Minggu, 18 Desember 2016

Memungut Noumena di Balik Wisata

Akhir tahun dikenal sebagai periode liburan yang mahal bagi sebagian besar orang. Tidak hanya anak-anak yang libur sekolah pada periode ini, tapi orang tua atau para pekerja kantoran pada umumnya juga libur dari pekerjaannya.

Momen akhir tahun juga menjadi waktu yang cocok untuk liburan bersama keluarga atau sahabat, tentunya sesuai dengan pilihan destinasi masing-masing.

Lantas, bagaimana Agama memandang aktifitas manusia yang satu ini? Agama melalui Kitab Sucinya, menganjurkan kepada kita untuk ber-safari atau melakukan perjalanan di atas bumi ini.


Berikut beberapa noktah Agama terkait dengan wisata:
- Q.S. al-'Ankabut ayat 20:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

- Q.S. Ar-Rum ayat 42:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".

Secara implisit, sebagaimana dikatakan Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub, ayat tersebut mengisyaratkan pentingnya berwisata. Al-Qur'an menggunakan kata سِيرُوا, "berjalanlah" yang senantiasa diikuti dengan kata انْظُرُوا; ""perhatikanlah", sejatinya mengisyaratkan bahwa para pelaku wisata (wisatawan) dituntut, dalam aktivitas wisatanya, untuk merenungi noumena/makna atau hikmah di balik obyek wisata yang dikunjungi, yang semua itu menjadi landasan guna menghayati dan merenungi kekuasaan-Nya. Jadi, wisata bukan semata hiburan atau foya-foya. Ada pesan agama di balik wisata. Dalam bahasa cak Nun, "Setiap rekreasi harus kreatif dan setiap kreasi harus rekreatif".

Semoga kita bisa memungut "noumena" dari wisata kita, menuju pribadi yang lebih bijaksana.

Oleh: Yai Ahmad Syafii SJ.

0 Komentar Memungut Noumena di Balik Wisata

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top