Senin, 07 November 2016

Panduan Lengkap Mengendalikan Emosi Marah Sesuai Tuntunan Islam

Manusia memang makhluk yang sangat unik. Allah menciptakan karakternya berbeda satu sama lain, termasuk soal kemarahan. Marah merupakan salah satu sifat bawaan manusia yang tidak selamanya destruktif. Dalam situasi tertentu, kita perlu untuk marah, bahkan wajib marah. Hanya saja, kita tidak diperkenankan untuk melampiaskan kemarahan itu secara membabi buta tanpa kendali, yang pada akhirnya membuat kita menyesal seumur hidup. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya, sehingga terjerumus pada ekspresi marah yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

Para psikolog memandang bahwa manusia adalah makhluk yang secara alami memiliki emoi. Seperti yang diungkapkan oleh psikolog asal Amerika William James, dia mengatakan bahwa emosi adalah keadaan jiwa yang tampak pada perubahan-perubahan pada tubuh yang dapat dilihat dan diamati. Singkat kata, emosi adalah keadaan jiwa yang tampak nyata pada perubahan fisik. Marah atau kemarahan merupakan salah satu jenis emosi kasar yang banyak menghalangi kesuksesan seseorang.

cara mengontrol emosi, cara mengendalikan emosi, cara mengatasi masalah, cara meredam emosi, cara mengendalikan kamarahan

Banyak kisah dan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, di mana karena tidak mampu mengontrol amarahnya, seseorang harus menanggung beban penyesalan seumur hidupnya. Setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kemarahannya. Secara fisik, orang yang marah terlihat dari perubahan raut muka, peningkatan tekanan darah, kata-kata kasar, bahasa tubuh, peningkatan denyut jantung, respon psikologis, dan bahkan tindakan agresif terhadap orang lain.

Jenis dan Tingkatan Marah pada Diri Manusia

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang sangat terkenal Ihya’ Ulumuddin, jika ditimbang dari sudut kemarahan, ternyata manusia itu dapat ditipologikan ke dalam empat golongan:

Pertama, orang yang lambat marah, lambat reda dan lama bermusuhannya. Jenis ini sungguh jelek. Seseorang yang sedang marah dan durasi kemarahannya sangat lama, akan kesulitan saat ia harus mengambil keputusan yang tepat. Selain itu, akibat kemarahannya juga, orang lain akan menjauhi karena takut terjerumus dalam bara permusuhan. Orang seperti ini, sekali dia marah, ibarat menyalakan api dendam dan permusuhan yang tak mudah dipadamkan dalam waktu yang lama. Ia menjadi orang yang tidak bisa objektif dalam memutuskan sesuatu karena api kemarahan yang menutupi akal sehatnya.

Kedua, cepat marah dan lambat redanya. Jenis kedua ini lebih jelek dari yang pertama, sebab apapun yang terjadi akan disikapi dengan kemarahan. Orang seperti ini dapat dengan tiba-tiba menjadi marah dan membutuhkan waktu lama untuk meredakan kemarahannya itu.

Ketiga, cepat marah dan cepat redanya. Seseorang yang memiliki sifat seperti ini kondisinya cenderung labil. Ia dapat marah secara tiba-tiba dan sedetik kemudian kembali kepada kondisi semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Konon orang-orang mukmin memiliki sifat demikian. Cepat marah ketika ada sesuatu yang tidak pantas terjadi namun ia akan reda ketika paham akan latar belakang di balik semua itu. Cepat marah namun cepat pula redanya.

Keempat, lambat marah dan cepat redanya. Orang yang memiliki sifat seperti ini sangat sulit tersinggung, walau di depan matanya terjadi sesuatu yang benar-benar salah. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk memaklumi kesalahan orang, memaafkan lalu melupakannya. Namun sekali ia marah, ia akan cepat sekali memaafkan kesalahan orang lain.

Nah, itulah empat golongan manusia yang dikategorikan berdasarkan tipe kemarahannya dalam pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’nya. Selanjutnya, termasuk nomor berapakah kita? Masing-masing orang pasti memiliki kecenderungan yang berbeda-beda soal kemarahan. Menurut Imam Al-Ghazali, potensi kemarahan dalam diri manusia bertujuan untuk menjaganya dari kerusakan dan kehancuran.

Bagaimana Cara Mengendalikan Emosi Marah?

Ada banyak sekali cara untuk mengendalikan emosi marah, salah satunya dengan menggunakan pendekatan agama. Meskipun emosi marah merupakan sifat yang ada pada diri setiap manusia, namun islam menganjurkan setiap muslim untuk menahan dan mengendalikan kemarahan. Selain dapat menghindarkan diri dari tindakan dan perkataan yang dapat menimbulkan penyesalan di kemudian hari, menahan emosi marah juga dapat mmelihara keseimbangan serta kesehatan fisik dan psikis manusia. Dalam tinjauan ilmu kesehatan, marah dapat menimbulkan penyakit yang merugikan fisik maupun psikis. Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk mengendalikan kemarahan.

