Rabu, 15 Februari 2017

Perbedaan Cinta dan Benci

Cinta dan benci bagai gas dan rem. Cinta membuat orang bisa bersemangat, sementara benci mengendalikannya agar semangat cinta tidak sampai membutakannya. Cinta diperlukan untuk sampai pada tujuan. Namun, cinta buta membuat tujuan makin tak kelihatan. Di sinilah benci diperlukan. Cinta dan benci adalah dua hal yang saling melengkapi. Namun, cinta dan benci yang sewajarnya. Cinta dan benci yang berlebihan bisa membahayakan diri, mematikan nalar dan memicu konflik. Inilah yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Cinta dan benci berlebihan pada sosok figur mengantar kita pada permusuhan. Yang ada adalah aku dan kamu, bukan kita lagi. Cinta berlebihan membuat nalar dan akal sehat kita mati. Akibatnya, kita menolak apapun yang disampaikam orang atas figur yang kita cintai. Benci berlebihan pun juga membuat nalar kita menolak kebaikannya. Apapun yang ia katakan (meski itu baik), akan tetap ditolaknya. Inilah akibat cinta dan benci berlebihan.


Ahli mengatakan, sebagian besar manusia Indonesia mempunyai kemampuan menalar rendah. Saat berpikir, emosi lebih mengemuka dibandingkan rasio. Ini akibat pendidikan Indonesia yang menekankan hafalan bukan analisis. Sehingga, makin melanggengkan proses berpikir dengan emosi bukan dengan rasio. Membangun nalar itu bisa dimulai dari sejak usia dini. Dalam keluarga mulai diperkenalkan keterbukaan dan saling bisa menerima kritik dan perbedaan. Ini penting mengingat banyak sekali kita melihat, orang alergi pada kritik. Simak Budaya Literasi dan Tradisi Berpikir Kritis

Akibatnya, muncul kebencian yang berlebih ketika ia menerima kritik sebagai ancaman. Bagi saya pribadi, kritik itu pupuk dan pengingat. Ini yang alpa dari para pemimpin kita. Apakah ini juga bentuk kegagalan pendidikan kita? Bisa jadi!. Pendidikan yang hanya mengandalkan hafalan akan melahirkan pemimpin bermental pecundang. Ketika kritik dianggap ancaman, maka nalar dan akal sehat itu pun mati. Kecintaan dan kebencian berlebih pada seseorang pun akkhirnya membuat gaduh yang tak berkesudahan. Akankah negeri ini terus gaduh akibat cinta dan benci yang berlebihan? Ataukah akan berakhir pada kedamaian untuk saling memaafkan. Gunakan cinta dan benci dengan sewajarnya, agar emosi tak menguasai rasio akal sehat kita. Bagaimana menurut Anda?

Penulis: Abdul Muid Badrun

0 Komentar Perbedaan Cinta dan Benci

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top