Mengapa Ada Kekerasan Atasnama Agama? Ternyata Ini Penyebabnya

Sudah 14 abad lebih agama islam lahir. Dan selama itu pula dinamika keberagamaan yang mengitarinya berjalan dinamis. Perjalanan sejarah telah berbagai model dan pola beragama umat islam, sejalan dengan kondisi ruang dan waktu yang mengitarinya. Islam di Nusantara misalnya, telah menghadirkan keberagamaan yang mengandung kearifan lokal. Wajah islam nampak begitu teduh. Akan tetapi belakangan ini terjadi polarisasi model keberagamaan tersebut. Fundamentalisme islam yang kemudian memunculkan benih-benih radikalisme, sampai pada terorisme, menjadi varian tersendiri dalang ruang lingkup model beragama ini.

Dalam hal ini, setidaknya ada tiga isu yang saat ini menjadi fenomena gerakan islam, yakni radikalisme, formalisme, dan terorisme. Jika radikalisme terindikasi melalui kelompok-kelompok muslim radikal dengan pola amar ma’ruf nahi mungkar, maka formalisme islam bermaksud mendirikan negara islam atau menegakkan syari’at islam secara formal. Sedangkan terorisme tampak melalui gerakan-gerakan kekerasan dengan dalih jihad.

Paling tidak ada tiga bentuk atau model kekerasan yang bisa kita lihat. Pertama, kekerasan wacana. Sebuah wacana, meminjam analisis Foucault, bukan hanya sekedar pernyataan dan ide-ide segar, tetapi sesuatu yang memproduksi yang lain. Pengetahuan atau wacana selalu mempunyai efek kuasa, sebaliknya kekuasaan selalu membutuhkan dan memproduksi pengetahuan sebagai basis kekuasaannya. Dengan kata lain, wacana menentukan pandangan kita mengenai suatu objek, memasukkan mana yang layak masuk dan mana yang layak dikeluarkan. Inilah salah satu strategi diferensiasi yang pada gilirannya melahirkan efek dominasi dan marjinalisasi, seperti misalnya fatwa MUI.


Kedua, kekerasan yang menindas. Kekerasan jenis ini, menurut Hasan Hanafi, umumnya dilakukan oleh penguasa. Ia dijalankan dengan dua jalur, jalur budaya dan jalur ideologi. Kekerasan melalui jalur ini bergerak di wilayah yang tidak disadari sebagai kekerasan bahan kekerasan dalam bentuk ini acapkali subur. Justru di samping dijalankan melalui normalisasi dan regulasi, juga didukung ketidaksadaran masyarakat itu sendiri.

Ketiga, kekerasan evolusi. Yaitu gerakan kritis masyarakat bawah yang berjuang menuntut keadilan dan demokrasi. Gerakan ini dikatakan kekerasan lantaran mereka menjalankan tujuannya tanpa diatur sedemikian rupa, sehingga gerakannya sporadis, terutama mengandalkan kemampuan fisik. Secara kasat mata, gerakan seperti ini akhirnya dimasukkan ke dalam kekerasan.

Kekerasan model ketiga inilah yang sering terjadi di masyarakat kita. Dengan mengatasnamakan agama (Islam) mereka melakukan kekerasan. Dengan dalih membela agama, kelompok ini melawan berbagai hal yang dianggap bertentangan dengan syariat islam. Tak heran bila kemudian ketakutan terhadap islam muncul. Islam ditampakkan sebagai kelompok berjubah putih, pembawa pedang yang siap perang. Sehingga pada titik ini, Islam tak lebih adalah manifestasi sekelompok ummat yang marah. Keramahan islam yang selama ini berjalan selama berabad-abad lamanya seakan terhapus oleh kemarahan segelintir orang yang mengatasnamakan “Pembela Islam”.

Selanjutnya, agar kekerasan tidak terjadi maka diperlukan pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran terhadap keyakinan dan keberadaan kelompok lain yang menganut agama berbeda atau madzhab yang berbeda. Pemahaman ulang ini penting agar kesadaran akan pluralitas bukan hanya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, tau juga kehidupan keberagamaan. Dalam konteks islam, seorang muslim sejatinya memahami kembali konsep islam yang dia yakini, apakah islam dimaknai sebagai ajaran yang menganjurkan umatnya bersikapkeras terhadap pihak lain atau sebagai penebar kedamaian dan rahmat bagi umat manusia.

Bertolak dari fenomena kekerasan ini, maka diperlukan upaya mengurangi tindakan kekerasan tersebut melalui dua langkah, yakni memaknai ulang wacana yang acapkali menimbulkan kekerasan dan melakukan gerakan anti kekerasan dengan cara non-kekerasan. Dengan langkah ini, kedamaian akan tercipta dengan jalan damai bukan dengan jalan kekerasan, dan kekerasan dengan sendirinya akan sirna di bawah naungan kemanusiaan.

Sumber: Dikutip dari makalah Muhammad Roy, dosen Syariah UII yang disampaikan dalam Diskusi Nasional bertajuk Islam Agama Universal dan Humanis di STAIN Ponorogo, 23 Maret 2013.

0 Komentar Mengapa Ada Kekerasan Atasnama Agama? Ternyata Ini Penyebabnya

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top