Kamis, 26 Januari 2017

Bersabar dan Memaafkan ala Gus Dur

Dewasa ini, banyak orang yang mengaku sebagai pembela kebenaran dan penyeru kebenaran. Ironisnya, cara yang mereka gunakan dalam menyeru kebenaran terkesan keras, kaku, bahkan sampai pada penyerangan dan pemaksaan secara fisik. Padahal, dalam al-Quran surat al-‘Ashr, sebagaimana dikutip Gus Dur dalam bukunya Islamku, Islam Anda Dan Islam Kita, secara tegas dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk menyeru kepada kebenaran dengan berlandaskan pada kesabaran. Dengan istilah lain, sebuah kebenaran akan bermakna ketika kebenaran itu disampaikan dengan prinsip kesabaran.

Selain kebenaran, yang merupakan indikator baiknya seorang muslim adalah ia yang bersikap pemaaf. Setiap muslim dituntut untuk mudah memaafkan siapapun. Sehingga dari hal tersebut, akan terlahir sikap saling maaf-memafkan sebagai karakter seorang muslim.

Sejarah telah membuktikan, bahwa membawakan kebenaran yang dilandasi kesabaran selalu dipuji oleh sejarah. Setiap manusia harus menyadari akan penting dan perlunya kesadaran dalam setiap kondisi kehidupan. Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya kesabaran, berbagai macam konflik yang terjadi di sekitar kita, baik dalam skala kecil maupun besar, baik yang bersifat individual maupun kelompok, akan dipenuhi dengan tindakan-tindakan kekerasan. Padahal hal tersebut justru merugikan manusia itu sendiri.

Fenomena yang terjadi di tanah air kita akhir-akhir ini, menunjukkan bahwa masih ada saja sebagian dari umat muslim yang melanggar prinsip kesabaran dan memaafkan sebagaimana uraian di atas. Sesuatu yang mereka klaim sebagai sebuah kebenaran, disampaikan dan diaktualisasikan dengan cara-cara yang tidak sabar. Di sisi lain, sepertinya sikap memaafkan juga belum tertanam dalam jiwa mereka. Sudah seharusnya, kita semua memegang teguh prinsip kesabaran dan mudah memberi maaf atas apa saja peristiwa yang menimpa.

Memang, dalam kondisi kehidupan seperti sekarang ini, ada banyak sekali godaan yang meracuni hati dan pikiran kita agar tidak bersabar dan memberi maaf. Padahal dua hal inilah yang harusnya selalu dipegang teguh oleh setiap muslim. Menanamkan kesabaran memang sesuatu yang tidak mudah. Kalau seseorang tidak memiliki kesabaran, tentu saja ia akan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Antara kesabaran dan kemampuan memaafkan, ada hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Hendaknya, setiap muslim menjadikan kesabaran dan mudah memaafkan sebagai pegangan hidup baik dalam skala individu maupun kolektif. Setiap saat, hendaklah kita berupaya menumbukan-kembangkan kesabaran dan kemampuan memberi maaf kepada orang yang menurut kita bersalah.

0 Komentar Bersabar dan Memaafkan ala Gus Dur

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top