Jumat, 18 November 2016

Titik Temu Antara Nilai-nilai Syariat dan Adat

Titik Temu Antara Nilai-nilai Syariat dan Adat - Pergumulan antara syariat islam dan adat masih berlangsung hingga sekarang, khususnya dalam konteks islam di pulau Jawa. Banyak masyarakat jawa yang meskipun sudah berada dalam lingkup dunia modern, masih memegang kuat hukum-hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Islamnya orang-orang Jawa masih sangat kental dengan nuansa adat. Bahkan hukum-hukum adat yang terkadang bertentangan dengan syariat cenderung lebih mendominasi kepercayaan masyarakat dibandingkan dengan syariat. Maka di sinilah perlu upaya mencari titik temu antara nilai-nilai syariat dan adat sebagai bentuk antisipasi dan dekonstruksi keyakinan agar sebagai orang islam tidak terjerumus kepada kesyirikan.

Misi utama Nabi Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan budaya umatnya. Beliau berusaha menebarkan rahmat (kasih sayang) yang menjadi satu-satunya misi risalah. Allah SWT berfirman:

وَماَ اَرْسَلْنكَ إلا رَحْمَةُ للْعالمين

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’: 107).

Sejarah telah membuktikan, bahwa Islam hanya bisa dikembangkan dengan nilai-nilai santun dan penuh etika. Ia akan mengakar kuat di tengah-tengah komunitas masyarakat bila mampu bersinergi dengan budaya setempat tanpa menimbulkan gejolak. Hal mana juga dibuktikan oleh kearifan dan kecerdikan Wali Songo yang dalam dakwahnya bisa memposisikan budaya (‘âdah) sebagai jembatan atau sarana dakwah, sehingga mampu membumikan ajaran-ajarannya di hamparan bumi Nusantara sampai kini. Jauh-jauh hari Nabi saw telah bersabda:

إنما بُعثْتُ لأُتَممَ مَكاَرمَ الأَخْلاَق

“Niscaya aku hanyalah diutus guna menyempurnakan moralitas yang mulia” (HR. Baihaqi).

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa beliau diperintahkan untuk menyempurnakan akhlâqul karîmah yang juga berarti budaya, tradisi dan adat masyarakat, bukan sebaliknya, justru melenyapkannya. Hal ini sebagaimana disabdakan beliau:

إتق اللهَ حَيْثُما كُنْتَ وَأَتْبع السيئة الْحَسَنَةَ تَمْحُها وَخَالق الناسَ بخُلُق حَسَن

"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebajikan yang bisa meleburnya dan berprilakulah kepada orang lain dengan perilaku yang baik”. (HR. Turmudzi dan Hakim)

Adapun maksud dari perilaku yang baik tersebut adalah “penyesuaian dengan budaya masyarakat.” Hal ini sebagaimana ditegaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud prilaku baik dalam hadis tersebut, beliau berkata:

هُوَ مُوَافَقَةُ الناس فى كُل شَيْء مَا عَدَا الْمَعَا صيْ

“(Maksud perilaku baik tersebut adalah) beradaptasi dengan masyarakat dalam setiap hal selama bukan maksiat”.[1]

Dari statemen Ali inilah kemudian belakangan populer menjadi peribahasa:

لَوْ لاَ الْوئَامُ لَهَلَكَ الْأَنَامُ

“Andaikan tidak ada adaptasi (dalam pergaulan) niscaya manusia akan sirna”.

Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi jelas kiranya, bahwa ajaran Islam mesti disampaikan dengan santun dan menghargai budaya. Nilai-nilai toleransi, adaptasi, akomodasi dan pembaruan pada budaya dengan sendirinya akan membuat masyarakat lebih mencintainya. Kendati begitu, tidak setiap budaya bisa ditoleransi. Sebab, seringkali budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat bertentangan dengan fithrah manusia sendiri dan disinyalir berseberangan dengan nilai-nilai agama, seperti “pitungan jodo”, sesajen, dan mitos-mitos semisalnya. Oleh karenanya, diperlukan filter yang jelas agar budaya dan agama dapat beriringan menuntun masyarakat ke arah akidah yang benar. Filter dimaksud adalah Filter Akidah dan Filter Amaliyah. Filter akidah menjadi factor utama karena merupakan dasar keimanan para pelaku budaya dan filter amaliyah merupakan penjelas apakah suatu budaya bisa menemukan legalitasnya atau tidak.


Sebelum menjadikan suatu budaya sebagai jembatan dakwah, perlu dikenal lebih dahulu keyakinan para pelaku-nya atas hukum kausalitas (sebab akibat), yang diklasifikasi-kan menjadi 4 (empat) macam :

1. Pelaku yang meyakini sebuah sebab bisa menghasilkan akibat tanpa ‘campur tangan’ Allah SWT. Seperti seseorang yang meyakini bahwa api dengan sendirinya tanpa ‘campur tangan’ Allah SWT bisa membakar dan makanan dengan sendirinya tanpa ‘campur tangan’ Allah SWT bisa mengeyangkan, maka ia secara ijma’, telah dinilai keluar dari agama Islam.

