Teknik Belajar Menulis dengan Metode ATM

Wikipendidikan - Menulis adalah sebuah aktivitas yang produktif. Mengapa? Karena menulis merupakan salah satu kemampuan dalam berbahasa di mana kita memproduksi sesuatu melalui pengungkapan ide dan gagasan yang ada di pikiran kita ke dalam bahasa sebuah tulisan. Tulisan merupakan hasil produktif dari proses menulis. Sedangkan pelakunya disebut dengan penulis. Ada banyak sekali jenis tulisan yang bisa kita hasilkan, mulai dari esai, artikel, opini, feature, berita, kolom, puisi, cerpen, novel, dan tulisan-tulisan akademik ilmiah.

Para penulis pemula, biasanya mengalami banyak hambatan saat belajar menulis. Hal itu wajar, sebab menulis merupakan sebuah keterampilan yang harus terus kita asah agar hasilnya semakin bagus dari waktu ke waktu. Salah satu teknik yang bisa dipakai untuk belajar menulis adalah Metode ATM, yakni Amati, Tiru, Modifikasi. Metode ini merupakan teknik yang mudah dan cocok dipakai mereka yang sedang belajar menulis. Baca juga Creative Writing - Motivasi Menulis untuk Para Penulis Pemula


Kalau kita memperhatikan tulisan-tulisan yang tersebar di media massa tentang topik yang sama, sebenarnya ide pokok dari tulisan-tulisan itu sama. Hanya gaya penulisan atau penyajiannya saja yang berbeda. Setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Hal itu biasanya dipengaruhi oleh gaya penulisan orang lain atau tokoh yang diidolakannya. Semisal kita mengidolakan Andrea Hirata sebagai penulis novel terkenal, maka sangat besar kemungkinan kita mengikuti gaya penulisannya dalam usaha menciptakan sebuah karya.

Kembali pada Metode ATM, berikut cara penggunaannya dalam proses belajar menulis:

1. Amati

Pertama, amatilah sebuah tulisan. Bacalah secara berulang-ulang untuk menemukan ide pokok penulis dalam setiap paragraf yang menyusunnya. Dalam hal ini, kita membaca untuk menulis. Penting untuk diketahui bahwa paragraf adalah unit yang harus ada dalam sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang utuh, terdiri atas rangkaian ide-ide yang terdapat dalam unit-unit paragraf yang disusun sedemikian rupa dengan pola pengembangan tertentu yang saling berhubungan dan melengkapi.

Amatilah satu demi satu paragraf dalam sebuah tulisan, ide pokok terkadang terletak di awal, akhir, tengah, atau keseluruhan paragraf. Catat ide pokok yang kita temukan ke dalam sebuah kalimat singkat yang nantinya akan kita susun menjadi sebuah outline atau kerangka tulisan.

Di sinilah kemampuan analisis kita diuji, seberapa tajam kita mampu menganalisis sebuah tulisan, dan seberapa dalam kita mampu menyelami makna-makna yang tak terkatakan dibalik rangkaian kata-kata. Hindari penyimpulan dini tanpa analisis yang mendalam terhadap sebuah tulisan. Hal ini merupakan bagian penting dari membaca analitis, di mana kita dituntut untuk kritis terhadap apa saja yang kita baca.

2. Tiru

Makna meniru di sini bukan mengcopy-paste mentah-mentah tulisan orang lain, melainkan meniru struktur yang digunakan oleh seorang penulis dalam menyajikan sebuah tulisan. Dengan kata lain, tiru bagaimana teknik si penulis dalam membuat lead yang menarik, pola pengembangan paragraf yang digunakan, transisi antar paragraf, dan juga gaya bahasa yang dipakai. Pastikan bahwa tulisan yang kita tiru benar-benar berkualitas, atau paling tidak penulisnya sudah punya branding yang cukup bagus dalam dunia kepenulisan.

Boleh dalam belajar kita meniru bagaimana prinsip yang digunakan seorang penulis sampai ia meraih kesuksesan dalam tulisannya. Dalam proses belajar menulis, kita tidak harus membuat sesuatu yang benar-benar orisinil dan unik sejak awal. Tak apa kita menggunakan penulis lain untuk modelling.

3. Modifikasi

Setelah kita mengamati dan meniru, saatnya kita melakukan modifikasi. Di sinilah kita dituntut untuk benar-benar kreatif. Gaya penulisan dan topik pembahasan boleh sama, namun kita harus punya sesuatu yang baru dan berbeda untuk kita tawarkan. Itulah mengapa membaca itu sangat penting sebelum kita menulis. Dengan membaca kita akan punya banyak referensi dan wawasan yang luas sebagai bahan untuk meramu tulisan kita. Dengan wawasan pengetahuan yang luas, kita akan mampu menguraikan sebuah persoalan secara lebih mendalam dan perspektif yang lebih luas dari uraian yang pernah ada sebelumnya, tidak sekedar mendeskripsikan ulang dengan kata-kata yang berbeda saja.

Belajar menulis dengan metode ATM seperti yang saya uraikan di atas menurut saya merupakan salah satu teknik yang cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis. Sejalan dengan ungkapan yang mengatakan bahwa tak ada bahasa yang lebih mudah dipahami manusia selain contoh. Dengan teknik ATM di atas, kita mengambil contoh tulisan orang lain untuk diamati, ditiru, dan dimodifikasi sedemikian rupa. Setelah itu, kita tidak perlu lagi menggunakan tulisan orang lain sebagai contoh. Kita hanya perlu mengandalkan tool pemberian Tuhan berupa pikiran dan ketajaman daya ingat kita.

Setelah kita melewati proses meniru dan mengamati, selanjutnya barulah kita melakukan proses modifikasi dengan tujuan karya tulis kita berbeda, bahkan lebih menarik dari karya orang lain yang kita amati dan tiru. Dalam tahap memodifikasi inilah kita menampilkan ciri khas tulisan kita.

Metode amati, tiru, modifikasi ini merupakan metode yang cukup populer digunakan. Tidak hanya dalam konteks belajar menulis, tapi juga dalam berbagai bidang kehidupan yang lain seperti bisnis. Kita bisa melihat bagaimana kesuksesan bisnis orang-orang China dalam menguasai pasar. Sayangnya, mereka hanya sampai pada tahap meniru, tanpa memodifikasi. Metode ATM tidak mengajarkan untuk sekedar meniru, tapi juga memodifikasinya agar menjadi lebih baik dan menarik dibandingkan pesaing kita yang lebih baik.
Wikipendidikan
Back To Top