Sabtu, 18 Maret 2017

Nilai Estetika Kakawin Sutasoma Mpu Tantular

Sejak dahulu naratif atau cerita Sutasoma tergolong sangat penting, terkemuka, dan populer di kalangan masyarakat Jawa sehingga cerita Sutasoma digubah dalam rupa (lukis dan relief candi, misalnya), seni pertunjukan, dan susastra (baik puisi maupun prosa). Penggubah cerita Sutasoma ke dalam bentuk puisi Jawa Kuno yang sangat terkemuka dan terabadikan di dalam ingatan kita adalah Mpu Tantular.

Sebagaimana kita ketahui, Mpu Tantular adalah seorang kawi-kawya (penyair) yang telah menggubah Kakawin Sutasoma pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Selain kakawin-kakawin penting lainnya, Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular merupakan salah satu karya sastra Jawa Kuno yang amat penting, ternama, dan populer dalam khazanah sastra Jawa, bahkan dalam bingkai bangsa Indonesia karena mengandung keunikan-keunikan yang memperkaya khazanah praksis sastra Jawa Kuno sekaligus mampu menginspirasi berbagai pihak termasuk menginspirasi bangsa Indonesia.


Pada dasarnya Kakawin Sutasoma merupakan puisi didaktis, yaitu puisi yang mengedepankan fungsi mendidik meskipun tidak meninggalkan fungsi memberi keindahan. Seturut dalil lama tentang fungsi dasar susastra, dapat dikatakan bahwa Kakawin Sutasoma menampilkan fungsi dulce et utile, menghibur dan mendidik, secara serempak (simultan). Kendati fungsi mendidik tampak sekali dikedepankan dalam Kakawin Sutasoma, namun fungsi menghibur dalam arti memberi keindahan juga tampak kuat di dalamnya, tanpa harus terjatuh menjadi kitab moral atau kitab kotbah.

Dapat dikatakan di sini bahwa Kakawin Sutasoma berhasil menyeimbangkan atau memadukan secara selaras-setimbang fungsi mendidik dan memberi keindahan. Dinyatakan oleh Zoetmulder, “Perpaduan antara permenungan metafisiknya yang mendalam, yang terutama didapati dalam ajaran Sutasoma kepada murid-muridnya serta pelukisan naratif yang beraneka warna tentang manifestasi Budha di dunia dan usahanya untuk menyelamatkan dunia, tak pernah kehilangan daya tariknya” (Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, 1985:437).

Dalam istilah sekarang bisa dinyatakan bahwa Kakawin Sutasoma memadukan dengan bagus anasir edukatif sekaligus anasir naratif-puitis. Kita bisa bertanya: anasir edukasi apakah yang ditampilkan dalam Kakawin Sutasoma?; anasir naratif-puitis apakah yang membangun atau membentuk Kakawin Sutasoma? Bilamana kita baca secara menyeluruh dan utuh Kakawin Sutasoma, niscaya kita dapat bersepakat atau minimal sepaham dengan Zoetmulder yang menyatakan bahwa ...”Sutasoma merupakan kisah Buddhis dan oleh karena itu sungguh unik dalam sastra kakawin epis dari aman Jawa” (1985:434); “...kakawin ini ... menambah pengetahuan kita tentang ide-ide religiositas pada zaman itu khususnya mengenai bentuk Buddhisme Mahayana seperti berlaku di keraton Majapahit beserta hubungannya dengan Siwaisme...” (1985:435).

Masuk akal bila ditegaskan di sini bahwa Kakawin Sutasoma merupakan perwujudan (manifestasi atau representasi) estetika yang dapat disebut sebagai estetika keterpaduan-keseimbangan-keselarasan, bukanlah estetika keterpisahan-kenjomplangan-ketakserasian (atau bisa disebut estetika fragmentatif-asimetris-pertentangan). Tak heran, Kakawin Sutasoma berusaha memadukan-menyeimbangkan-menyelaraskan fungsi edukasi religius (spiritual-filosofis-etis) Buddhisme-Siwaisme dengan fungsi estetis-puitis kakawin. Dari sinilah kita bisa melihat keterpaduan timbal-balik dimensi spiritual, filosofis, etis, dan estetis-puitis dalam Kakawin Sutasoma, bahkan tampak dimensi estetis-puitis justru diabdikan pada dimensi spiritual, filosofis, dan etis.

Di situ norma-norma estetis-puitis kakawin disetimbangkan dan diserasikan dengan norma-norma spiritual, filosofis, dan etis kakawin sehingga teks Kakawin Sutasoma, seperti halnya kakawin-kakawin lainnya, tidak otonom. Berbeda dengan estetika –puitika sastra modern pada umumnya yang menuntut licientia poetica, yaitu pelanggaran bahasa demi puitika, Kakawin Sutasoma tidak mengandung licientia poetica. Penyair atau kawi harus tunduk sepenuhnya kepada kakawin yang digubahnya sebagai manifestasi spriritualitas-filosofi-etika Buddhisme-Siwaisme, bukan menampilkan diri (persona) secara otonom.

Berkenaan dengan itu, kita bisa menduga bahwa Mpu Tantular bukan nama sebenarnya penggubah Kakawin Sutasoma, melainkan hanya sebutan atau nama alias belaka. Kita tidak mengetahui siapa sebenarnya Mpu Tantular, kita hanya mengetahui bahwa ada (eksis) Kakawin Sutasoma. Di samping itu, Mpu Tantular niscaya seorang yogi, orang yang sudah menjalani laku rohani atau yoga dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, persona penggubah kakawin menyatukan diri, menghilangkan diri, melindapkan diri, atau bahkan mungkin menyirnakan diri di dalam kakawin.

Mengapa demikian? Kata Zoetmulder, “Dalam visi puisi Jawa Kuno bagi penyair atau kawi, puisilah yang menjadi sarana untuk mencapai tujuan terakhir: puisi adalah agamanya, Sang Dewa yang ingin ditemukannya menjelma selaku Dewa Keindahan, dan Keindahan (Kalangwan, dalam bahasa Jawa Kuno) menjadi tarekat, jalan untuk mencapai tujuan tersebut.... Bagi penyair persatuan dengan Dewa Keindahan sekaligus menjadi sarana dan sasaran: sarana untuk mencipta karya yang indah, kakawinnya...dan sasaran sebab dengan praktik terus-menerus dia akan mencapai moksa, kelepasan akhir dalam persatuan itu”. Persona sang penyair atau kawi yang menggunakan nama Mpu Tantular sudah menyirnakan diri atau menyatukan diri dengan Kakawin Sutasoma; kita hanya mengetahui sebutan Mpu Tantular, bukan orangnya. Kini kita berhadapan dengan Kakawin Sutasoma semata sebagai manifestasi atau representasi Keindahan Tuhan.

Penulis: Prof. Djoko Saryono

0 Komentar Nilai Estetika Kakawin Sutasoma Mpu Tantular

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top