Selasa, 01 November 2016

Hadits Tentang Mencintai Sesama Muslim Seperti Mencintai Diri Sendiri

Islam adalah agama yang penuh cinta damai dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Jauh dari berbagai tudingan negatif dari luar yang seringkali menuduh islam sebagai agama pembawa konflik dan perpecahan, bahkan p3perangan. Namun sayangnya, seringkali umat islam sendiri tidak bisa menampakkan sisi kasih sayang dari ajaran agamanya sendiri. Justru semakin banyak orang islam sendiri yang dengan atas nama islam, menampilkan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai humanisme islam itu sendiri.

Fenomena semakin sering terjadinya konflik antar sesama umat islam dewasa ini mengingatkan saya akan salah satu hadits Rasulullah saw. agar mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai diri sendiri. Inilah prinsip cinta kasih dan toleransi yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap muslim.. Sebagai seorang muslim dan makhluk sosial tentunya, kita diperintahkan untuk merealisasikan keimanan kita dengan berbuat baik dan mencintai sesama muslim seperti kita mencintai diri kita sendiri, Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi saw.:
Artinya: “Salah seorang diantara kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Para ulama berkata, “Makna hadits di atas adalah seseorang tidak akan memiliki keimanan yang sempurna (bukan bermakna tidak beriman). Sebab pokok keimanan sudah bisa dicapai oleh seseorang sekalipun tidak memiliki sifat yang disebutkan di dalam hadis tersebut. Sedangkan makna mencintai saudaranya adalah pada hal-hal yang ada kaitannya dengan ketaatan dan yang hukumnya mubah, bukan hal-hal yang haram. Keterangan ini bisa dilihat pada riwayat versi An-Nasaa’i yang terungkap dalam hadis berikut: “Salah seorang dari kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya pada hal-hal yang menyangkut kebaikan sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”


Asy-Syarikh Abu ‘Amr bin Ash-Shalah berkata, “Hal ini terkadang dikategorikan sebagai sesuatu yang sulit direalisasikan. Padahal sebenarnya bukanlah seperti itu. Sebab makna hadis itu adalah tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian proses realisasi hal ini (mencintai saudara sesama muslim seperti mencintai diri sendiri) sudah bisa dicapai hanya dengan tidak berniat menyaingi saudaranya itu dengan tujuan yang kurang baik. Misalnya dengan tidak ingin mengurangi kenikmatan yang diterima oleh salah seorang saudaranya. Bersikap seperti ini sebenarnya cukup mudah untuk orang yang memiliki hati sehat dan sebaliknya akan sulit bagi orang yang hatinya menyimpan rasa dendam.”

Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban dijelaskan لايبلغ عبد حقيقة الايمان (seseorang tidak akan mencapai hakikat keimanan), maksudnya adalah kesempurnaan iman. Tetapi orang yang tidak melakukan apa yang ada dalam hadis ini, dia tidaklah lantas menjadi kafir. Jadi hadis di atas merupakan salah satu indikasi dari sempurnanya iman seseorang, bukan berarti bahwa seseorang yang belum bisa mencintai sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri lantas dihukumi kafir.

Terkait dengan kata يُحِبَّ (mencintai) dalam redaksi hadis di atas, Imam Nawawi mengatakan, “Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat diindera, seperti bentuk, atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya. Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari (kebebasan), bukan bersifat alami atau paksaan.

Maksud lain dari cinta di sini adalah cinta dan senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia dapatkan, baik dalam hal-hal yang bersifat indrawi atau maknawi.” Abu Zinad bin Siraj mengatakan, “Secara dzhahir hadis ini menuntut kesamaan, sedangkan pada realitasnya menuntut pengutamaan, karena bagaimanapun juga pada dasarnya setiap orang senang jika dirinya lebih dari yang lainnya. Maka apabila dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, berarti ia termasuk orang-orang yang utama."

Secara substansial, hadits di atas mengajarkan kepada kita tentang prinsip egaliter, toleransi, kasih sayang terhadap sesama, empati, dan mementingkan kemaslahatan bersama. Orang islam yang satu dengan lainnya bagaikan satu tubuh, di mana ada salah satu anggota yang sakit, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakannya. Hanyalah orang-orang bodoh saja yang mau menyakiti anggota tubuhnya sendiri. Bukankah selamanya kedamaian dan cinta kasih itu lebih indah daripada konflik dan permusuhan? Di era banjir informasi seperti saat ini, sebagai muslim kita harus benar-benar cerdas membaca situasi dan kondisi. Jangan mudah terprovokasi dan termakan isu yang sebenarnya berusaha memecah belah persatuan umat dengan misi mengadu domba sesama umat islam. Budaya bertabayyun harus terus kita suarakan demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan umat islam.

Referensi: Imam An-Nawawi, Shahih Muslim Bi Syarhin-Nawawi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi (Kairo: Darul Hadits, 1994), 503.
Wikipendidikan
Back To Top