Jumat, 30 Desember 2016

Facebook dalam Tinjauan Hukum Islam


"Facebook (Fb) Helps you connect and share with the people in your life", demikianlah slogan salah satu medsos, yaitu Faceebook. Jika kita baca dengan teori "Tujuan" (Maqaashid/purpose), maka keberadaan Fb itu sebagai "perantara" atau sarana (wasiilah/tool). Sementara "Tujuan Fb" pada awalnya (Maqashid Asal Fb) itu sendiri adalah "terwujudnya jalinan silaturrahim" dalam piranti ukhuwwah, baik ukhuwwah basyariah, wathaniyah (nasionalisme), maupun ukhuwwah Islamiyyah. Jika menilik semangat awal yang diusung oleh si penggagas Fb sebagaimana tercermin dalam slogannya tersebut (terwujudnya jalinan silaturahim), maka kita dapat mengatakan bahwa menggunakan Fb itu hukumnya minimal sunnah. Namun, jika dilihat dari Fb sebagai sesuatu yang netral, maka kita bisa mengatakan bahwa ber-Fb itu hukum awalnya boleh atau mubah. Meskipun demikian, hukum asal penggunaan Fb sebagai sarana (al-wasiilah) ini bisa saja berubah menjadi wajib bahkan haram tergantung tujuan (maqaashidnya)

Yang perlu kita sadari bahwa Medsos (facebook wa akhawaatuhu) yang notabene sebagai sarana (al-wasiilah), adalah sesuatu yang netral, kadang bisa menyesatkan, tapi kadang juga banyak memberi kebaikan, "yudhillu bihi katsiira wa yahdi bihi katsiira, demikian ungkapan bahasa Agama". Jikalau keberadaan medsos ternyata mampu memberikan banyak manfa'at (yahdii bihi katsiira) semisal memperluas jaringan silaturrahim (mendekatkan yang jauh), maka ber-medsos bisa jadi sangat dianjurkan bahkan diwajibkan. Dalam kajian ushul fiqh, utamanya di kalangan pengikut Madzhab Maliki, anjuran seperti ini dikenal dengan istilah "pembukaan sarana (fath al-dzari'ah) sebagai perluasan dari metode klasik "pemblokiran sarana" (sadd al-dzari'ah). Sebaliknya, jika aktivitas ber-medsos justru malah menyebabkan banyak kemadharatan (yudhillu bihi katsiira), semisal menjauhkan yang dekat, memicu viral kebencian, menyebarkan informasi hoax dan sebagainya, maka "memblokir sarana Fb" ini menjadi sesuatu yang juga sangat dianjurkan bahkan menjadi sebuah kemestian (sadd al-dzari'ah). Memblokir sarana berarti melarang sebuah aksi yang legal (asal menggunakan Fb boleh/legal) karena ditakutkan akan berimplikasi pada aksi yang ilegal (penistaan ulama, penyebaran berita hoax). Ulama sepakat bahwa pelarangan itu hanya dapat diberlakukan jika kemungkinan terjadinya aksi ilegal itu melebihi kemungkinan tidak terjadinya. [Jasser Auda, Maqashid Syari'ah: A Beginner's Guide, 40; juga Abu Zahrah, Ushul Fiqh, 271].

Sementara itu, dalam kaitannya dengan ini, Imam al-Qarafi membagi aturan syariat ke dalam sarana-sarana (al-wasaa'il) dan tujuan-tujuan (al-maqaashid). Beliau juga menyarankan agar diblokirnya sarana-sarana (Fb dan saudara-saudaranya) yang mengakibatkan terjadinya tujuan yang ilegal (mencaci, hoax, pencemaran nama baik, dll), dan agar dibukanya sarana-sarana (diperbolehkan bahkan dianjurkan ber-Fb an) yang mengantarkan kepada tercapainya tujuan-tujuan legal (menjalin silaturrahim, berdakwah, menyebarkan ilmu, dll). Maka, dalam hal ini berlaku kaidah bahwa "hukum sarana (hukum Fb) seperti halnya status hukum yang ada pada tujuan" (lil wasaa'il kahukmil maqaashid). [Al-Qarafi, al-Furuuq, II/60].


