Selasa, 07 Maret 2017

Hanoman Muncul di Surabaya dan Ajari Warga Baca-Tulis

Di tengah zaman semaju dan secanggih seperti saat ini, ternyata masih ada warga negara bangsa ini yang buta huruf. Ironis tentunya, ketika budaya literasi di negara-negara lain sudah sangat tinggi, bangsa kita masih menyisakan masyarakat yang buta huruf alias tidak literat. Kenyataan ini mendorong sebagian insan pendidik untuk mengentaskan warga yang masih buta huruf dengan menjadi relawan dengan mengajarkan baca tulis kepada mereka. itulah yang dilakukan oleh Harris Rizki Akhiruddin, 34 tahun, seorang guru honorer di SDN Bubutan IV Surabaya dan lulusan Fakultas Pendidikan, jurusan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Seperti yang diberitakan harian kompas edisi 24 Januari 2017, sebagai upaya membangun budaya literasi dan pemberantasan buta huruf demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik, Harris dan 12 pejuang literasi lainnya yang beranggotakan pegawai dan mahasiswa, secara rutin sebulan sekali berkunjung ke berbagai kawasan di Surabaya dalam rangka mendidik warga yang masih buta huruf dengan memberikan pelajaran dasar baca tulis.

Foto: Kompas TV
Strategi pembelajaran yang ia gunakan pun bisa dibilang unik dan kreatif. Ia mengenakan kostum Hanoman dengan wajah yang dipoles putih untuk menarik minat warga buta huruf agar mereka termotivasi untuk membaca dan menulis. Di samping itu, strategi mengajar itu ia gunakan agar warga tidak merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya buta huruf.

Terbukti cara Harris tersebut mampu mendorong minat dan semangat warga untuk mengikuti kegiatan belajar literasi. Konsep belajar mengajar yang ia tawarkan mampu meningkatkan motivasi warga untuk belajar baca tulis meski usia tak lagi muda. Selain memakai kostum Hanoman, metode pengajaran literasi yang ia gunakan yakni dengan mendongengkan sesuatu yang menyenangkan agar warga tidak bosan mengikuti proses belajar mengajar.

Apa yang dilakukan haris sedikit demi sedikit telah mampu membangun pola pikir warga buta huruf ke arah yang lebih konstruktif. Banyak warga buta huruf yang mengikuti pembelajaran baca tulis miliknya, kemudian sadar bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar baca tulis. Usia lanjut bukan alasan untuk malu belajar, meski materi pelajarannya sama dengan yang diajarkan kepada anak kelas satu SD.

Kreatifitas Harris sebagai pengajar, yang menghadirkan dirinya sebagai sosok Hanoman terbukti mampu menghapus rasa malu dan minder dalam hati para warga buta huruf yang notabene tidak pernah mengenyam pendidikan, sehingga mereka menjadi tergerak untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan saking semangatnya, mereka bercita-cita akan mengajarkan ilmu yang diperolehnya kepada orang lain.

Ini sekaligus merupakan kritik tehadap pemerintah, terutama kementerian pendidikan dan kebudayaan, yang harus bekerja lebih ekstra lagi membangun budaya literasi secara merata dan menyeluruh mulai dari Sabang sampai Merauke. Usaha pemberantasan tuna aksara harus terus dilakukan, sebab tuna aksara merupakan faktor fundamental yang menghambat pembangunan dalam semua bidang kehidupan.

Niat mulia yang dimiliki Harris pun akhirnya berbuah manis. Buku menjadi teman bermain anak-anak kampung. Berbekal cita-cita mulia yang terus membara untuk menghadirkan dunia kepada warga buta huruf dengan cara mudah, membaca. Ingin melihat video bagaimana sang Hanoman mengajari warga butah huruf? Bisa mengunjungi tautan berikut ini.

Saya berharap, akan lebih banyak lagi tunas-tunas bangsa yang tumbuh dengan semangat jiwa literasi yang mau bergerak memberantas buta huruf dengan ide-ide kreatifnya seperti Harris. Karena buta huruf merupakan faktor penghambat kemajuan peradaban masyarakat dan bangsa, maka budaya literasi berupa kemampuan berfikir secara kritis yang disertai kebiasaan membaca dan menulis yang baik adalah kunci kemajuan sebuah bangsa dan masyarakat kit.

0 Komentar Hanoman Muncul di Surabaya dan Ajari Warga Baca-Tulis

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top