Selamat Tahun Baru 2017

Bagi mukmin, tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah, namun tidak memikirkan ajal semakin dekat? Benar kata Hasan al-Bashri, seorang tabi’in terkemuka, menasehati kita agar bisa merenungkan bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya umur kita setiap saat.

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu."

“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.”


Sungguh tidak baik, jika sebagian kita malah merayakannya dengan mengikuti dorongan nafsu syahwat, merasa telah bertambahnya umur dan tahun, tanpa melakukan evaluasi diri (muhasabah/self control). Seharusnya yang kita rasakan adalah umur semakin berkurang, menangis, merenungkan waktu yang terbuang, merenungkan tentang sedikitnya amal, dan bertanya berapa jam, hari, minggu, bulan dan tahun umur yang betul-betul milik kita dari 23, 33, 43, 53....th, berapa tahun yang betul2 bersama Allah, dzikrullah, memberi kebaikan diri sendiri, sesama manusia bahkan alam?

Bukankah Rasul telah mengajarkan kepada kita agar kita jangan hanya menunggu waktu, melainkan beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416).

Tahun baru merupakan momen untuk refleksi diri, momen di mana kita perlu untuk merenungkan kembali apa saja yang sudah kita lakukan di tahun sebelumnya. Lebih banyak waktu yang kita gunakan untuk menanam benih-benih kebaikan atau sebaliknya.

0 Komentar Selamat Tahun Baru 2017

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top