Jumat, 17 Februari 2017

Studi Pemikiran Islam Muhammad Arkoun

Biografi Muhammad Arkoun

Mumammad Arkoun
Dunia Islam modern banyak diwarnai oleh corak pemikiran dari tokoh-tokoh modernis yang mencoba menawarkan beragam episteme baru dalam memahami ajaran Islam. Salah satunya yang akan dibahas pada tulisan ini adalah Muhammad Arkoun, dengan Kritik Nalar Islam yang ditawarkannya.

Muhammad Arkoun adalah seorang pemikir terkenal di hadapan intelektual yang concern dengan pemikiran dan kajian tradisi dunia Arab. Ia lahir pada tanggal 2 januari 1928 dari keluarga biasa di perkampungan Berber yang berada di sebuah desa kaki gunung Taoriri Mimoun, Kabilia, sebelah timur Aljir, Aljazair. Keluarganya berada pada strata fisik dan social yang rendah (ibunya buta huruf) dengan bahasa Kabilia Berber sebagai bahasa ibu dan bahasa Arab sebagai bahasa nasional Aljazair.

Riwayat Pendidikan Muhammad Arkoun

Pendidikan dasarnya ditempuh di desa asalnya, dan kemudian melanjutkan sekolah menengah di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat, yang jauh dari Kabilia. Kemudian, Arkoun melanjutkan ke studi bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir (1950-1954), sambil mengajar bahasa Arab pada sekolah menengah atas di al-Harach, yang berlokasi di daerah pinggiran ibukota Aljazair.

Pada saaat perang kemerdekaan Aljazair dari Perancis (1954-1962), Arkoun melanjutkan studi tentang bahasa dan sastra Arab di universitas Sourbonne, Paris. Ketika itu, dia sempat bekerja sebagai agrege bahasa dan kesusastraan Arab di Paris serta mengajar di sebuah SMA di Strasbourg (daerah Perancis sebelah timur laut) dan diminta memberi kuliah di Fakultas Sastra universitas Strasbourg (1956-1959).

Pada tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di universitas Sourbonne, sampai pada tahun 1969, ketika dia menyelesaikan pendidikan doctor di bidang sastra pada universitas tersebut, Arkoun menulis desertasi doctor tentang Humanisme Pemikiran Etis Miskawaih, seorang pemikir Arab di Persia pada abad 10 M yang menekuni kedokteran dan filsafat.

Karya Muhammad Arkoun

Semenjak menjadi dosen di universitas tersebut, Arkoun menetap di Perancis dan menghasilkan banyak karya yang dipengaruhi oleh perkembangan mutakhir tentang Islamologi, filsafat, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu social di dunia Barat, terutama di dunia tradisi keilmuan Perancis.

Hampir semua karya Arkoun ditulis dalam bahasa Perancis. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh muridnya yang bernama Hasyim Shalih. Arkoun lebih suka menulis karyanya dalam bahasa Perancis, karena menurutnya ia menemukan banyak masalah dalam mengungkapkan pemikirannya ke dalam bahasa Arab. Bukan karena ia kurang menguasai bahasa Arab, akan tetapi menurutnya kemajuan pesat pemikiran ilmiah modern dengan segala istilah-istilahnya belum siap direspon oleh bahasa Arab.

Acuan pada epistemologi kritis, kritik wacana dan sejarah dekonstruktif contohnya, belum bisa ditransfer ke dalam bahasa Arab, sebab, persoalan tersebut belum dipikirkan oleh pemakai bahasa Arab.

Pemikiran Muhammad Arkoun

Pemikiran Arkoun merupakan perpaduan dari berbagai jenis perkembangan wacana ilmu yang digandrungi di sana, seperti Derrida (Dekonstruksi gramatologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiology), Foucault (epistemology), Poststrukturalisme ala Saussure (linguistic), Levi stauss (antropologi), Politik (Voltaire), eksistensialisme (nietzche dan Sartre), Rasionalisme (Descartes), juga ilmu-ilmu arkeologi social-sejarah madzhab analle Perancis. Hal ini tampak dari banyaknya konsep-konsep kaum post-strukturalisme yang diterapkannya ke dalam wilayah kajian Islam. Konsep-konsep seperti korpus, episteme, wacana, dekonstruksi, mitos, logosentrisme, yang tak terpikir dan dipikirkan, parole, aktant, dan lain-lain.

Corak pemikiran Arkoun merupakan respon terhadap keberadaan epistemologi Islam yang dianggapnya gagal membawa kemajuan. Menurutnya, selama berabad-abad masyarakat muslim telah dikuasai oleh nalar Islam yang memiliki karakter logosentrism, belum membuka diri pada kemodernan pemikiran, khususnya yang datang dari Barat.

Sistem pemikiran yang juga disebut Arkoun sebagai ortodoksi Islam ini, menjdai faktor utama keterbelakangan dunia Islam. Keterbelakangan-keterbelakangan ini menimpa berbagai aspek penting seperti sistem, sarana produksi, struktur dan interaksi sosial, praktik-praktik budaya, teknologi, dan sistem ekonomi. Maka, tugas besar yang perlu dilakukan menurut Arkoun adalah membongkar sistem ortodoksi Islam yang telah mengendap lama dalam nalar umat Islam.

Sumber utama sistem ortodoksi yang rigid itu adalah Al-Qur'an. Oleh sebab itu, langkah pertama yang perlu dibenahi adalah, membangun pandangan baru terhadap Al-Qur'an, yang menurut arkoun selama ini telah disalahgunakan untuk kepentingan ideologi dan politik.

