Wasiat Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Tentang Empat Hal yang Merusak Agama

Sehubungan dengan adanya Aksi Bela Islam yang dilakukan oleh sebagian umat islam sebagai respon atas dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahya Purnama alias Ahok, saya jadi teringat dengan wasiat Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani mengenai 4 hal yang dapat merusak agama seseorang. Beliau pernah mewasiatkan tentang beberapa indikasi yang akan merusak agama seseorang, dalam hal ini beliau berkata:

"Agama kamu dapat hancur dan lenyap disebabkan oleh 4 hal, yaitu:
  1. Kamu tidak mau beramal terhadap sesuatu yang telah kamu ketahui.
  2. Kamu melakukan sesuatu pekerjaan dengan dasar yang tidak kamu ketahui.
  3. Kamu tidak mau belajar terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui, bahkan kamu membiarkan dirimu kekal dalam kebodohan.
  4. Kamu menghalangi orang lain untuk belajar sesuatu yang tidak mereka ketahui." (Wejangan Syech Abdul Qodir Al-Jaelani)


Agama islam selain memiliki sisi teoritis, namun lebih banyak sisi praktisnya, ada ilmu dan amal. Antara ilmu dan amal itu tidak bisa dipisahkan. Seperti yang sering kita dengar, ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon yang tidak berbuah. Begitu pula amal yang tidak didasari ilmu, bagaikan membangun rumah di atas pondasi yang sangat rapuh. Ilmu atau pengetahuan merupakan prasyarat bernilainya sebuah amal. Makanya, ilmu dan amal harus berjalan beriringan, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Bila salah satunya hilang, maka yang satu tidak akan ada nilainya. Baca juga 7 Golongan yang Akan Dinaungi Allah di Hari Kiamat

Di zaman akhr ini sulit menemukan orang yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Kebanyakan hanya gemar menumpuk-numpuk pengetahuan sampai seolah otaknya penuh dengan teori-teori. Pandai berbicara dan ber-retorika dengan nada tinggi berapi-api, namun tidak mampu menyentuh hati pendengarnya dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan serta mencegahnya berbuat kemaksiatan.

Fenomena seperti itu dapat dengan mudah kita temukan dalam setiap sisi kehidupan di era modern ini. Kita dapat menemukannya dalam komunitas masyarakat yang awam, bahkan dalam lingkup institusi yang menjadi tempat kajian ilmu pengetahuan seperti kampus dan sekolah. Kita dapat melihat bagaimana perilaku dari mayoritas mahasiswa saat ini. Sebagai manusia yang lazim dipandang sebagai intelektual, budaya santai, hedonis, dan materialistis sudah sedemikian akut mendominasi pola pikir dan perilakunya. Simak juga Cara Efektif Menghilangkan Kebiasaan Buruk Menurut Ajaran Islam

Banyak mahasiswa yang menguasai ilmu-ilmu agama namun hanya digunakan sebagai bahan perdebatan untuk menjatuhkan lawan dan kawannya. Banyak pula orang yang melakukan perbuatan tanpa dasar ilmu yang jelas, hanya mendasarkan perbuatannya pada pemikiran akalnya sendiri. Banyak orang yang ragu atas perbuatannya dan tidak mau belajar dan berusaha mendapatkan keyakinan dalam hatinya. Terjadinya fenomena-fenomena seperti di atas di antaranya disebabkan kurangnya "kesadaran" dalam diri bahwa ilmu itu dipelajari hanya untuk diamalkan, sebelum berbuat harus memiliki ilmu dan dasar yang jelas sebagai panduannya. Nilai kesadaran seperti ini memang sangatlah mahal.

Ada juga orang yang sama sekali tidak memiliki "ghirah" keilmuan. Seperti sama sekali tidak bernafsu dengan ilmu (terutama ilmu-ilmu agama). Padahal badannya masih sehat, akalnya sehat, ada biaya, dan kesempatan pun masih terbuka. Namun, hari-harinya malah dihabiskan untuk sekedar bersantai dan bersenang senang, atau hanya sibuk mencari uang. Hidupnya dihabiskan untuk orientasi keduniaan yang sifatnya hanya sementara, tanpa mempersiapkan bekal untuk kehidupan abadinya di akhirat kelak. Dari sinilah kemudian muncul orang-orang yang kemudian banyak berbicara tanpa tanpa memiliki pengetahuan mengenai apa yang dibicarakan. Banyak bermunculan orang-orang yang berkomentar terhadap suatu masalah yang bukan dalam bidang keahliannya. Banyak umat islam yang mudah terprovokasi pihak-pihak berkepentingan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bersifat merusak diri dan citra agamanya sendiri. Secara tidak sadar, sebenarnya mereka telah merusak agama mereka sendiri.

Gus Mus pernah dawuh, "Agama itu ibarat pedang bermata dua". Mengapa agama diibaratkan pedang menurut pengarang kitab tersebut? Apa maksudnya? Sebuah pedang, agar dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan pembuatannya, mensyaratkan orang yang ahli dalam menggunakan atau memainkan pedang tersebut. Apabila sebuah pedang ada di tangan orang yang tidak tau cara menggunakannya, maka bisa menjadi bumerang yang justru akan melukai dirinya sendiri, bahkan orang lain.

Begitu pula dengan agama (islam), ketika agama dipegang oleh orang yang tidak benar-benar memahami esensinya secara mendalam, maka agama tersebut tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Agama akan dicampuradukkan dengan sesuatu di luar agama (politik, uang, kepentingan pribadi, dll.), bahkan bisa jadi sesuatu itu sangat bertentangan dengan esensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Baca juga Belajar Toleransi dari Quraish Shihab, Tiada Paksaan dalam Beragama

Saat ini, kita dapat menyaksikan betapa banyak orang yang menjadikan agama sebagai tunggangan untuk memuaskan kepentingan-kepentingan hawa nafsunya. Agama dijadikan alat mobilisasi massa untuk meraih kedudukan. Pun pula, atas nama membela agama, berbagai tindak kekerasan yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai kerahmatanlilalaminannya dihalalkan. Padahal secara tidak disadari, mereka telah merusak diri mereka sendiri.

Agama islam bagaikan penunjuk arah bagi orang yang tersesat di tengah padang pasir yang luas. Agama adalah pelita bagi orang-orang yang tak mampu melihat di tengah kegelapan malam. Oleh karenanya, setiap orang yang beragama harus benar-benar mempelajari dan memahami esensi agamanya dengan sangat mendalam dan komprehensif agar tidak tersesat. Semakin dalam dan luas ilmu dan pemahaman seseorang tentang agama, maka dia tidak akan mudah menyalahkan orang lain atau berprasangka buruk atas sebuah permasalahan.
Wikipendidikan
Back To Top