Sabtu, 21 Januari 2017

Budaya Literasi dan Tradisi Berpikir Kritis

Wikipendidikan - Wahyu yang diturunkan pertama kali kepada rasulullah saw. bukanlah perintah yang berkaitan denga ibadah mahdah seperti shalat, zakat atau puasa. Akan tetapi, justru perintah untuk iqra’, yang secara mendasar bermakna membaca. Tidak hanya bermakna membaca, namun juga menyampaikan. Kata iqra’ mengandung makna yang sangat luas sebagai perintah untuk mencari dan menyampaikan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan sejak dari buaian sampai liang lahat. Dari perintah iqra’ ini, maka umat islam tergerak yang kemudian terlahir lembaga-lembaga pendidikan seperti kuttab, perpustakaan, tradisi kepenulisan, gerakan penerjemahkan karya-karya asing, dan universitas-universitas ternama. Dari wahyu pertama Al-Quran itulah budaya literasi islam lahir dan berkembang.

Tak dapat disangsikan lagi, bahwa ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang dapat mengeluarkan manusia dari jurang kegelapan dan kebodohan. Di sinilah pentingnya mencari ilmu pengetahuan yang salah satu caranya yakni dengan membaca. Sebagaimana makna yang terkandung dalam istilah iqra’, seseorang tidak hanya diperintahkan untuk membaca, namun juga menyampaikan. Dengan demikian, membaca merupakan prasyarat utama sebelum seseorang menyampaikan suatu pengetahuan.

Perintah membaca yang terkandung dalam istilah iqra’ tidak hanya dipahami membaca teks yang tertulis. Akan tetapi, iqra’ mencakup makna membaca alam semesta dan seisinya, termasuk manusia dan lingkungan di sekeliling kita.


Dalam konteks pendidikan di Indonesia, rendahnya minat baca di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, maupun di masyarakat merupakan merupakan fenomena yang hingga saat ini masih belum mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Rendahnya motivasi, akses yang terbatas terhadap sumber bacaan, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya membaca merupakan beberapa faktor penyebab mengapa sampai hari ini Indonesia menempati posisi sebagai negara dengan minat baca warganya yang rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Budaya literasi yang terwujud dengan tradisi berpikir kritis yang ditopang dengan tradisi membaca dan menulis yang baik harus terus disosialisasikan agar menjadi budaya masyarakat secara luas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh UNESCO, bahwa literasi memiliki pengaruh dan manfaat yang sangat luas bagi kemajuan bangsa, negara, dan masyarakat. Sebab literasi ibarat pondasi dasar, di mana kemajuan atau kemunduran peradaban umat manusia ditentukan olehnya. Terbukti, era puncak kejayaan peradaban dan ilmu pengetahuan, umat islam pada masa klasik dibangun dengan semangat gerakan literasi melalui berbagai kegiatan penelitian, penerjemahan, penulisan, dan pembacaan atas ayat-ayat Al-Quran maupun alam semesta yang dilakukan oleh para intelektual dan ilmuan muslim.

Dari budaya literasi yang kokoh itulah, akhirnya lahirlah berbagai bidang keilmuan yang sampai saat ini masih membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

0 Komentar Budaya Literasi dan Tradisi Berpikir Kritis

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top