Menurut Hujjatul Islam Imam Ghazali, cara mengendalikan dan menahan emosi marah adalah dengan mengetahui dan memahami berbagai keutamaan mengendalikan kemarahan, memaafkan, membiasakan sikap lemah lembut, dan bersabar dengan mengharapkan keridhaan Allah dan balasan yang lebih baik atas ketegaran dan kesabarannya.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Syauqi, bahwa obat untuk mengendalikan emosi marah adalah ilmu dan agama. Langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain ialah dengan memahami dan merenungkan secara mendalam berbagai dalil dari Al-Quran dan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menahan marah.

Said Hawwa, dalam kitabnya yang berjudul al-Mustakhlas fi tazkiyatin nafs menerangkan bahwa obat yang paling mujarab untuk mengobati api amarah adalah dengan ilmu dan amal. Pendidikan dan pengalaman yang diperoleh seseorang dalam lingkungannya sangat mempengaruhi kemampuan orang dalam mengelola kemarahannya. Setidaknya ada enam langkah yang bisa dilakukan untuk mengobati marah dengan ilmu:

Pertama, hendaknya seseorang mempelajari dan kemudian merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan menahan marah, keutamaan sabar, dan memaafkan. Dengan cara ini diharapkan orang akan sadar dan redam amarahnya karena besarnya keutamaan menahan marah.

Kedua, merenungkan siksaan Allah baik di dunia maupun di akhirat kepada orang yang gemar melampiaskan kemarahan dan pendendam. Padahal Allah telah berfirman bahwa kita diperintahkan untuk mengingat Allah saat marah.

Ketiga, melakukan refleksi dan berdialog dengan diri sendiri berkaitan dengan akibat buruk yang bisa muncul akibat marah yang tidak terkontrol, yakni berupa dendam dan permusuhan.

Keempat, menyadari bahwa kemarahan yang tidak terkendali layaknya sifat binatang buas yang buruk. Padahal para ulama dan nabi tidak mudah marah dan bersikap penuh santun dan sabar.

Kelima, merenungkan secara mendalam ekses negatif marah terhadap hubungan sosialnya, yang bisa memicu dendam dan permusuhan yang berkepanjangan dengan orang lain.

Keenam, menyadari bahwa kalau kita marah berarti kita mau menyaingi Allah dalam sifat-Nya. Padahal kemarahan Allah itu penuh hikmah dan kebijaksanaan bagi makhluknya, sedangkan marah kita biasanya didasari karena nafsu.

Selain enam cara yang sudah dipaparkan di atas, rasulullah juga menganjurkan agar kita segera mengambil air wudhu untuk menyucikan diri ketika kita dalam keadaan marah. Sebab marah itu berasal dari api, di mana airlah yang dapat memadamkannya.

Selain dengan cara-cara di atas, berikut ini kiat-kita mengendalikan emosi marah:

1. Diam

Diam menjadi salah satu cara untuk mengendalikan amarah yang sedang memuncak. Lebih baik berusaha untuk diam daripada bertindak anarkhis dan mengeluarkan kata-kata kasar dan mengumpat orang lain.

2. Curhat

Saat kita marah, kita bisa curhat kepada seseorang yang dekat dengan kita atau orang yang kita cintai untuk melegakan perasaan, atau menemui sahabat untuk berbagi apa yang kita rasakan. Ini bisa menjadi terapi pengontrol emosi. Selain itu, tenangkan diri dengan berdoa dan berdzikir, dengarkan musik, atau lakukan hal-hal positif yang anda sukai.

3. Ingat mati

Kematian bisa datang kapan saja menghampiri kita, saat kita marah, sadarilah bahwa mungkin saja hari di mana anda marah adalah hari terakhir kehidupan anda. Tentunya kita tidak ingin mengakhiri usia kita dengan kemarahan yang tidak disukai Allah bukan?

4. Menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat

Saat kita marah, alihkan perhatian kita pada kegiatan-kegiatan yang positif. Mungkin kita bisa menyibukkan diri dengan membaca buku yang bermanfaat untuk kita. Selain dapat menambah wawasan pengetahuan, lambat laun kemarahan kita akan mereda karena kita tak lagi terfokus padanya.

5. Membiasakan bersyukur dalam segala keadaan

Kalau kita terbiasa bersyukur, masalah dan keadaan seberat apa pun tidak akan terlalu mudah memicu emosi kita. Dan tentu saja mengendalikan emosi marah tak lagi menjadi hal yang berat untuk kita lakukan. Hidup terasa lebih ringan dan stabil.

Nah, itulah Panduan Lengkap Mengendalikan Emosi Marah Sesuai Tuntunan Islam yang saya kutip dari buku "Psikologi Marah", apabila ada yang kurang bisa share opininya di kolom komentar. Yang jelas, dalam kehidupan kita sehari-hari banyak sekali hal yang dapat menyebabkan kita marah. Mengendalikan emosi kemarahan ibarat ujian yang bisa datang kapan saja waktunya tanpa kita sangka-sangka. Oleh karenanya, memiliki bekal pengetahuan yang mmumpuni terkait cara mengendalikan emosi sangatlah penting dalam kehidupan.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top