2. Pelaku yang meyakini sebuah sebab bisa menghasilkan akibat dengan kekuatan (rahasia) yang Allah ciptakan pada sebab tersebut. Seperti seseorang yang meyakini bahwa api bisa membakar dengan kekuatan yang Allah ciptakan padanya. Maka status agamanya masih diperselesaikan. Merujuk pendapat Ashah (pendapat yang lebih valid) ia tidak di hukumi kafir , namun termasuk orang fasiq dan ahli bid’ah.

3. Pelaku yang menyakini bahwa relasi (hubungan) antara sebab dan akibat bersifat mutlak, tidak terbantahkan dan pasti tidak meleset (talâzum ‘aqli) namun menyakini pula bahwa semuanya terjadi atas takdir Allah SWT. Seperti seseorang yang menyakini bahwa kebakaran atau rasa kenyang tergantung dengan api dan makanan, bila api dinyalakan dan didekatkan pada kertas misalnya, maka api pasti akan membakarnya dan bila seseorang makan ia akan kenyang, namun ia masih meyakini bahwa semuanya tidak keluar dari takdir Allah SWT. Orang yang berkenyakinan semacam ini dikategorikan sebagai orang yang bodoh dalam akidahnya.

4. Pelaku yang menyakini bahwa relasi sebab akibat tidak bersifat mutlak, bisa terbantahkan dan bisa meleset (talâzum ‘âdi). Semua kebaikan dan keburukan hanya tergantung pada takdir Allah. seperti seseorang yang menyakini bahwa memang pada umumnya api bisa mem-bakar dan makanan bisa mengenyangkan, namun tetap menyakini , bahwa pada hakikatnya keduanya hanyalah sebuah sebab yang bisa saja meleset dari kebisaaannya, yang menentukan kebakaran dan rasa kenyang hanyalah Allah SWT, maka dia dinilai sebagai seorang mukmin yang lurus akidahnya[2]

Pentingnya pemahaman tentang hukum kausalitas di atas adalah untuk menyikapi kenyakinan masyarakat atas budaya mereka yang cukup bervariasi. Semisal pitungan jodo (perhitungan perjodohan dalam adat jawa) yang oleh sebagian orang masih diyakini sebagai penentu keharmonisan dan kesialan sebuah keluarga,

Selain itu, tidak kalah pentingnya pula pengetahuan kekhawatiran atas kesialan atau petaka yang sering diasumsikan sebagai akibat pelanggaran suatu budaya tertentu. Dalam hal ini dikenal konsep tathayyur dan thiyarah. Tathayyur sendiri didefinisikan sebagai prasangka buruk dan thiyarah adalah aksi (perbuatan) yang muncul darinya. Sementara media atau perkara yang memicu kekhawatiran dan prasangka buruk terbagi menjadi 4 (empat) macam;

1. Perkara yang bisaanya (secara ‘âdatullâh) pasti (iththirad) membahayakan. Seperti bahaya racun bagi kesehatan, senjata tajam bisa mengancam jiwa dan semisalnya. Maka kekhawatiran dari hal-hal semacam ini dibenarkan (tidak haram) mengingat bisaanya akibat dari hal-hal tersebut pasti menjadi kenyataan (muhaqqaq) seperti khawatir lapar bila tidak makan, haus bila tidak minum dan semisalnya.

2. Perkara yang secara’âdatullâh sering kali (aktsariyah) membahayakan. Seperti keengganan berobat bagi orang yang sedang sakit akan memperlama atau memperparah sakitnya. Maka kekhawatiran semacam ini juga dibenar-kan.

3. Perkara yang secara âdatullâh masih simpang siur antara bahaya dan tidaknya. Keduanya memiliki kemungkinan yang sama. Seperti khawatir tertular penyakit. Maka kekhawatiran semacam ini hendaknya ditinggalkan, agar tidak menggiring pada thiyarah yang diharamkan.

