Minggu, 06 November 2016

Gerakan Literasi Sekolah Tidak Ada Artinya?

Belum lama ini, Gerakan Literasi Sekolah dilaunching oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan. Gerakan ini digadang-gadang dapat menumbuhkembangkan tradisi literasi di sekolah melalui program pembiasaan membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Namun kemudian menteri pendidikan Muhajir Efendi mengkritisi prorgram pembiasaan membaca ini dengan menyatakan bahwa gerakan membaca 15 menit sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai tidak ada artinya kalau buku yang dibaca oleh peserta didik tidak jelas. Apalagi kalau sang guru tidak membantu peserta didik untuk memahami isinya.

Pak menteri mengatakan kalau kemampuan literasi itu tidak hanya diukur dari sekedar lancarnya peserta didik dalam membaca. Akan tetapi juga diukur dari kemampuan mereka dalam memahami isi buku yang dibacanya. Beliau meragukan kemampuan peserta didik dalam memahami isi buku yang dibacanya. Mengingat, kata beliau, pola pendidikan bangsa kita hanya cenderung menuntut peserta didik agar lancar membaca, tanpa memprioritaskan aspek pemahaman terhadap materi/isi bacaan.

Berdasarkan asumsi di atas, pak mendikbud menghimbau kepada para guru agar berperan lebih aktif dalam menyukseskan visi dan misi Gerakan Literasi Sekolah. Guru tidak hanya sekedar menyuruh peserta didiknya untuk membaca 15 menit sebelum proses belajar mengajar dimulai, namun para guru juga harus membantu masing-masing peserta didik untuk memahami isi dari buku yang mereka baca. Guru tidak boleh cari enaknya saja karena mereka dibayar mahal oleh negara. Oleh karenanya, mereka memiliki tanggungjawab untuk meningkatkan pemahaman para peserta didiknya melalui program Gerakan Literasi Sekolah.

Apa yang diungkapkan pak menteri di atas mengingatkan kita pada perintah membaca pada wahyu pertama Al-Quran. Dalam tafsir al-Misbah, makna iqra' dalam ayat itu tidak hanya bermakna sekedar membaca tanpa memahami apa yang dibaca. Lebih dari itu, membaca juga bermakna memahami dan menganalisis. Tidak hanya dalam konteks membaca teks yang tertulis, tapi juga dalam membaca konteks atau realitas kehidupan alam semesta ini.

Oleh karenanya, kritik bapak menteri di atas perlu dijadikan bahan refleksi dan ditindaklanjuti oleh para guru. Intinya, guru harus berperan aktif menjembatani antara isi buku dan pemahaman peserta didik. Dengan begitu, besar harapan kita melalui program Gerakan Literasi Sekolah, budaya literasi di dunia pendidikan kita semakin meningkat dan tumbuh subur.


Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top