Selasa, 07 Maret 2017

Ilmu Tanpa Amal Ibarat Debu Beterbangan Diterpa Angin Kencang

Dalam ranah pendidikan islam, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Setiap orang yang berilmu memiliki kode etik berupa kewajiban mengamalkan ilmunya. Sebab dalam konteks pendidikan islam, yang paling ditekankan dari ilmu pengetahuan adalah dimensi aksiologisnya, yaitu nilai atau kemanfaatannya secara praktis melalui tindakan-tindakan lahir yang dapat dilihat dengan mata lahiriah. Pendek kata, kewajiban mengamalkan ilmu merupakan salah satu prinsip utama dalam pendidikan islam.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’nya mengatakan bahwa “seorang guru berkewajiban mengamalkan ilmunya. Guru harus menyelaraskan antara ucapan dan perbuatannya. Sebab kecenderungan manusia menilai sesuatu dengan mata lahirnya, maka ilmu seseorang harus dimanifestasikan ke dalam amal/perilaku lahir. Sedangkan jika perilaku seorang guru kontradiktif dengan ilmu yang dia ajarkan, maka berarti guru tersebut telah mengabaikan kode etik guru yang menyampaikan kebenaran terhadap orang lain.”


Dalam salah satu bait Syi’ir tanpo waton Gus Dur, ada kalimat “mung pinter dongeng, nulis, lan moco”, yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Cuma pandai mendongeng, menulis, dan membaca”. Bait di atas kiranya relevan untuk menggambarkan seseorang, terutama guru, yang tidak mengamalkan ilmunya. Sejalan dengan pernyataan Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal walad “sekiranya ilmu dibaca sampai seratus tahun dan ditulis hingga seribu jilid kitab, maka ilmu tersebut tidak akan menjadi wasilah dalam mendapatkan rahmat Allah tanpa disertai dengan pengamalan.”

Dengan demikian, sesuai dengan prinsip pendidikan islam, seorang guru tidak berkewajiban mengajarkan ilmu kepada orang lain sedangkan ia sendiri tidak mengamalkannya. Senada dengan apa yang tertuang dalam kitab suci al-Quran, bahwa manusia barangsiapa yang mengharapkan bisa bertemu dengan Allah, hendaknya dia beramal shaleh dalam bentuk usaha berupa tindakan-tindakan yang merupakan pengamalan konkrit dari ilmu.

Imam Al-Ghazali mewanti-wanti para guru, agar tidak hanya pandai mengajar dan mengingatkan orang lain sementara ia melupakan dirinya sendiri dengan tidak mengamalkan terlebih dahulu apa yang diajarkan dan dinasehatkannya. Sebab hal yang demikian akan menimbulkan bencana besar bagi si guru, baik bencana di dunia maupun di akhirat.

0 Komentar Ilmu Tanpa Amal Ibarat Debu Beterbangan Diterpa Angin Kencang

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top