Rabu, 16 November 2016

Cara Efektif Menghilangkan Kebiasaan Buruk Menurut Ajaran Islam

Setiap dari kita pasti memiliki sebuah kebiasaan buruk atau negatif yang ingin kita hilangkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun seringkali kita gagal dan menyerah sebelum kita berhasil menghilangkannya. Beberapa faktor penyebabnya antara lain kurang kuatnya dorongan dari dalam diri dan dukungan dari luar, terlalu terburu-buru, dan kebiasaan buruk itu terlanjur lama dan mendarah daging dalam kehidupan kita. Kebiasaan buruk yang terus-menerus dibiarkan tanpa ada upaya untuk menghilangkan dan menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, tidak hanya akan menimbulkan berbagai masalah terhadap diri kita sendiri, tapi juga bisa berimbas kepada orang lain. Lantas, bagaiamankah konsep islam mengajarkan tentang cara efektif menghilangkan sebuah kebiasaan buruk?

Secara historis, peradaban bangsa Arab pra Islam mempunyai kebiasaan buruk yang telah mengakar dalam perilaku mereka. Tidaklah mudah pada fase awal dakwah Islam meminta orang-orang secara tegas untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar pada perilaku mereka dalam kurun waktu yang lama. Oleh sebab itu, dalam memperbaiki kebiasaan buruk tersebut, Islam menggunakan dua metode. Baca juga 7 Golongan yang Akan Dinaungi Allah di Hari Kiamat


Metode pertama, menangguhkan perbaikan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sampai keimanan menguat dalam kalbu orang-orang muslim. Kekuatan iman akan menjadi dorongan kuat yang akan mempermudah proses melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk seraya mengajarkan kebiasaan-kebiasaan baru sebagai gantinya. Karena itulah, kebanyakan ayat-ayat Al-Qur'an yang turun di Mekkah (ayat-ayat Makkiyah) pada fase awal dakwah islamiyah secara mendasar berkaitan dengan seruan kepada keyakinan Tauhid (aqidah).

Metode kedua, melatih kesiapan mental kaum muslimin untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Ini dilakukan dengan jalan membentuk respons yang berlawanan secara bertahap dengan respons yang dituntut untuk dilepaskan. Metode ini dipakai Al-Qur'an untuk mengatasi masalah minum khamar.

Pada awalnya Al-Qur'an menjadikan kaum muslimin tidak suka dan benci meminum khamar tanpa mengharamkannya secara total. Kemudian secara bertahap khamar pun diharamkan kepada mereka. Ayat pertama yang diturunkan berkaitan dengan khamar menunjukkan bahwa madharat khamar itu lebih besar daripada manfaatnya. Ini merupakan upaya untuk membuat kaum muslimin tidak menyukai khamar serta mendorong mereka agar mengindari minum khamar, lihat Q.S Al-Baqarah ayat 219.

Kemudian Al-Qur'an melangkah ke tingkat yang lebih tegas dan mengikat kaum muslimin agar merasa jera dari minum khamar dan mendorong mereka agar menghindari khamar. Hal ini terjadi ketika beberapa sahabat shalat dalam keadaan mabuk sehingga mereka keliru dalam membaca Al-Quran. Oleh karena itu, Al-Quran mengharamkan mereka mendekati shalat dalam keadaan mabuk. Latihan ini telah membuat mereka memiliki kesiapan mental untuk beralih ke fase berikutnya, yaitu larangan total berhubungan dengan khamar dengan diturunkannya ayat yang benar-benar mengharamkan khamar secara total, yaitu Q.S Al-Maidah ayat 90-91. Ketika ayat yang mengharamkan khamar itu diturunkan, seluruh kaum muslimin Madinah menumpahkan sisa-sisa khamar yang ada pada mereka di jalan-jalan Madinah.

Dari uraian di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa dalam menghapus kebiasaan buruk yang sudah menjadi tradisi, diperlukan proses secara bertahap, tidak langsung melarangnya secara total agar kebiasaan buruk itu terhapus, namun tahap demi tahap. Sifat manusia yang cenderung tergesa-gesa, justru akan mengakibatkan munculnya hal-hal buruk yang lain. Di samping itu, kita butuh seorang sosok teladan/idola yang memiliki otoritas terhadap kita dan bisa kita jadikan tempat bersandar serta terus menguatkan langkah kita menghilangkan berbagai sisi negatif dalam kehidupan sehari-hari kita.

Cara menghilangkan kebiasaan buruk yang dicontohkan dengan penghapusan minum khamar di atas, juga mengajarkan bahwa islam sangat akomodatif dan menghargai tradisi masyarakat. Islam tidak mengajarkan cara-cara yang penuh amarah dan paksaan sebagai solusi mengatasi problematika umat. Cara seperti ini pula yang digunakan walisongo dalam merekonstruksi tradisi dan kebudayaan masyarakat nusantara kala itu, khususnya masyarakat jawa, sehingga membawa kesuksesan dakwah islam mereka yang dibuktikan dengan tersebarnya islam di seantero nusantara. Kita juga diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian itu tidak dapat diperoleh secara instan, butuh proses dan waktu yang relatif lama. Semoga Allah memudahkan kita untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan buruk dalam kehidupan sehari-hari kita.

Referensi: Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Quran (Terapi Qurani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan), ter. Zaka Al-Farisi, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top