8 Macam Munasabah dalam Al-Quran

Wikipendidikan - Secara mendasar, pendidikan islam adalah serangkaian teori, konsep, dan serangkain prosedur yang digali dan dikembangkan melalui proses penggalian ayat-ayat al-Quran yang di dalamnya memuat tentang nilai-nilai pendidikan. Proses tersebut tidak dapat dilakukan, kecuali dengan penguasaan ilmu dan metodologi yang digunakan dalam mengkaji dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Maka dari itulah, kemudian Ilmu Ulumul Quran menempati posisi yang sangat penting bagi insan yang bergelut dalam dunia pendidikan islam.

Salah satu bidang kajian dalam ulumul quran adalah "Ilmu Munasabah". Secara sederhana, munasabah dapat diartikan sebagai kajian atas keterkaitan/hubungan/korelasi antar ayat dan surat dalam al-Quran ditinjau dari beberapa sudut pandang.


Manna Al-Qatthan, sebagai kitab babon ulumul quran menegaskan bahwa fungsi ilmu munasabah ialah sebagai alat untuk mengungkap kekuasaan makna dan bukti kemukjizatan al-Quran dari segi balaghahnya. Dengan munasabah, dapat diketahui keteraturan dan keserasian dari firman Tuhan serta keindahannya dari segi bahasa.

Di dalam al-Quran, sekurang-kurangnya ada 8 jenis munasabah, yaitu:

1. Munasabah antas satu surat dengan surat sebelumnya

Menurut As-Suyuthi, pada munasabah jenis ini, suatu surat berfungsi memperjelas atau menyempurnakan beberapa ungkapan yang terdapat surat sebelumnya. Seperti misalnya ungkapan “alhamdulillah” yang terdapat dalam surat al-fatihah, memiliki korelasi dengan ayat 152 surat al-Baqarah di mana di situ Allah memerintahkan untuk bersyukur. Contoh lain misalnya surat al-Baqarah ayat 2 yang berkorelasi dengan surat ali ‘imran ayat 3.

2. Munasabah antar nama surat dengan asbabun nuzulnya (tujuan diturunkannya)

Nama yang terdapat pada masing-masing surat dalam al-quran menunjukkan tema pembahasan yang menonjol dalam surat tersebut. Seperti misalnya surat al-Baqarah yang banyak menceritakan kisah nabi musa dan sapi betina. Hal itu seperti tertuang dalam ayat 67-71 surat al-Baqarah yang menceritakan kisah nabi musa dan sapi betina di mana di situ juga ditunjukkan kekuasaan Allah membangkitkan orang yang telah mati. Di samping surat al-Baqarah, juga surat Yusuf yang mengisahkan perjalanan nabi Yusuf, surat al-Jinn yang menceritakan tentang jin, dan surat-surat yang lainnya.

3. Munasabah antar bagian dalam suatu ayat

Munasabah antar bagian dalam suatu ayat pada umumnya berbentuk munasabah tadhadhat atau perlawanan. Contohnya seperti yang terdapat dalam surat al-hadiid ayat 4 (silahkan lihat al-quran). Di dalam ayat tersebut, antara kata “yaliju” yang bermakna masuk, dengan kata “yakhruju” yang bermakna keluar, serta kata “yanzilu” yang bermakna turun dan kata “ya’ruju” yang bermakna naik terdapat munasabah dalam bentuk kontradiktif atau berlawanan. Contoh lain terdapat dalam ayat-ayat lain seperti misalnya dalam surat al-Baqarah, al-Maidah, dan an-Nisa’.

4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdekatan/berdampingan

Munasabah jenis ini terkadang nampak jelas, namun terkadang juga samar. Munasabah jenis ini, yang terlihat jelas pada umumnya menggunakan pola ta’kid atau penguat, tafsir atau penjelas, i’tiradh atau bantahan, dan tasydid atau penegasan.

Munasabah antar ayat dengan pola ta’kid, dapat dilihat misalnya dalam surat al-fatihah ayat 1-2. Kata “rabb al ‘alamiin” yang terdapat dalam ayat kedua memperkuat kata “ar-rahman” yang ada pada ayat pertama.

Munasabah pola tafsir, di mana satu ayat atau bagian ayat tertentu maknanya ditafsirkan oleh ayat atau bagian ayat yang ada di sampingya, dapat dilihat dalam surat al-Baqarah ayat 2-3. Kata “muttaqin” pada ayat kedua ditafsirkan maknanya oleh ayat yang ketiga, di mana dalam ayat ketiga dijelaskan kriteria orang yang muttaqin atau bertaqwa, yakni orang-orang yang beriman dengan yang ghaib, mengerjakan shalat, dan seterusnya hingga akhir ayat.

