Literasi dalam Al-Quran

Wikipendidikan.com - Al-Quran adalah kitab suci umat islam yang juga merupakan mu’jizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Quran merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Sedangkan literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Dalam arti luas, makna literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, akan tetapi juga termasuk menganalisis, meneliti, mengevaluasi, dan lain sebagainya. Gerakan literasi di kalangan umat islam dimulai sejak turunnya wahyu pertama al-Quran yang berisi tentang perintah iqra’ yang berarti membaca dalam konteks seluas-luasnya. Tidak sekedar membaca teks tertulis, namun juga membaca alam semesta seisinya.

literasi al quran, makna literasi, arti literasi, literasi adalah

Embrio tradisi literasi di kalangan umat islam diawali dengan ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah, yaitu ayat 1-5 Surat Al-'Alaq, yang diturunkan pada malam hari senin 17 ramadhan di gua Hira' ketika Rasulullah berusia 41 tahun. Ayat ini tidak hanya sekedar motivasi membangun peradaban islam melalui tradisi literasi, namun secara eksplisit Allah secara langsung memerintahkan manusia untuk membangun peradaban islam melalui gerakan literasi dengan landasan keihklasan dan prinsip tauhid, yakni dengan bismirabbika (ikhlas semata-mata karena Allah), bukan untuk tujuan-tujuan pragmatis atau berlandaskan pada hawa nafsu dan ego pribadi. Baca juga Literasi dalam Lintasan Sejarah

Pada perkembangannya, dengan diturunkannya wahyu pertama Al-Quran, maka dimulai pula gerakan literasi di kalangan umat islam, khususnya bangsa Arab. Dalam perkembangan sejarah peradaban islam, tradisi literasi berkontribusi besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Berkat adanya gerakan literasi sejak era Nabi yang ditandai dengan penulisan ayat-ayat al-Quran yang masih berserakan, kemudian dilanjutkan dengan kodifikasi al-Quran dan hadis di era sahabat. Bahkan puncak kejayaan islam ditandai dengan membudayanya gerakan literasi di kalangan para intelektual muslim dengan lahirnya karya-karya berupa ribuan jilid kitab dalam berbagai disiplin keilmuan mulai dari astronomi, seni, arsitektur, tata bahasa, budaya, sosial, tafsir, dan lain sebagainya.

Bila ditinjau dari sudut pandang ulumul quran, proses penurunan Al-Quran dilakukan secara bertahap. Sebelum diturunkan, Al-Quran tersimpan di Lauhil Mahfudz, yaitu kitab yang terpelihara, di mana di situ telah tertulis segala sesuatu yang telah dan akan terjadi. Pada tahap selanjutnya, Allah menurunkan Al-Quran ke Baitul Izzah di langit dunia secara sekaligus. Barulah kemudian Allah menurunkan Al-Quran kepada baginda Nabi Muhammad SAW. secara berangsur-angsur dalam kurun waktu kurang lebih selama 23 tahun melalui perantara Malaikat Jibril.

Ayat-ayat Al-Quran diturunkan sesuai dengan adanya peristiwa-peristiwa tertentu serta kebutuhan Rasulullah SAW. Dari sini kemudian muncullah ilmu asbabun nuzul yang mempelajari tentang hal-hal yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-Quran yang merupakan respon Tuhan atas realitas saat itu. Kemudian muncul juga corak ilmu tafsir yang berdasarkan tartib nuzul atau berdasarkan urutan kronologis ruang dan waktu turunnya ayat. Berbeda dengan kitab-kitab samawi yang lain seperti Taurat, Injil, dan Zabur yang diturunkan secara sekaligus.

Proses penurunan Al-Quran sebagaimana tersebut di atas, setidaknya memiliki dua hikmah, yaitu: Pertama, pengagungan terhadap Al-Quran itu sendiri, Rasul, dan umat yang menerimanya dengan memberitahukannya kepada malaikat penghuni langit bahwa Al-Quran merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir bagi umat yang mulia. Kedua, menunjukkan keutamaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab-kitab samawi lainnya, di mana Allah menyatukan dua proses penurunan pada Al-Quran, yaitu penurunan sekaligus dan berangsur-angsur.

Allah menurunkan wahyu Al-Quran sebagai cara berkomunikasi dan mengajar makhluk-Nya melalui peran seorang rasul pilihan bernama Muhammad SAW. Al-Quran memuat ilmu pengetahuan Allah yang tidak terbatas, sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Qalam. Sebagai sumber ilmu pengetahuan dan ajaran islam, Al-Quran perlu dijaga dan dipelihara agar dapat dipelajari oleh seluruh umat di muka bumi dan dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itulah kemudian lahir penulisan dan pengumpulan Al-Quran menjadi satu mushaf yang utuh. Langkah ini merupakan sebuah wujud pemeliharaan wahyu Tuhan agar tetap abadi dan dapat dibaca serta dipelajari umat islam sepanjang masa. Usaha gigih Nabi melalui bimbingan Allah dalam membangun masyarakat bertradisi literasi, pada akhirnya membuahkan hasil yang sangat gemilang. Beliau merupakan tokoh sentral pembangun gerakan literasi berbasis Al-Quran. Terbukti dengan kesuksesan yang diraih dunia Islam pada era keemasannya, di mana dengan tradisi literasi yang kuat, upaya penggalian pesan-pesan Tuhan telah membawa umat islam ke atas menara puncak perkembangan ilmu pengetahuan. Berkaca dari fakta sejarah ini, hanya dengan mentradisikan gerakan literasi (membaca-menulis), era keemasan umat islam dapat terulang kembali.
Wikipendidikan
Back To Top