Senin, 21 November 2016

Ilmu Kalam : Pengertian, Objek Kajian, dan Aliran-aliran di dalamnya

Pengertian dan Objek Kajian Ilmu Kalam

Dalam catatan sejarah islam, dimulai pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib sampai sekarang, banyak bermunculan firqah atau golongan yang berbeda dan bahkan bertentangan satu sama lain dalam konsep teologi yang memicu perdebatan berkepanjangan. Hal ini merupakan bukti kebenaran Rasulullah SAW. yang menyatakan bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan, di mana hanya ada satu golongan yang akan selamat. Ilmu Kalam adalah ilmu yang berbicara tentang aspek-aspek ketuhanan atau teologi dan berbagai perdebatan dalam islam dengan dasar-dasar aqliyah (rasional) maupun naqliyah. Menurut Ibnu Khaldun, ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan untuk mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil fikiran (logika) dan juga berisi tentang bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan menyimpang dari Al-Quran dan sunnah.

Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Di samping menggunakan dalil-dalil logika, juga menggunakan dalil-dalil naqliyah yang bersumber dari Al-Quran dan hadis. Ilmu kalam adalah ilmu yang di dalamnya dibahas tentang keyakinan-keyakinan dalam agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Kebenaran dalam ilmu kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada Al-Quran dan hadis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu kalam adalah salah satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan segala yang berkaitan dengan-Nya, seperti Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, ketetapan-Nya, dan lain sebagainya. Tujuan ilmu kalam melakukan interpretasi, penguatan, dan pembuktian kebenaran kalam Tuhan berdasarkan dukungan akal sebagai interpreter untuk menggali pesan-pesan Tuhan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filosofis. Karena melibatkan intervensi akal, maka produk kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu kalam pun bersifat relatif.

Aliran-aliran dalam Ilmu Kalam

Dalam ruang lingkup pembahasan ilmu kalam, ada aliran-aliran yang lazim dikenal dengan aliran teologi islam. Apa saja aliran-aliran dalam ilmu kalam itu? Berikut pembahasannya.

Secara historis, ketika khalifah Al-Ma’mun berkuasa, setidaknya telah ada enam golongan atau firqoh dalam internal umat islam di mana secara formal mereka dipisahkan oleh perbedaan dalam konsep teologi (ketuhanan/ketauhidan/akidah). Enam golongan itu adalah Khawarij, Murji’ah, Syi’ah, Jabariyah, Qadariyah, dan Mu’tazilah.

Khawarij merupakan golongan yang memiliki pendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar dalam pandangan islam adalah kafir. Selain itu, mereka memusuhi Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, dan juga Amru bin ‘Ash. Murji’ah adalah golongan yang lebih moderat dalam memandang orang yang melakukan dosa besar. Syi’ah adalah golongan yang terlalu fanatik kepada khalifah Ali bin Abi Thalib hingga mereka mengingkari keberadaan khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Jabariyah adalah golongan yang meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi mutlak kehendak Allah. Qadariyah adalah kebalikan dari Jabariyah, sedangkan Mu’tazilah adalah golongan yang mengedepankan superioritas akal daripada wahyu.

Aliran Khawarij

Aliran Khawarij muncul ketika terjadinya perang Shiffin, yaitu perang yang terjadi antara Mu’awiyah bin Abu Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib di tebinng sungai Furat yang kini terletak di negara Syiria (Syam) pada 1 Shafar tahun 37 hijriyah.

Orang-orang yang berada dalam golongan ini berasal dari para pengikut Ali bin Abi Thalib yang meninggalkan barisan perang karena tidak menyetujui sikap atau keputusan sayyidina Ali yang menerima Tahkim/arbitrase sebagai jalan keluar guna menyelesaikan konflik tentang khalifah dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Tokoh golongan ini di antaranya adalah Abdullah bin Wahab al-Rasyidi, Urwah bin Hudair, dan Mustarid bin sa’ad.

Aliran Murjiah

Murjiah berasal dari kata arja-a yg berarti mengharap. Karena keterlaluan berharap, mereka tidak segan melakukan apa saja. Hal itu disebabkan mereka mempunyai harapan terlalu besar untuk diampuni dan dimaafkan. Kaum Murjiah adalah kaum yg beriktikad (berkeyakinan) bahwa dosa besar tidak masalah kalau disertai iman. Jadi, seseorang tidak perlu bertaubat karena berbuat dosa besar. Menurut mereka, asalkan orang itu beriman, nanti imannya itu dapat mengikis atau kebal terhadap dosa. Mereka menyepelekan dosa besar, karena dosa besar dianggap tidak ada dampaknya terhadap iman seseorang.

Menurut kaum Murjiah, taat dan ibadah tidak terlalu penting. Yang penting adalah iman, ikhlas, dan cinta kepada Allah dan Rasul. Tanpa ibadah dan taat pun, kalau ia ikhlas dan yakin serta cinta kepada Allah dan rasulnya, seseorang akan masuk surga.

