Jumat, 17 Maret 2017

Etnopuitika Naratif

Sebuah eskpresi kesenian bisa tampak beraneka wajah bila diteropong dengan bermacam-macam lensa pandang. Misalnya, bilamana diteropong dengan lensa pandang beraneka macam kesenian Makyong (Lampung), Madihin (Banjar), Pakacaping (Makassar), dan Ludruk (Jawa Timur) jelas dapat menampilkan bermacam-macam wajah. Demikian juga dengan Jidor Sentulan dari Kabupaten Jombang, sebuah kota kabupaten yang memantulkan interkulturalisme, bahkan transkulturalisme yang menarik. Kesenian tradisi(onal) yang konon dibawa ke Dusun Sentul atau Desa Bongkot Jombang oleh prajurit Diponegoro saat pasukan Pangeran Dipenegoro diabrak-abrik pasukan Belanda dalam Perang Jawa ini bisa tumbuh, berkembang, dan bahkan bertahan di daerah Jombang tersebut dapat menampakkan berbagai paras bilamana dipandang dengan berbagai lensa pandang.

Jika Makyong, Madihin, Pakacaping, Ludruk, dan juga Jidor Sentulan diteropong dengan lensa pandang linguistik terutama fungsi bahasa sastrawi atau stilistika akan tampak wajah puitika atau naratifnya. Jika berbagai kesenian tradisi tersebut dipandang dengan lensa seni pertunjukan bakal terlihat sastra pentas lokalnya (verbal art). Kemudian bila disawang dengan lensa antropologi budaya dan atau foklor akan tertangkap sisi-sisi budaya lokal-kerakyatan yang terpancar atau terkandung dalam Makyong, Madihin, Pakacaping, Ludruk, dan Jidor Sentulan. Lebih lanjut, bila secara bersamaan (baca: multidisipliner) atau bersenyawa (baca: transdisipliner) lensa pandang linguistik (stilistika), sastra pentas, folklor, dan antropologi budaya digunakan untuk memandang wajah berbagai kesenian tersebut, maka akan terlihat jelas matra-matra terdalam budaya lokal-kerakyatan yang terpantul dari pelbagai kesenian yamg dipentaskan di hadapan khalayak secara puitis-naratif. Lensa pandang multidisipliner atau transdisipliner (baca: linguistik, sastra pentas, dan antropologi budaya) tersebut lazim disebut etnopuitika. Jadi, etnopuitika merupakan bidang multidisipliner atau malah transdisipliner yang melihat dan menjaring matra-matra terdalam budaya lokal-kerakyatan yang terbentuk atau terhadirkan di dalam khazanah sastra lokal yang dipentaskan kan di hadapan khalayak umum.

Ludruk via kidnesia.com
Dengan lensa pandang etnopuitika yang bercorak multidisipliner atau malah transdisipliner, kita bisa melihat dan menjaring keunikan dan kekhususan ekspresi-ekspresi budaya lokal-kerakyatan di dalam berbagai khazanah sastra lokal yang dipentaskan yang selanjutnya bermuara pada ketransversalan dan keumuman ekspresi budaya. Misalnya, dengan lensa pandang etnopuitika kita bisa mendedah dan menyibak pola-pola dan kecenderungan keindahan yang terdapat di dalam Madihin yang secara turun-temurun dipentaskan di berbagai ruang dan waktu sehingga dapat terkuak nilai-nilai budaya kerakyatan atau pengetahuan lokal Banjar. Demikian juga dengan teropong etnopuitika kita bisa menyisir dan menyibak rona-rona budaya Arek dan Mataram-an yang terlebur atau terbungkus di dalam artistika dan puitika naratif Ludruk yang secara tradisional dipentaskan di berbagai ruang dan waktu.

Hal itu menandakan bahwa etnopuitika melampaui atau mengatasi dikotomi persoalan klasik sastra versus bukan sastra; unsur intrinsik versus ekstrinsik sastra; matra formal versus substansi sastra; dan urusan sastra versus budaya. Dengan demikian, etnopuitika hendak menyorongkan serat-serat budaya yang disorotkan oleh keindahan dan keelokan sastra yang dipentaskan di tengah-tengah komunitas masyarakat. Oleh sebab itu, dikatakan dalam Wikipedia bahwa “Ethnopoetics is considered a subfield of ethnology, anthropology, folkloristics, stylistics, linguistics, and literature and translation studies”. Lebih lanjut, dalam Wikipedia disebutkan bahwa “Ethnopoetics is a method of recording text versions of oral poetry or narrative performances (i.e. verbal lore) that uses poetic lines, verses, and stanzas (instead of prose paragraphs) to capture the formal, poetic performance elements which would otherwise be lost in the written texts. The goal of any ethnopoetic text is to show how the techniques of unique oral performers enhance the aesthetic value of their performances within their specific cultural contexts”

Tatkala memakai lensa pandang etnopuitika untuk memandang Jidor Sentulan Jombang, kita niscaya melihat dan menjaring serat-serat budaya lokal-kerakyatan yang disorotkan oleh keindahan dan keelokan pentas Jidor Sentulan yang sudah beratus tahun tumbuh dan berkembang di Kabupaten Jombang. Setidak-tidaknya kita bisa mendulang tiga hal tatkala mengarahkan lensa etnopuitika kepada tradisi Jidor Sentulan Jombang.

Pertama, kita bakal menemukan puitika naratif atau pola-pola naratif yang puitis dari Jidor Sentulan yang dipentaskan di hadapan khalayak ramai. Kedua, kita bakal mendapatkan gambaran sendi-sendi repertoar sastra pentas Jidor Sentulan dalam konteks masyarakat dan budaya Jombang. Ketiga, kita nisca mendapatkan gambaran penyerbukan dan persilangan budaya Islam, Jawa Arek, dan unsur budaya lain di dalam puitika naratif Jidor Sentulan. Pendek kata, bila kita melacak Jidor Sentulan dengan lensa pandang etnopuitika, kita akan bisa menguak rona-rona budaya Islam-Jawa yang terbungkus keindahan dan keelokan naratif Jidor Sentulan. Rona-rona budaya Islam-Jawa seperti apakah yang terpancar dalam naratif dan estetik Jidor Sentulan? Kita perlu menelaah dengan etnopuitika, bahkan melestarikan Jidor Sentulan sebagai kearifan lokal yang berjajaring universal.

Penulis: Prof. Djoko Saryono

0 Komentar Etnopuitika Naratif

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top