Munasabah pola i’tiradh misalnya terdapat dalam ayat 57 surat an-nahl. Kata subhaanahu dalam ayat tersebut, merupakan bentuk bantahan dari dua ayat yang mengantarkannya, yaitu bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengklaim bahwa Allah memiliki anak perempuan.

Munasabah pola tasydid atau penegasan, terdapat misalnya dalam ayat 6-7 surat al-fatihah. Pada ayat 6 terdapat ungkapan “shiratal mustaqim”, yang kemudian dikuatkan ditegaskan lagi oleh ayat selanjutnya dengan redaksi “shiratalladzina...” dan seterusnya.

Sedangkan munasabah antar ayat yang samar, dapat diketahui berdasarkan hubungan makna yang bentuk hubungannya dapat berupa perbandingan, perlawanan, perpindahan, atau penjelasan.

5. Munasabah antar suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat yang berada di sampingnya

Munasabah jenis ini, dapat dilihat misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 1-2, di mana di situ Allah memulainya dengan penjelasan mengenai kebenaran dan fungsi al-Quran untuk orang-orang yang bertakwa. Kemudian, ayat-ayat selanjutnya membicarakan mengenai tiga kelompok manusia yaitu mukmin, kafir, dan munafik disertai dengan sifat-sifat mereka masing-masing.

6. Munasabah antar fashilat atau pemisah dan isi ayat

Munasabah jenis ini, pada umumnya mengandung tujuan tertentu semisal untuk menguatkan makna yang terkandung dalam ayat tertentu. Adakalanya pemisah yang terdapat di antara dua ayat dimaksudkan agar pemahaman terhadap dua ayat tersebut menjadi lurus, dan adakalanya sebagai penjelasan tambahan. Misalnya yang terdapat dalam surat al-Ahzab ayat 25, di mana di situ dijelaskan bahwa Allah menghindarkan orang-orang yang beriman dari peperangan bukan karena orang-orang tersebut lemah dan penakut, akan tetapi itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.

7. Munasabah antar awal surat dengan akhir surat yang sama

Munasabah semacam ini, misalnya dapat dilihat dalam surat al-Qashash. Pada awal surat, dikisahkan perjuangan nabi Musa yang berjuang menghadapi kekejaman raja Fir’aun saat itu. Perjuangan tersebut merupakan perintah dari Allah, dan atas pertolongan-Nya akhirnya nabi Musa dapat keluar dari negara Mesir. Pada akhir surat, dikisahkan bahwa Allah menyampaikan berita gembira untuk nabi Muhammad saw. yang menghadapi tekanan dari kaum beliau dan janji Allah atas kemenangan beliau. Munasabah yang terdapat pada awal dan akhir surat ini, terletak pada kesamaan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh dua utusan Allah di tersebut.

8. Munasabah antar satu surat dengan surat setelahnya

Apabila diperhatikan, terdapat munasabah atau hubungan antara pembukaan suatu surat dengan akhir dari surat sebelumnya, meskipun tidak selalu mudah untuk menemukannya. Pola munasabah ini, misalnya dapat dilihat dalam permulaan surat al-Hadid yang dimulai dengan tasbih. Ayat pertama dalam surat al-Hadid, bermunasabah dengan akhir surat sebelumnya, yakni surat al-waqi’ah yang berisi perintah untuk bertasbih.

Uraian mengenai 8 macam munasabah dalam Al-Quran di atas merupakan salah satu bentuk upaya para ahli tafsir dalam rangka menemukan hubungan antar suatu ayat dengan ayat lainnya, antara satu surat dengan surat lainnya, serta awal dan akhir surat dalam al-Quran. Dengan demikian, kajian mengenai ilmu munasabah bersifat ijtihadi, bukan tauqifi. Mseki demikian, kajian mengenai munasabah yang dilakukan oleh para ahli tafsir selama ini telah berkontribusi besar bagi khazanah keilmuan islam utamanya dalam bidang kajian terhadap al-Quran.

Sumber: Rosihan anwar, Pengantar Ulumul Quran, Bandung: Pustaka Setia, 2009.

0 Komentar 8 Macam Munasabah dalam Al-Quran

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top