4. Perkara yang secarea ‘âdatullâh (bisaanya) sama sekali tidak membahayakan. Seperti trasdisi menyembelih kambing dan mengitarinya karena khawatir tidak akan terpenuhi suatu hajat tertentu dan mitos-mitos semisalnya. Maka kekhawatiran pada hal tersebut tidak diperbolehkan (haram), mengingat kekhawatiran semacam ini tidak berdasarkan pada suatu sebab. Nabi Muhammad SAW bersabda :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الْحَسَنُ وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةَ

“Nabi SAW suka mengikuti tanda-tanda keberuntungan dan benci mengikuti tanda-tanda kesialan.” (HR. Ibn Majjah)

Kebencian Nabi SAW pada Thiyarah dalam Hadits tersebut mesti difahami pada kekhawatiran tentang mitos-mitos semacam ini karena termasuk su’uzhan atau berprasangka buruk kepada Allah. Bila seseorang sampai meyakininya, kemungkinan besar dia tidak selamat dari bahaya yang dikhawatirkan sebagai balasan atas prasangka buruknya. Sementara bila tidak meyakininya, maka ia akan selamat. Dalam sepenggal Hadits Qudsi disebutkan;

أَنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بيْ فَلْيَظُنُّ بيْ ما شَاءَ

“Aku (Allah) selaras dengan prasangka Hambaku, maka berprasangkalah padaku dengan apa yang ia mau.” (HR.Hakim, Ibn Hibban dan Ahmad)[3]

Untuk menilai suatu budaya bisa dijadikan jembatan dakwah, maka dalam prakteknya konseptathayyur tersebut diterapkan sebelum pendekatan dengan konsep hukum kausalitas. Semisal dalam pitungan jodo, sebelum mengenal keyakinan para pelaku, semestinya dikaji dulu apakah pitungan jodo tersebut layak dinilai sebagai sebuah sebab keharmonisan dan kesialan sebuah keluarga atau tidak? minimal termasuk dalam kategori ke tiga, yaitu perkara yang secara âdatullâh (bisaanya) masih simpang siur antara bahaya dan tidaknya. Andaikan layak dinilai sebagai sebuah sebab maka para pelakunya tinggal diarahkan pada akidah yang benar, minimal dengan meyakinkan bahwa semua peristiwa hanya terjadi atas takdir Allah SWT. Sementara bila suatu perkara tidak layak dinilai sebagai sebuah sebab, tentu sama sekali perkara tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

Di ruang lain terdapat pula konsep fa’l yang lebih umum dari pada thiyarah. Fa’l diartikan sebagai tanda yang menghantarkan kepada prasangka baik atau prasangka buruk dan tafa’ul bisa diartikan sebagai upaya memperoleh tanda yang bisa menghantarkan kepada prasangka baik atau prasangka buruk. Fa’l sendiri terbagi menjadi 3 (tiga) macam :

1. Fa’l (tanda) yang pasti menunjukkan keberuntungan. Seperti memberi nama baik, sehingga ketika nama itu dipanggil akan membuat nyaman pendengarnya, mende-ngar kata-kata yang memupuk optimisme dan mengutus diplomat yang rupawan agar berhasil. Fa’l semacam ini diperbolehkan, sebab bisa menjadi media khsnuzhan kepada Allah SWT, yang menjadi kewajiban hamba-Nya setiap saat.

2. Fa’l yang pasti menunjukkan kesialan. Seperti menghindari pemberian nama jelek, mendengar kata-kata yang mem-buat pesimis dan tidak mengirim diplomat yang berwajah jelek. Walaupun berpotensi menjadikan su’uzhan kepada Allah SWT namun fa’l ini tetap diperbolehkan, mengingat sebab-sebabnya masih dalam kerangka âdatullâh (bisaanya) yang harus dipercaya.

3. Fa’l yang mungkin menunjukkan keberuntungan atau kesialan. Semisal mencari isyarat kebaikan (tafa’ul) dengan mushaf Al-Qur’an. Fa’l seperti ini tidak diperbolehkan karena berpotensi menimbulkan su’uzhan kepada Allah dengan sebab-sebab diluar ‘âdatullâh.[4]

Fungsi utama dari konsep fa’l ini adalah untuk menyikapi dampak sebuah budaya pada prasangka baik dan buruk (khusnuzhan dan su’uzhan) para pelakunya. Bila sebuah budaya bisa mendorong optimisme (khusnuzhan) atas takdir Allah SWT bagi mereka, maka budaya tersebut bisa dinilai sebagai perantara khusnuzhan yang tentunya diperbo-lehkan. Sedangkan bila suatu budaya membuat pesimis (su’u-dhan) para pelakunya, maka budaya tersebut boleh dilakukan dan dilestarikan selama sebab-sebabnya masih dalam kerangka ‘âdatullâh (bisaanya). Sementara bila suatu budaya bisa mem-buat optimis dan peseimis sekaligus, maka budaya tersebut tidak boleh dilestarikan, sebab berpotensi menimbulkan su’uzhan kepada Allah SWT dengan sebab-sebab di luar ‘âdatullâh. Yang jelas, segala musibah hanya bisa terjadi atas izin Allah SWT, sebagaiman difirmankan :

مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنُ بِااللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ, وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ......

