Rabu, 16 November 2016

Tata Cara Melakukan Taubat Nasuha Kepada Allah

Mengakui atau tidak, pada dasarnya manusia selama hidupnya tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Entah itu yang bersifat kasat mata yang dilakukan oleh panca indera, maupun yang bersifat batiniah yang dilakukan oleh hati. Oleh karena itu Allah menyediakan sebuah pintu bernama taubat nasuha untuk membersihkan segala dosa yang telah dilakukan. Taubat nasuha merupakan suatu keniscayaan manusia, karena tidak satupun keturunan Adam yang pernah hidup di dunia ini luput dari dosa. Setiap manusia, tanpa terkecuali, pasti pernah melakukan dosa. Hanya para nabi dan malaikat saja yang diberi kekhususan oleh Allah luput dari dosa dan maksiat.


Taubat secara bahasa berarti kembali. Kembali meninggalkan segala hal yang tercela dalam pandangan agama. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing. Terkait taubat ini, Abdul Wahhab As-Sya'roni memaparkan tentang tentang tingkatan-tingkatan taubat sebagai berikut:
  1. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.
  2. Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertaubat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan seperti itu adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.
  3. Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.
Kita sebagai manusia biasa tidak pernah lepas dari salah dan dosa, entah itu kita sadari atau tidak. Karena kita hanyalah hamba Allah yang lemah dan tidak punya daya apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Kita juga bukan manusia yang mulia seperti nabi dan rasul yang memiliki sifat ma'sum.

Dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan memiliki efek terhadap keimanan kita, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah yang artinya: Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda:
"Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman. Dan tidak akan minum khamer, di waktu minum jika ia sedang beriman. Dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat: Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman." (HR. Bukhari, Muslim)
Kaitannya dengan hadis di atas, Al Qadhi ‘Iyadh berkata :
"Ada sebagian ulama’ yang menyebutkan bahwa hadis di atas sebenarnya memperingatkan beberapa poros perbuatan maksiat dan peringatan agar seseorang berhati-hati darinya. Rasulullah SAW. menyebutkan perbuatan zina dengan tujuan untuk memperingatkan umat dari berbagai dosa yang bersumber dari dorongan syahwat. Beliau menyebutkan tindak kriminal pencurian untuk memperingatkan umat dari segala bentuk keserakahan terhadap materi dunia dan ambisi untuk memiliki harta yang haram. Beliau menyebutkan khamr untuk memperingatkan umat agar menjauhi segala sesuatu yang bisa menghalangi mereka dari Allah dan juga yang bisa menyebabkan mereka lalai terhadap hak-hak-Nya. Sedangkan kalau disebutkan tentang perampasan barang, maka tujuannya tidak lain supaya umat tidak memandang rendah hamba Allah, tidak mudah melecehkan mereka dan menyarankan agar mereka mau menimbun harta dengan benar."
Sementara itu Al Hasan dan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-thabari telah berkata:
“Cara memaknai hadits ini bahwa predikat terpuji untuk para kekasih Allah sebagai seorang yang beriman, secara otomatis akan dicabut dari orang yang melakukan dosa-dosa tersebut. Dan setelah itu predikatnya berganti menjadi buruk, yakni disebut sebagai seorang pencuri, pezina, pecundang, dan seorang yang fasiq."
Telah disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: "Makna hadits ini bahwa cahaya iman akan ditarik dari orang yang melakukan beberapa perbuatan dosa besar tersebut. Cara mengartikan seperti ini terdapat dalam salah satu hadits marfu’. Al Mulhib berkata, “ (makna hadits ini bahwa) kemampuan mata hati untuk melakukan ketaatan kepada Allah telah dicabut dari diri orang yang melakukan perbuatan maksiat tersebut.

Modal utama dalam melakukan taubat nasuha adalah dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allah lah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat. Jangan sampai berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat Allah itu sangat luas. Namun jangan pula karena keyakinan akan luasnya rahmat Allah ini justru membuat kita semakin berani untuk berbuat dosa dan mengulur-ulur taubat. Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Allah swt sungguh mengistimewakan orang-orang yang melakukan pertaubatan nasuha, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda.