Dogma-dogma kaku dalam agama tidak lain lahir karena ketidakmampuan muslim untuk menangkap pesan orisinil dari Al-Qur'an sebagaimana pada periode awal (periode kenabian) sebagai korpus yang terbuka. Demi kepentingan ini, Arkoun menggnakan metode Dekonstruksi, metode yang digunakan oleh Jacques Derrida. Ia berharap besar untuk mengungkap hal yang belum terungkap, fakta yang tersembunyi yang terselubung dari sejarah dan konsep al quran.

Bagi Arkoun, al quran tunduk pada sejarah. Menurut Leonard Binder, pemikiran Arkoun memperlihatkan kecenderungan dan kekaguman kepada akademisi Perancis beraliran postmodern seperti Paul Ricoer, Michael Foucault, dan Jacques Derrida. Kecenderungan itu tidak lepas dari latar belakang pendidikannya yang dibesarkan di lingkungan pendidikan Perancis.

Sebagai seorang pemikir postmodern, Arkoun adalah pengkritik tradisi kemapanan. Metodologi yang berkembang di peradaban Barat, ia coba gunakan untuk mengkritik nalar islam.

Arkoun berargumen bahwa nalar islam yang saat ini mendominasi umat islam, dibangun oleh para alim ulama' atas dasar interpretasi doktriner dan kebutuhan politis untuk mengontrol penafsiran atas wahyu dan maknanya. Menurutnya, al quran sebagai mushaf resmi yang dilakukan oleh khalifah Utsman tidak luput dari inters politik dan ideologi tertentu, demikian juga pembakuan konsep-konsep tafsir oleh mufassirin, sunnah oleh muhadditsin dan ushul fiqh oleh ahli ushul.

Dengan demikian, korpus-korpus tersebut, baik yang primer (Al Quran) dan sekunder (sunnah dan ushul) adalah produk budaya yang terkait dengan konteks kultural yang melatarbelakanginya.
Pembakuan inilah yang kemudian menurut Arkoun, menjadi awal di mana umat islam didominasi oleh logosentrisme. Arkoun menyematkan term ortodoks untuk sistem pemikiran islam terbentuk atas korpus-korpus yang dibakukan seperti di atas.

Arkoun mendefinisikan ortodoksi sebagai sebuah sistem nilai yang berfungsi untuk menjamin perlindungan dan keamanan kelompok tertentu. Dengan demikian, setiap kelompok tertentu dipastikan memiliki visi ideologis yang khas di mana orientasinya ditujukan untuk melindungi inters kelompok tersebut. Masing-masing kelompok yang mengukuhkan ortodoksinya kemudian memiliki tafsir-tafsir yang ditulis untuk menjustifikasi kelompoknya. Lebih lanjut ia menjelaskan:

“Mayoritas kaum muslimin yang mengakui kepemimpinan bani Umayyah dan bani Abbasiyah menyebut dirinya ahl al-sunnah wa al-jamaah, yaitu golongan yang mengikuti tradisi otentik al quran dan hadits. Dan menyatakan kesetiaan pada komunitas muslim sejati melalui consensus. Kaum sunni mencap golongan yang berlawanan sebagai mereka yang menolak tradisi yang sesungguhnya, sementara Syi’ah menyebut dirinya ahl al-sunnah wa al-jamaah, dan sama sekali menolak korpus-korpus hadits yang diklaim oleh golongan Sunni."

Kritik Nalar Islam Muhammad Arkoun

Dengan uraian di atas, Arkoun ingin menjelaskan bahwa "Nalar Islam" sebenarnya tidak tunggal, melainkan plural. Di mana kemudian nalar yang plural itu berfragmentasi menjadi beragam, seperti nalar tasawuf, nalar filsuf, nalar Syafi'i, nalar Hanbali, nalar Mu'tazilah dan lain sebagainya.
Nalar-nalar tersebut selanjutnya menjadi piranti yang menghasilkan produk-produk pengetahuan Islam dalam bentangan sejarah. Arkoun menyebut proses fragmentasi nalar tersebut dengan "taqdis al-afkar al- diniyah" (pensakralan pemikiran keagamaan). Pensakralan pemikiran ini dilakukan oleh masing-masing pengikut nalar islam tertentu. Maka, terjadilah ideologisasi Islam yang begitu menguat di dalam sistem pemikiran Islam tradisional.

Idiom-idiom dalam khazanah islam tradisional memunculkan bahasa-bahasa teologis yang seringkali memaksakan dominasinya atas kelompok-kelompok lain. Dalam hal ini, posisi Al-Quran dianggap sebagai sumber proses ideologisasi yang disalahgunakan. "Wahyu memiliki kepentingan kultural dan historis" kata Arkoun. Oleh sebab itu, dalam islam jika ada isu atau perubahan yang dilonyarkan dan tidak sepaham dengan lembaga ortodoksi, hal itu akan memancing emosional para penganut islam.
Dengan proyek Kritik Nalar Islamnya, Arkoun berusaha mendekonstruksi wacana keagamaan. Wacana al-Quran menurutnya tidaklah tetap, ia terus berkembang sesuai dengan kondisi budaya dan ideologi.

Dalam hal ini Arkoun menerapkan metode historis untuk kajian al-Quran. Menurutnya, peristiwa kodifikasi mushaf yang dilakukan khalifah Utsman bin Affan mengandung problem serius. Yakni terjadinya kerancuan pemikiran yang memperlebar gap antara wahyu periode kenabian yang berbentuk ujaran lisan dengan periode korpus tertulis. Arkoun menawarkan penggunaan metode historis untuk menguraikan problem ini, sebab dengan metode ini akan tersingkap peristiwa yang terjadi.

Sumber: Majalah Islamia, Jurnal pemikiran dan peradaban islam, Vol.VI/No.1/2012

0 Komentar Studi Pemikiran Islam Muhammad Arkoun

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top