Menuntut Ilmu Harus dengan Niat Semata-mata Karena Allah

Dalam islam, segala aktifitas kebaikan yang dilakukan manusia di dunia ini dapat menjadi sarana untuk ibadah demi menggapai ridha Allah, termasuk aktifitas belajar atau mencari ilmu. Dalam islam, belajar sering diistilahkan dengan tholabul ilmi. Hukumnya wajib bagi setiap individu yang berakal sehat. Sebab hanya dengan belajar, seseorang dapat mengetahui, mengerti, memahami, kemudian mengamalkan ajaran-ajaran islam dalam kehidupannya sehari-hari.

Secara terminologis, istilah ilmu dalam konsep islam diambil dari bahasa Arab ‘alima, ya’lamu, ‘ilman,yang artinya mengerti tentang sesuatu. Juga diambil dari kata ‘allama yang artinya memberi petunjuk/pengetahuan. Dengan demikian, tholabul ilmi bisa diartikan sebagai suatu usaha sadar yang dilakukan untuk membaca dalam arti seluas-luasnya yang meliputi membaca, meneliti, mengkaji, menyelidiki, mengamati, menganalisis, menemukan, serta menyimpulkan dari berbagai sumber yang meliputi ayat-ayat qauliyah dan kauniyah.


Ilmu merupakan sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Oleh karenanya, islam sebenarnya tidak mengenal dikotomi ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum. Semua jenis ilmu, sejauh dapat menjadikan seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah boleh dipelajari. Tidak hanya ilmu yang berkaitan dengan ibadah mahdah seperti tatacara shalat, puasa, haji, zakat, dan membaca Al-Quran, tapi juga ilmu lain seperti filsafat, sosiologi, budaya, dan ilmu-ilmu tentang teknologi.

Meskipun islam memprioritaskan umatnya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, namun tidak berarti kita lantas mengabaikan dan anti mempelajari ilmu-ilmu lain. Umat islam harus berwawasan luas dan memiliki pengetahuan yang komprehensif, sebab dengan itulah umat islam dapat mencapai kemajuan sebagaimana yang pernah dicapai pada era keemasannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Hanya dengan bekal ilmu kita mampu menyingkap tabir-tabir kehidupan umat manusia serta memahami rahasia-rahasia ciptakan Allah sebagai kunci membangun kemajuan peradaban.

Mencari ilmu tidak semudah membalikkan telapak tangan, sebab banyak ujian dan rintangan yang membuatnya terasa amat berat. Utamanya ilmu-ilmu yang bisa semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا,سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ . رَوَاهُ مُسْلِم

Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti memudahkan baginya jalan menuju surga.(HR Muslim)

Ungkapan “salaka (menempuh Jalan)” pada hadis di atas tidak hanya dalam arti jalan fisik yang dilalui kendaraan atau kedua kaki, seperti seseorang yang berjalan keluar dari rumahnya menuju ke suatu tempat untuk tujuanmencari ilmu, baik ke madrasah, sekolah, kampus dan lain sebagainya.

Akan tetapi termasuk pula arti jalan secara maknawi, yang meliputi hal-hal yang membuat perjalanan tersebut terasa berat dan melelahkan.Misalnya seperti biaya dan waktu yang lama. Misalnya saja seseorang harus menempuh perjalanan jauh dalam rangka mencari ilmu. Dalam berjalan mencari ilmu, maka seseorang tidak hanya perlu mengeluarkan biaya berupa harta benda, akan tetapi juga harus rela mengorbankan perasaannya untuk meninggalkan rumah, keluarga dan kampung halaman yang dia cintai.

Semua itu merupakan hal-hal yang harus mampu diatasi seseorang dalam menempuh jalan mencari ilmu yang bermanfaat dan berkah. Semua kesulitan, rintangan, dan jerih payah yang mampu dilaluinya kelak akan tergantikan manakala dia telah mendapatkan ilmu.

Alangkah baiknya bila kita kembali merenungkan pernyataan sahabat Mu’adh bin Jabal RA. sebagaimana dikutip dalam kitab Hilyat'ul Awliya Wa Tabaqat'ul Asfiya, yang menyatakan bahwa dalam mencari ilmu pengetahuan hendaklah demi mendapatkan ridha Allah. Sebab dengan pengetahuan akan terlahir kesalehan, rasa mengagungkan terhadap Allah, dan takut akan dosa. Mencari ilmu demi menggapai ridha Allah adalah sebuah bentuk ibadah, sehingga belajar termasuk berdzikir mengingat-Nya.

Sahabat Mu’adh juga mengungkapkan, bahwa mencari ilmu adalah sebuah perjuangan yang nilai pahalanya layaknya pahala jihad fiisabilillah. Sedangkan mengajarkan ilmu adalah bagian dari sedekah, dan mengamalkannya di rumah seseorang dapat memperkuat tali silahturahmi di antara anggota keluarga.

Ilmu adalah sahabat setia yang akan menjadi penyejuk saatberada dalam kesendirian. Ilmu adalah sahabat terdekat yang mau mengungkapkan rahasia-rahasianya kepada kita. Firman Allah SWT :
“Adakah sama, antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar, 39 : 9).
Tentu sudah jelas, bahwa jauh berbeda antara orang-orang yang berilmu dan tidak berilmu. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti untukmencari ilmu hingga ajal menjemput. Di mana dan kapan pun. Tidak sebatas hanya di lembaga pendidikan formal, tapi juga dalam setiap kondisi, tempat, dan kesempatan dalam kehidupan kita. Karena ilmu pengetahuan merupakantitik puncak kebahagiaan, sebagaimana kebodohan merupakan titik awal dari segala keburukan. Keselamatan datangnya dari ilmu, sedangkan kehancuran datangnya dari kebodohan.

0 Komentar Menuntut Ilmu Harus dengan Niat Semata-mata Karena Allah

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top