“Tidak ada Suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan member petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun : 11)

Syariat merupakan filter amaliyah. Maksud dari filter ‘amaliyah adalah seleksi atau penilaian pada suatu budaya, apakah budaya tersebut bisa ditolerir oleh syariat atau tidak. Bila suatu budaya mau tidak mau (lâzim) pasti mengandung larangan agama seperti penyia-nyiaan harta, maka budaya tersebut tidak layak dilestarikan. Sementara bila larangan agama tersebut masih bisa dihindari (ghair al-lâzim), maka sebisa mungkin larangan agama itu dihindari, sehingga budaya tersebut bisa menjadi jembatan dalam menyebarkan syiar Islam.

Kendati begitu, pada realitanya pengakomodiran suatu budaya tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh kesabaran dan keuletan. Namun setidaknya sedikit demi sedikit budaya yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat diupayakan agar tidak berseberangan dengan agama. Selaras dengan anjuran Imam Ghazali dalam Ihya’ nya ;

وَمنْ لَطَا ئِفِ الرِّياَضَةِ إِذَ كَانَ الْمُرِيْدُ لاَ يَخْسُوْ بِتَرْكِ الرُّعُوْنة رَأْسًا أَوْ بِتَرْكِ صِفَةٍ أُخْرَى وَلَمْ يُسَمَّحْ بِضِدِّها دَفْعَةً فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَنْقُلَهُ مِنَ الخُلُقِ الْمَذْمُوْمِ إِلَى خُلُقٍ مَذْمِوْمٍ اَخَرَ أخَفَّ مِنْهُ كَا الَّذِي يَغْسِلُ الدَّمَ بِالْبَوْلِ ثُمَّ يَغْسِلُ الْبَوْلُ بِالمَاءٍ إِذَا كَانَ الْمَاءُ لايُزِيْلُ الدَّمَ كَمَا يُرْغَبُ الصَّبِيُّ فِي الْمَكْتَبِ بِاللَّعبِ بالْكُرَّةِ وَالصَّوْ لَجان وَمَا أَشْبَهَهُ ثُمَّ يُنْقَلُ مِنَ اللعْبِ إِلى الزّينَةِ وَفَاخِرِ الثِّيَابِ ثًمَّ يُنْقَلُ مِنْ ذَلِكَ بالتَرغِيْبِ فِي الرِّيَاسَةِ وَطَلَبِ الْجَاهِ ثُمَّ يُنْقَلُ مِنَ الجَاهِ بِالتَّرْغِيْبِ فِي اْلاَخِرَةِ........

”Termasuk dari riadhah yang ampuh adalah bila seorang murid tidak mau meninggalkan kerendahan sama sekali atau meninggalkan sifat buruk yang lain dan tidak mau menggantinya dengan sifat (baik) yang berlawanan, maka sebaiknya seorang guru memindahnya dari akhlak tercela kepada akhlak tercela lain yang lebih ringan, separti seseorang yang membasuh darah dengan air seni kemudian membasuh air seni tersebut dengan air ketika air tidak bisa (secara langsung) menghilangkan darah. Seperti seorang bocah yang dibujuk masuk sekolah dengan bermain bola dan tongkat pemukulnya dan permainan yang semisalnya, lalu memindahnya dari (menggemari) permainan kepada (menggemari) perhiasan dan pakaian mewah, lalu darinya dialihkan agar menggemari kepemimpinan dan jabatan, dan dari jabatan dialihkan agar menggemari akhirat.”

Catatan kaki
Ditulis oleh Ahmad Syafi'i SJ, Rois Syuryah MWC NU Kec. Pulung, Dekan Fakultas Syariah INSURI Ponorogo dan Sekjen Ikatan Sarjana NU (ISNU) Kab. Ponorogo. Makalah ini disampaikan dalam acara Sarasehan yang bertempat di desa Serag, dusun krajan, kecamatan Pulung, kabupaten Ponorogo. Acara ini terselenggara atas kerja sama MWC NU Pulung dan mahasiswa KPM Stain Ponorogo tahun 2015
[1] Lihat Muhammad Nawawi, Mirqâh Shu’ûd at-Tashdîq (Surabaya: al-Hidayah, tt), 61.
[2] Ibrâhim bin Muhammad al-Bâjûri, Tuhfah al-Murîd (Surabaya: al-Hidayah, tt), 61.
[3] Muhammad ‘Ali Ibn Husein al-Makki al-Mâliki, Tahdzîb al-Furûq wa al-Qawâid as-Saniyyah fî al-Asrâr al-Fiqhiyyah (Beirut: ‘Alam al-Kutub, tt), Juz IV, hal. 259-260.
[4] Muhammad ‘Ali Ibn Husein al-Makki al-Mâliki, Tahdzîb al-Furûq wa al-Qawâid as-Saniyyah….., 261-263.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top