Kamis, 16 Februari 2017

Nilai Pluralisme Agama dalam Pancasila

Model konstitusi di Indonesia bisa dibilang lain daripada yang lain. Sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tidak lantas menjadikan hukum Islam atau syariat sebagai dasar negara. Para pendiri bangsa ini telah memahami nusantara dengan kebhinekaannya, yang terdiri dari berbagai agama, suku, budaya, dan juga bahasa. Itulah mengapa dalam sila pertama Pancasila dipilih istilah "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Jika mengacu pada pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945, yang dimaksud dengan sila tersebut adalah ketuhanan yang berkeadaban. Yaitu prinsip ketuhanan yang dapat menghormati agama lain. Semua agama harus mampu membangun titik temu untuk tujuan bangsa yang lintas agama, suku, dan bahasa. Dengan kata lain, dalam sila pertama terkandung konsep pluralitas dalam beragama di Indonesia. Maka dengan demikian, orang yang memaksa seseorang untuk menganut agama yang dianutnya atau menistakan agama lain baik dengan kata-kata atau perbuatan, bertentangan dengan prinsip teologis dari sila pertama Pancasila.


Model konstitusi di Indonesia dapat berjalan dengan langgeng, dan didukung sepenuhnya oleh sebagian besar Muslim di Tanah Air. Terutama NU dan Muhammadiyah, yang merupakan dua organisasi Islam moderat terbesar di Indonesia. Keduanya berperan aktif dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila sebagai ideologi negara.

NU dan Muhammadiyah secara eksplisit mengedepankan moralitas dan etika sosial, menjunjung tinggi perdamaian, dan menolak kek3rasan. NU mempunyai doktrin moderatisme (tawassuth) dan toleransi (tasamuh), sedangkan Muhammadiyah mempunyai doktrin tauhid sosial dan amar ma'ruf. Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah sebagai representasi dari Islam Moderat sama sekali tidak tertarik dengan isu "Negara Islam" dan "Pemberlakuan Syariat", karena yang harus ditonjolkan bukanlah simbol, tetapi substansi dari agama itu sendiri.

Keterlibatan agama secara praktis ke dalam negara hanya akan menodai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sebab agama akan menjadi ajang permainan politik. Telah cukup dan semakin banyak bukti yang menguatkan argumen ini.

Pilihan terhadap Pancasila dan UUD 45 merupakan komitmen dari seluruh rakyat Indonesia perihal paradigma moderat yang memahami syariat secara substansialistik, bukan formalistik.

Indonesia bukanlah negara sekuler dan bukan pula negara Islam. Bagi kalangan Muslim, Pancasila sejalan dengan tujuan-tujuan utama syariat. Hal itu membuktikan bahwa substansi nilai-nilai Islam pada hakikatnya tidak bertentangan dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Wallahu a'lam...

Rujukan: Zuhairi Misrawi. Pandangan Muslim Moderat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2010.

0 Komentar Nilai Pluralisme Agama dalam Pancasila

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top