Adapun mengenai tata cara melakukan taubat nasuha dapat kita ketahui dari pendapat dan uraian para ulama'. Para ulama' telah bersepakat bahwa taubat seseorang senantiasa akan diterima oleh Allah selama nyawanya belum sampai di tenggorokan. Keterangan seperti ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Rasulullah. a) Hendaklah dia meninggalkan maksiat yang dia kerjakan b) Hendaklah dia memiliki penyesalan setelah mengerjakan perbuatan maksiat tersebut c) Bertekad kuat dalam hati untuk tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat itu. Selain itu, juga bertekad kuat untuk melakukan amalan-amalan yang mendatangkan keridhaan Allah. Allah senang melihat hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaubat. Dalam Al- Qur'an banyak ayat yang menyebut soal iman dan taubat secara bersama-sama. Bahkan memerintahkan orang-orang beriman agar bertaubat. Ayat-ayat tersebut di antaranya Q.S at- Tahrim ayat 8, Q.S An-nur: 34, Q.S Al-Baqarah: 222.

Seandainya seseorang telah bertaubat dari sebuah dosa, namun ternyata mengulangi lagi perbuatan dosa yang sama, maka taubatnya (yang pertama) tidak dianggap batal (sekalipun dia dalam hal ini harus memperbarui taubatnya). Begitu juga apabila dia telah bertaubat dari sebuah dosa, namun teryata dia mengerjakan jenis perbuatan dosa yang lain, maka taubatnya dianggap sah.

"Perumpamaan orang yang menunda taubat itu seperti orang yang ingin mencabut suatu tanaman, namun terbayang olehnya bahwa untuk mencabutnya diperlukan tenaga ekstra, lalu ia menangguhkannya, ia tidak sadar bahwa dirinya akan semakin tua dan kekuatannya berkurang, sedangkan pohon itu akan bertambah kokoh." (Imam Al Ghazali- Ihya Ulumudin)

Sahabat, apabila kita mau berfikir dan merenung sejenak, mencoba untuk menyelami diri kita masing-masing dengan hati yang bersih dan jujur, akan kita temukan banyak sekali hal yang begitu memalukan apabila kita menyadari betapa banyaknya dosa yang setiap hari kita lakukan dan betapa malasnya kita untuk memohon ampunan kepada Allah..

Tak terbayangkan, sudah berapa banyak dosa serta kemaksiatan yang kita lakukan sampai detik ini. Kita lakukan setiap hari tanpa kita sadari dan tanpa kita sesali. Atau mungkin sadar, tapi pura-pura tidak menyadarinya dengan dalih Tuhan itu Maha Pengampun.

Di satu waktu kita berbuat dosa, lalu kita sadar dan menyesalinya, meminta ampunan kepada Allah. Namun seiring berjalannya waktu dengan tanpa rasa malu, kita mengulangi lagi dan lagi dosa yang sama. Itupun tidak hanya terulang sekali dua kali, namun berkali-kali.

Ya, itulah bukti betapa lemahnya diri kita, betapa masih lemahnya iman kita. Dan memang, manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jika tanpa cahaya hidayah-Nya. Jika tanpa Rahmat dan pertolongan-Nya, kita tidak bisa apa-apa. Kita tidak akan mampu melaksanakan kewajiban kita kepada-Nya, juga menjauhi larangan-Nya. Nikmat iman dan islam ini merupakan nikmat Allah yang sangat besar bagi kita.

Seseorang memang tidak dapat mengetahui apakah taubatnya diterima atau ditolak. Namun demikian, ada tanda-tanda yang bisa diamati ketika taubat seseorang itu diterima oleh Allah. Di antara tanda-tanda tersebut adalah seseorang dapat merasakan bahwa seakan-akan dirinya terjaga dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Muncul juga kesadaran bahwa apa yang disenangi oleh hawa nafsunya sebelum ia bertaubat, sudah tiada lagi keinginan dalam dirinya untuk mengulainginya dan yang tersisa hanyalah kesedihan yang disesalinya. Seseorang juga menjadi lebih suka berdekatan dengan orang-orang yang gemar berbuat kebajikan, serta menjauhkan diri dari orang-orang yang gemar berbuat kejahatan dan kekejian. Dia juga merasa cukup atas hal-hal yang sifatnya duniawi, dan memandang bahwa amalan-amalan yang banyak untuk kehidupan akhirat masih sangat kurang dan sedikit. Ia merasa hatinya senantiasa sibuk dengan hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah, dan kosong dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah. Ia sanggup menjaga lidah, senantiasa berpikir dan merenung, serta mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top