untuk menarik perhatian anak-anak, juga dengan memberikan makanan seperti permen, bahkan ada yang menggunakan trik sulap untuk membuat anak menyukai mereka tanpa harus dipaksa. Setidaknya ada 500 video, dan 100 gambar yang berhasil di temukan oleh pihak kepolisian yang di unggah dalam Fanpage tersebut.

Shutterstock
Namun di luar itu semua, mengapa anak tidak merasa terganggu dengan perlakuan para pedofil terhadap mereka. Bahkan bisa ada anak yang sudah jadi korban sejak usia balita dan nyaman-nyaman saja untuk terus berlanjut hingga mereka besar.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi menjelaskan motivasi para pedofil (pelaku pedofilia), selain kebutuhan biologis juga faktor keuntungan ekonomi yang menggiurkan. "Itu di-upload sebar, satu kali 15 dollar AS. Bayangkan berapa keuntungan ekonomi kalau beratus-ratus kali upload-nya dan ini ada jaringan internationalnya.

Manusia terkadang menyimpan kekejian tak berperi. Kekejaman yang nyaris tanpa batas. Semua pembicaraan tentang budi pekerti, etika, dan religiusitas menjadi terasa hambar akibat semua itu.

Bahwa satu hal yang sama di antara para korban predator seksual itu. Kejahatan tidak pernah pandang tempat dan siapa. Bahkan orang terhormat dan terdekat pun bisa menjadi pelakunya.

Kejahatan seksual bukan hanya soal vagina yang di paksa menerima masuknya penis. Tetapi ada teror psikologis luar biasa bagi si korban. Maka tak jarang korban memilih diam sendiri memendam pedih.

Terkadang ada satu titik dimana korban tak kuat menanggungnya, ia lebih memilih kematian. Pada kasus lain setelah berulang kalinya pencabulan terkadang terjadi penyimpangan. Korban anak mengalami " sex addicted". Walau yang terbanyak mereka membenci kaum pria.

Lingkunganpun memberi teror tersendiri bagi korban. Stigma sebagai yang ternoda setelah diperkosa membuat cibiran, pandangan sinis adalah siksaan kedua bagi korban. Mereka butuh kawan, kesepian dalam duka tak berperi. Kehormatan bukan pada v4gina yang dipaksa, kehormatan adalah sikap. Dan mereka korban tak pernah memilih menjadi korban. Kehormatan adalah perilaku. Dan korban adalah korban dari perilaku mereka yang tak punya kehormatan.

Mengingat maraknya kasus Pedofilia. Mengingatkan kita akan matinya harapan dan mimpi. Apa yang di lakukan oleh admin dan member Fanpage 'Official Loli Candys Group' hanyalah puncak dari gunung es dari kejahatan kemanusiaan yang ada di depan mata kita. Jutaan korban Pedofilia lain menunggu kita untuk ikut peduli menjaga, melindungi, dan menyalakan lilin harapan bagi anak dan korban pedofilia lain. Kitalah penjaga terang itu.

Oleh karena itu, bagi orangtua ada 3 hal utama yang bisa segera dilakukan agar anak-anak kita terhindar dari para pedofil. Pertama, sebelum 17 tahun anak dilarang bawa gadjet. Kedua, lindungi anak dengan care dengan kebiasan dan siapa teman- temannya. Ketiga, ajak anak bicara, berkomunikasi dan bermain sehingga kita orangtua tahu apa yang dipikirkan, dirasakan dan diharapkan. Jangan ada lagi alasan sibuk yang membuat anak-anak kita jadi korban berikutnya. Mari sayangi dan lindungi anak-anak kita.

Tulisan dari: Awan Kurniawan dan Abdul Muid Badrun

0 Komentar Waspadalah! Pelaku Pedofilia Ada di mana-mana

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top