Minggu, 20 November 2016

Ternyata, Inilah Faktor Penyebab Tidak Yakin Jaminan Rezeki dari Allah

Sungguh tepat ungkapan yang mengatakan bahwa “Kefakiran itu berpotensi menimbulkan kekufuran.” Masalah rezeki, terutama yang berkaitan dengan harta benda, merupakan persoalan yang tak ada habisnya difikirkan dan diusahakan oleh manusia. Bahkan, sampai habisnya umur, tak cukup untuk memikirkan urusan rezeki. Sifat manusia yang selau ingin lebih dan lebih, membuat kebanyakan dari kita tak pernah puas dan melupakan rasa syukur atas yang telah diperoleh. Begitu banyak dari kita yang saking terlalu sibuk bekerja demi mencukupi kebutuhan finansial, hati, pikiran, waktu, dan tenaga kita habis hanya untuk mencari kepuasan hawa nafsu dan keinginan-keinginan kita yang bersifat material. Baca juga Wasiat Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Tentang Empat Hal yang Merusak Agama

Hawa nafsu merupakan musuh dalam selimut yang nyata-nyata tak pernah berhenti mendorong manusia pada kerusakan. Akan tetapi, meskipun ia adalah musuh, tapi menusia begitu mencintainya. Sehingga kebanyakan manusia menutup mata atas keburukan terselubung yang terdapat padanya. Sama seperti ketika mencintai seseorang, maka segala aib dan kekurangan pada diri orang itu tidak akan nampak, karena tertutup oleh rasa cinta itu tadi. Begitu pula kalau kita mencintai hawa nafsu. Padahal, telah terbukti bahwa awal dari penyesalan, kecelakaan, dosa, kehinaan, dan berbagai macam penyakit dalam diri manusia, semenjak dahulu kala hingga hari kiamat kelak, datangnya dari hawa nafsu yang dituruti.


Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa salah satu perkara yang menjadi penghalang manusia dalam beribadah adalah masalah rezeki. Sebab perkara rezeki ini merupakan salah satu bala' atau cobaan yang besar bagi masyarakat pada umumnya. Cobaan yang membuat hati kebanyakan orang terbuai olehnya; cobaan yang menjadi penyebab kesusahan hati banyak orang; cobaan yang menjadikan banyak orang menyianyiakan umurnya hanya untuk terus bersusah payah mengejarnya dan melalaikan kewajibannya beribadah; cobaan yang banyak menyebabkan perilaku buruk manusia; cobaan yang membuat banyak orang berperilaku menyimpang dari aturan-aturan agama dan jauh dari rahmat Allah SWT.

Persoalan Rezeki merupakan cobaan yang membuat banyak manusia lupa akan tugasnya sebagai hamba yang harus tunduk pada Tuhannya. Mereka hidup dalam keadaan lupa akan tanggungjawabnya kepada Tuhannya. Sehari-hari, hati, pikiran, dan perilakunya tercurahkan seluruhnya untuk mengurus rezeki dan hubungan sesama manusia. Akibatnya, mereka hidup dengan keadaan hati yang gelap dan fisik yang serba kepayahan. Baca juga Integrasi Aqidah dan Tasawuf dalam Islam

Padahal, Allah SWT telah berfirman dan bersumpah di dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa Dia telah menanggung rezeki setiap makhluknya. Begitu pula para nabi dan ulama' senantiasa memberikan nasehat-nasehat tentang jalan menuju keridhaan Allah SWT. Para ulama' juga telah mengarang banyak kitab sekaligus memberikan teladan kepada manusia, serta menakut-nakuti dengan ancaman siksa di akhirat kelak.

Namun kebanyakan manusia tidak mau mengambil pelajaran dari semua itu dan tidak memiliki ketenangan hati. Tetap saja masih bersusah payah mencari rezeki yang telah dijamin oleh-Nya. Takut kalau esok hari tidak bisa makan, khawatir kalau rezekinya tidak dijamin. Semua itu merupakan indikasi minimnya manusia dalam merenungkan ayat-ayat-Nya, sabda Rasulullah SAW, nasehat-nasehat para ulama', serta minim tafakkur atas segala ciptaanNya. Masih suka menyerah dengan godaan setan, baik setan yang tak terlihat secara kasat mata maupun yang berbentuk manusia. Hal-hal di atas menyebabkan hati kita rapuh dan miskin keyakinan tentang ayat-ayat Allah SWT. Termasuk ayat-ayat yang berkaitan dengan rezeki.

Imam Abdullah al-Haddad dawuh, "Orang yang hatinya terlalu menyenangi hal-hal yang bersifat duniawi, dan dia berusaha memperolehnya dengan tujuan untuk menikmatinya, maka dia termasuk golongan orang-orang yang cinta dunia dan jauh dari sifat zuhud. Sedangkan orang yang berusaha memperolehnya untuk digunakan dalam berbagai jalan kebaikan, maka hal itu merupakan langkah mulia jika apa yang dia lakukan sesuai dengan apa yang dia niatkan (amalnya baik dan niatnya tulus).
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top