Iblis menurut mereka sangat arif terhadap Allah. Kalau hanya sekedar maksiat dan tidak mau menaati perintah Allah, ia tidak akan dilaknat. Ia menjadi kafir oleh sebab takaburnya, bukan karena maksiatnya. Ia sebenarnya mukmin, hanya tidak ikhlas dan tidak ada mahabbahnya kepada Allah ia menjadi takabur.

Kaum murjiah tidak mengakui bahwa iman bercabang-cabang seperti yang diyakini oleh kaum Ahlussunnah wal jama’ah, yaitu lebih dari 70 cabang, seperti yg disabdakan rasulullah.

"Iman lebih dari tujuh puluh cabang dan malu adalah satu cabang daripada iman." (HR. Bukhari-Muslim)

Aliran ini jelas sangat berbahaya, karena membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbuat dosa. Menyebabkan seseorang menunda-nunda dan mengulur-ulurkan waktu untuk beramal, karena menurut mereka yg penting sudah niat, soal amal perbuatan belakangan. Akibatnya, orang tidak segan-segannya melakukan dosa besar karena bagaimanapun besarnya, kalau masih beriman, tidak akan mendapat siksaan.

Aliran Murjiah ini sebenarnya muncul sebagai respon atau reaksi atas faham Khawarij yang mengkafirkan orang yang berdosa besar. Golongan Murjiah’ah menangguhkan penilaian mereka terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim dalam perang Shiffin. Hal ini lantaran mereka meyakini bahwa hanya Tuhan lah yang mengetahui keadaan iman seseorang.

Aliran Syi’ah

Istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut Ali bin Abi thalib (Syi’ah Ali). Syi’ah merupakan golongan yang sangat fanatik kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. atau yang dikenal dengan sebutan ahlul bait.

Munculnya kelompok ini bersamaan ketika Kahlifah Ali bin Abi Thalib banyak mendapatkan tekanan dari Mu’awiyah. Karena begitu fanatiknya kepada Khalifah Ali, hingga mereka mengingkari keberadaan khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Aliran Qadariyah

Aliran Qadariyah adalah aliran yang lebih mendahulukan akal dan pikiran daripada prinsip-prinsip yang berasal dari Al-Quran dan sunnah. Al-Quran dan sunnah mereka tafsirkan berdasarkan logika mereka sendiri. Aliran ini pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Juhaini dan temannya Ghailan al-Dimsiqy pada tahun 70 hijriyah. Menurut Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatannya; manusia merdeka dalam tingkah lakunya.

Aliran ini memiliki banyak persamaan dengan aliran Mu’tazilah, sehingga aliran ini sering disebut sealiran dengan Mu’tazilah. Di antara doktrin pokok aliran Qadariyah ini adalah orang yang melakukan dosa besar tidaklah kafir, namun tidak pula mukmin, akan tetapi fasik dan konsekuensinya akan masuk neraka selamanya.

Bagi mereka, Allah tidak menciptakan amal perbuatan manusia, melainkan manusia sendiri yang menciptakannya dan karena itulah maka manusia akan menerima pembalasan surga atas segala amal baik, dan menerima balasan siksa neraka atas segala amal buruk. Dalam pandangan mereka, Allah itu Esa, dalam arti bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat azali, seperti ilmu, hayat, sama’, dan sifat-sifat Allah yang lainnya. Akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun seandainya Allah tidak menurunkan agama.

Aliran Jabariyah

Aliran Jabariyah muncul sekitar tahun 70 hijriyah, hampir bersamaan dengan munculnya aliran Qadariyah. Aliran ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham yang kemudian disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan.

Munculnya aliran ini bisa dikatakan sebagai respon atas munculnya aliran Qadariyah. Daerah kelahirannya pun berdekatan. Qadariyah muncul di Irak, sedangkan Jabariyah muncul di Khurasan. Di antara doktrin aliran ini adalah manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat (qudrat) dan untuk memilih (iradat). Semua gerak dan perilaku manusia di dunia ini ditentukan oleh Allah dan kelak dipertanggungjawabkan di akhirat.

Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah sering disebut sebagai aliran rasionalis. Aliran ini berpandangan bahwa orang yang berbuat dosa besar ditempatkan pada posisi “netral” yaitu posisi antara kafir dan mukmin atau tidak kafir tapi juga tidak mukmin. Posisi ini disebut sebagai al-manzilah bain al-manzilatain. Tokoh aliran ini di antaranya ialah Washil bin Atha’, Abu Huzail al-Allaf, Al-Nazzam, dan Al-Jubba’i.

Referensi:
  1. Tgk. H.Z.A. Syihab, Akidah Ahlus Sunnah versi salaf-khalaf dan posisi asya'irah di antara keduanya.
  2. Muchsin, Materi Pelatihan Da’i dan Da’iyah Muda oleh PC. LDNU Ponorogo.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top