Cara dan Keutamaan Mengamalkan Ilmu

Terkadang, kita merasa takut untuk belajar karena alasan nanti kalau kita belajar maka akhirnya kita menjadi tau dan takut tidak mampu mengamalkan ilmu yang kita pelajari tersebut. Sebab, dalam Islam, memang ada hadits yang mengancam orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya kelak akan disiksa di neraka sebelum para penyembah berhala.

Oleh karena itu. terkadang kita punya anggapan bahwa lebih baik tidak usah belajar, lebih baik bodoh, daripada belajar dan tau banyak ilmu, tapi jika tidak bisa mengamalkan lalu disiksa. Seolah-olah anggapan seperti ini memang benar, namun tidak sepenuhnya benar.

Perlu kita ketahui, yang dimaksud dengan orang yang tidak mengamalkan ilmu adalah orang yang memang niat awal dia belajar dan mencari ilmu bukan untuk diamalkan. Misalnya niat belajar hanya untuk dipamerkan, menyombongkan diri, untuk menipu orang lain, dan niat-niat buruk lainnya. Kalau memang niatnya seperti itu, mereka diancam akan disiksa di neraka.


Pengamalan ilmu itu ada dua macam, yaitu: Pertama, secara praktis/praktek perbuatan. Kedua, dengan diajarkan.

Kalau ada orang yang punya ilmu dan sudah mau mengajarkan ilmunya tersebut kepada orang lain, takan tetapi dia sendiri belum bisa mengaplikasikan ilmu tersebut untuk dirinya sendiri, bukan karena tidak mau, tapi mungkin masih penyakit malas atau karena godaan setan sehingga dia belum bisa mengamalkannya. Orang tersebut sudah bisa dikatakan sebagai orang yang mengamalkan "sebagian" ilmunya dan mendapat pahala. Harapannya, kalau orang yang dia ajari tadi sudah bisa mempraktekkan ilmu yang dia ajarkan, hal itu akan menjadi cambuk baginya untuk berusaha keras mengamalkannya.

Sebagai contoh, misalnya kita tau ilmunya Shalat Tahajjud, kemudian ada orang yang bertanya kepada kita tentang ilmunya Shalat Tahajjud, apakah untuk mengajarkannya kita harus menunggu sampai kita bisa mempraktekkannya terlebih dahulu? Tentu tidak bukan.

Kuncinya ada pada niat. Berniat untuk mengamalkan apa yang belum mampu diamalkan sewaktu ada kesempatan. Sebab dalam sebuah hadis disebutkan: “Seseorang akan memperoleh pahala sesuai niatnya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Berapa banyak manusia yang tidak mampu mengamalkan sesuatu tetapi memperoleh pahala besar karena niatnya. Dan berapa banyak manusia yang kehilangan pahala besar karena kebodohan dan kelalaiannya, sehingga ia tidak memiliki niatan untuk mengamalkannya. Sesungguhnya ilmu adalah sumber segala kebaikan dan kebodohan adalah pangkal segala kejahatan di dunia dan akhirat.

Belajar dan mencari ilmu adalah tugas kewajiban yang harus dijalani setiap manusia sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Segala sesuatu yang kita capai dalam hidup ini, berawal dari sebuah proses pembelajaran. Ilmu yang kita pelajari akan membuka pintu-pintu keberhasilan kita. Janganlah terlalu memaksakan diri dan tergesa-gesa mendobrak pintu tersebut, akan tetapi kita harus membukanya dengan penuh kesabaran.

Orang-orang berilmu hidupnya bermanfaat dan dibutuhkan oleh banyak orang di mana saja dia berada. Terutama di zaman akhir seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah orang-orang baik yang berilmu, di mana mereka dapat mentranformasikan ilmu mereka bagi banyak orang. Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Inilah salah satu cara kita mengamalkan ilmu, yakni bersedekah dengan mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Usia muda yang kita miliki saat ini adalah masa yang paling efektif untuk belajar dengan penuh semangat. Jangan sampai usia muda kita terbuang percuma oleh hal-hal yang kurang bermanfaat yang menjadikan kita malas untuk belajar. Imam Syafi'i dalam Diwan As-Syafi'i berpesan: "Pergilah, kau akan mendapatkan pengganti dari yang kau tinggalkan. Bersungguh-sungguhlah, sebab nikmat hidup ada pada kesungguhan." Pesan bijak ini mengisyaratkan kepada kita untuk pergi merantau guna mencari ilmu. Kita akan memperoleh ganti yang lebih besar dengan meninggalkan zona nyaman kita. Dengan satu syarat, kita harus istiqomah dan bersungguh-sungguh.

Mungkin belajar di usia muda memang terasa begitu amat berat, mengingat di usia inilah kita sangat rentan terkena godaan dan rintangan. Namun bila kita bisa menahan diri dari godaan-godaan tersebut, maka kelak di usia dewasa, kita akan menyadari dan sangat bersyukur karena telah belajar dengan keras di usia muda. Di usia hidup kita yang hanya sebentar ini, amatlah rugi kalau kita hanya enak-enakan di rumah tanpa mau berusaha keluar mencari ilmu dan pengalaman. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Dale Carnegie: "Jika anda ingin menaklukkan rasa takut, jangan berpangku tangan di dalam rumah dan diam di depannya. Pergilah keluar, temui banyak orang, dan buatlah diri anda sibuk."

Kita harus menyadari bahwa tiada kata henti menuntut ilmu. Bahkan Rasulullah pun setiap hari berdoa agar senantiasa ditambah ilmunya oleh Allah. Salah satu yang menjadikan ilmu kita bertambah ialah mengajarkannya kepada orang lain. Semakin banyak kita membagikan ilmu, maka semakin bertambah pula ilmu itu. Dan bila kita tidak pernah membagikannya kepada orang lain, bisa jadi ia akan menghilang dengan sekejap mata bersamaan dengan datangnya ajal yang menjemput kita.

Orang-orang yang berilmu memiliki derajat yang sangat istimewa di sisi Allah baik di dunia maupun di akhiratnya. Sekedar memandang wajahnya dengan rasa senang atau duduk bersamanya saja kita sudah mendapatkan pahala dan keutamaan. Sayid 'Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur mengatakan bahwa Abu Laits ra berkata:

Barang siapa duduk bersama seorang yang berilmu meskipun tidak dapat memahami sedikit pun ilmu yang disampaikan, maka dia telah mendapat tujuh kemuliaan:
  • Dia akan memperoleh berbagai keutamaan yang diperoleh oleh para penuntut ilmu.
  • Selama dalam majelis itu dia terhindar dari berbagai dosa.
  • Ketika keluar dari rumah menuju majelis ilmu dia mendapat rahmat.
  • Ketika orang-orang yang berada dalam majelis tersebut memperoleh rahmat, maka dia juga menerimanya.
  • Dia dicatat sedang melakukan ketaatan selama mendengarkan pengajian tersebut.
  • Jika hatinya merasa sedih karena sulit memahami apa yang disampaikan, maka kesedihannya ini menjadi perantara baginya untuk dekat dengan Allah Ta’ala.
  • Dia akan melihat kemuliaan orang yang berilmu dan kerendahan orang yang fasik. Hatinya akan membenci kefasikan dan menyukai ilmu.
Sungguh amat jauh perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh. Orang yang benar-benar berilmu biasanya justru tidak merasa kalau ia berilmu. Karena ia tidak lagi membutuhkan klaim atau reputasi. Ilmu yang terpancar dalam perilaku hidupnya sehari-hari telah cukup untuk menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu.
Wikipendidikan
Back To Top