Kisah Teladan Hasan dan Husein yang Patut diteladani Para Guru

Al-Hasan dan al-Husein, putra Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, pergi ke mesjid dan menjumpai seorang tua yang sedang berwudhu lalu shalat. Ternyata wudhu dan shalat orang tua itu terlihat kurang sempurna. Hasan dan Husein ingin memperbaiki dan meluruskannya, tetapi khawatir menyinggung perasaannya. Akhirnya mereka sepakat untuk memakai cara pendekatan. Di hadapan orang tua tersebut mereka berdebat, masing-masing mengatakan bahwa dialah yang lebih benar wudhu dan shalatnya. Mereka lalu meminta orang tua itu untuk menilainya.

Lalu mereka masing-masing melakukan wudhu dan shalat. Setelah orang tua itu melihat tata cara berwudhu dan shalat mereka, dia mengoreksi dirinya dan menyadari bahwa wudhu dan shalatnya ternyata cacat serta tidak sesempurna kedua pemuda itu.

Maka dia berkata kepada keduanya, "Alangkah baiknya wudhu dan shalat kalian, serta alangkah baiknya tuntunan dan bimbingan kalian kepadaku. Semoga Allah memberkahi kalian."


Subhanallah, indah sekali kisah di atas. Islam menjunjung tinggi akhlak terhadap sesama umat manusia, termasuk kaitannya dengan cara/metode mengajar. Guru harus menghormati dan menghargai peserta didik, begitu pula sebaliknya.

Dalam kasus di atas, saya jadi teringat dengan ungkapan "at-thoriqoh ahammu minal maddah", cara/metode mengajar itu lebih penting dari materi pelajaran. Tepat sekali kiranya, bahwa materi yang disampaikan dengan metode yang tidak tepat, seringkali tidak akan dapat diserap/atau diterima dengan baik dan efektif. Di samping itu, yang lebih penting lagi adalah peran guru. Guru yang baik, memiliki penguasaan metode dan materi serta mampu mengkombinasikan keduanya dengan tepat dalam proses pembelajaran.

Semoga kita dapat meneladai metode pemberian teladan sebagaimana yang dilakukan oleh hasan dan husein di atas.

0 Komentar Kisah Teladan Hasan dan Husein yang Patut diteladani Para Guru

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top