Lebih jauh, Al-Qarafi mengaitkan tingkatan sarana ini (al-wasaail, Fb) dengan jenjang tujuan (al-maqaashid), dimana beliau mengintrodusir 3 jenjang tujuan (maqaashid). Pertama, tujuan yang paling jelek (aqbah, penistaan ulama dan agama misalnya), dimana sarana (penggunaan Fb) yang mengantarkan kepada tujuan tersebut harus diblokir/sadd al-dzari'ah (minimal oleh user-nya sendiri, syukur-syukur oleh pemerintah berdasarkan UU IT). Kedua, tujuan atau maqaashid yang paling baik (afdhal, misalnya menyebarkan ilmu, menjalin hubungan silaturrahim, berdakwah, dst....), di mana sarana atau wasiilah (Fb misalnya) yang mengantarkan kepadanya (maqaasid li nasyril 'ilmi wa da'wah wa washlil arhaam) harus dibuka (fath al-dzari'ah). Dan ketiga, tujuan yang tengah-tengah (al-maqaashid al-mutawassithah, misalnya tujuan untuk refreshing), di mana sarana atau wasiilah (menggunakan Fb) yang mengantarkan kepadanya (maqaashid refreshing) diperbolehkan, alias boleh refreshing dengan menggunakan Fb. [Auda, 43]

Walhaasil, dalam rangka merealisasikan "Maqashid Awal Fb", yakni "terwujudnya jalinan silaturrahim dalam tiga kerangka ukhuwwah" sebagaimana disinggung di atas, maka sebagai ikhtiyar awal, perlu kiranya dirumuskan langkah-langkah metodologis dalam menggunakan medsos, utamanya Fb sebagai bapak dari Madsos, berikut:

1) kita harus meluruskan niat. Awali dengan motivasi-motivasi mulia sehingga tidak menjauhkan aktivitas jamaah Facebook-iyah dari Ridho Allah SWT. Misalnya, niat berdakwah, menjalin ukhuwwah, menambah wawasan dan pengetahuan, berbagi inspirasi, dan kalam hikmah, serta motivasi kepada kebajikan. Hal ini sejalan dengan teori motivasi yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niatnya (al-umûru bimaqâshidihâ).

2) kita harus memastikan bahwa konten yang akan kita tulis dalam akun Facebook adalah sesuatu yang positif, bukan sekadar lipe-service (sesuatu yang hanya abal-abal), apalagi mengandung unsur kebohongan (hoax). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW hanya memberikan dua preferensi atau dua pilihan, yakni “Bertuturlah secara baik, jika tidak maka diamlah (qul khairan aw liyashmut).” Pemaknaan kontekstualnya adalah “online-lah secara bijak, jika tidak maka offline lebih baik bagimu.” Jangan sekalikali mengabaikan pesan Nabi ini, mengingat banyak di antara jamaah Facebook-iyah yang kesandung masalah karena terlalu ceroboh dalam bertutur kata di dunia maya. Ingat, “Kicauanmu bisa kacaukan hidupmu!”

3) kita harus menggunakan jejaring sosial secerdas dan seefektif mungkin. Jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai aktivitas Facebook-kan menurunkan prestasi kerja dan produktivitas, apalagi sampai membuat kita lalai dari ibadah. Jika demikian yang terjadi, sungguh Facebook telah menjadi Abu Jahal modern yang siap menggerogoti kita. Bukankah Nabi sudah berpesan bahwa “Sebagian tanda dari ke-Islam-an seseorang yang baik adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak bernilai guna (min husn islamil mar’i tarkuhu mâ lâ ya’nihi).” Jadi, kita harus menimbang dan sekaligus memastikan bahwa keberadaan Facebook mengandung kemashlahatan lebih besar dari pada mudaratnya. Jika tidak, maka memutus hubungan dengan makhluk Facebook tentu menjadi prioritas utama. Hal ini sejalan dengan kaidah “Menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada menarik kemashlahatan (dar’u al-mafâsid muqaddam ‘ala jalbi al mashâlih).”

Demikian ikhtiar awal saya sebagai respon atas problematika yang terjadi di seputar dunia maya, sebagaimana juga terjadi di dunia nyata.Tapi perlu kita ingat, meskipun di dunia maya, namun efek-nya bisa nyata mewujud dalam dunia nyata. Mohon koreksinya jika ada yang kurang pas. Semoga bermanfaat. Wallâhu A’lam bi al-Shawwâb.

Sapen Yogya, 24/12/16

al-Faqiir Ahmad Syafi'i SJ

1 Response to Facebook dalam Tinjauan Hukum Islam

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top