Dalam Setiap Kesuksesan yang Kita Raih, Ada Peran Orang Tua Kita di dalamnya

Kelahiran kita ke dunia yang fana ini memang takdir Tuhan yang terjadi tanpa kita minta. Kita tak bisa memilih dari rahim wanita mana kita dilahirkan, di mana tempat kelahiran kita, siapa dan seperti apa keadaan orang tua kita. Terlepas dari itu semua, ketika kita telah terlahir ke dunia, sebagai anak, ada konsekuensi-konsekuensi tertentu yang tak dapat kita hindari. Kita terlahir di sebuah keluarga dan memiliki orang tua. Sebagai seorang anak, kita memiliki kewajiban moril untuk berbakti kepada orang tua yang telah melahirkan kita. Di antara kewajiban itu adalah berusaha berbakti dan membahagiakan mereka.

Mengapa saat ini banyak anak yang menyusahkan orangtua yang telah melahirkannya dengan susah payah? Alih-alih berusaha membuat orang tua bahagia karenanya, yang ada malah perlawanan yang membuat orang tua jengkel dan sedih. Kalau kondisinya sudah seperti itu, siapa yang salah? Anak atau orang tua?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas harus proporsional (tidak berat sebelah). Bila dalam konsep islam, seorang anak terlahir secara fitrah (suci), maka kesalahan pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak merupakan salah satu faktor utama yang membuat anak cenderung melawan orang tua, di samping faktor lain seperti pergaulannya dengan dunia luar. Di sisi lain, sudah semestinya seorang anak memiliki naluri untuk membahagiakan kedua orang tuanya, atau minimal tidak menambah beban kesedihannya.


Anak merupakan amanah dan bentuk karunia Allah yang sangat berharga. Di dalam dirinya, terdapat berbagai macam potensi yang memerlukan aktualisasi. Dalam hal ini, orang tua merupakan orang dewasa pertama yang berperan menyeimbangkan, mengarahkan, dan mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. Dalam konteks ini, orang tua memiliki tanggungjawab berupak kewajiban mendidik anak dengan cara yang adil dan bijaksana.

Ironis memang, ketika masih banyak orang tua yang berlaku semena-mena kepada anaknya. Dalam arti mereka tidak berlaku adil dan bijaksana dalam mendidik anak-anak mereka. Padahal dalam islam, berlaku adil kepada anak merupakan kewajiban orang tua. Orang tua yang baik adalah orang tua yang dapat berlaku adil terhadap anak-anaknya, tidak hanya adil dalam jumlah pemberian, tapi juga adil dalam perlakuan, sikap, kasih sayang, dan lain sebagainya.

Masih banyak orang tua yang memperlakukan anaknya secara tidak baik, padahal seharusnya orang tua memperlakukan anak sebaik mungkin, utamanya seorang ibu, agar mereka merasa disayangi, diperhatikan, dan dipedulikan. Meskipun terkadang orang tua perlu marah ketika si anak bersalah, tapi apabila dilakukan dengan cara yang baik dan benar, maka si anak akan tetap merasa disayangi dan sadar diri bahwa dia memang pantas dimarahi demi kebaikannya.

Cara orang tua mendidik anak, akan menentukan kebahagiaan mereka (orang tua) sendiri di masa depan, itulah kuncinya. Bila pendidikan yang salah dari orang tua berakibat fatal terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, maka pendidikan yang baik dan benar adalah kunci orang tua dalam menciptakan anak-anak sebagai generasi yang bermanfaat dan membawa kebahagiaan bagi orang tua.

Sebagai anak, kita harus sadar, bahwa msekipun kita tidak pernah meminta kepada orang tua untuk melahirkan kita ke dunia yang penuh masalah ini, namun nyatanya mereka bertanggung jawab penuh atas kelahiran kita. Sejak lahir hingga dewasa, mereka mencurahkan dan mengorbankan semua yang mereka miliki untuk kebaikan kita. Andai saja semua itu merupakan sebuah utang budi, sungguh tak akan mampu kita membalas cinta, kasih sayang, dan pengorbanan mereka.

Membahagiakan dan berbakti kepada kedua orang tua sudah semestinya menjadi salah satu impian terbesar kita sebagai anak. Apabila saat ini, impian tersebut belum tumbuh dalam diri kita, dengan semakin bertambahnya kedewasaan kita, lambat laun kita akan menyadari betapa beharga dan pentingya mereka dalam hidup kita. Banyaknya pengorbanan yang mereka lakukan demi kita, dan pentingnya waktu kebersamaan kita bersama mereka.

Semakin kita bertambah dewasa dan mandiri, kita akan semakin sibuk dengan urusan-urusan kita sendiri, baik itu urusan sekolah, kuliah, pekerjaan, sampai keluarga. Pikiran dan tenaga kita akan tercurahkan pada hal-hal yang menurut kita penting bagi diri kita sendiri. Sehingga tanpa kita sadari, kesibukan-kesibukan itu telah menggeser ingatan dan perhatian kita kepada orang tua. Lupa bahwa usia mereka semakin lanjut dengan kondisi fisik yang kian melemah.

Jangan egois!!! Apa yang bisa kita capai saat ini, bukan semata-mata dari hasil usaha kita sendiri. Namun dibalik itu, ada peran dan pengorbanan orang tua kita yang amat besar hingga kita bisa mencapai banyak tujuan dalam hidup ini. Dalam setiap kesuksesan dan keberhasilan yang kita raih, ada peran orang tua kita di dalamnya. Mereka tak pernah putus mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk kita. Tak kan ada kesuksesan yang bisa kita raih tanpa adanya rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang tua.

Kita selalu punya pilihan dan alasan untuk membahagiakan kedua orang tua kita dan memberikan yang terbaik untuk keduanya. Kebahagiaan mereka tidak hanya diukur dengan banyaknya materi atau uang yang kita berikan. Kebahagiaan mereka sebenarnya sangatlah sederhana. Ketika melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang dewasa dengan baik, anak-anaknya hidup bahagia, merupakan kebahagiaan bagi orang tua. Apalagi ketika anak mau perhatian dan berbagi kebahagiaan dengan mereka.

0 Komentar Dalam Setiap Kesuksesan yang Kita Raih, Ada Peran Orang Tua Kita di dalamnya

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top