Selasa, 08 November 2016

Belajar Toleransi dari Quraish Shihab, Tiada Paksaan dalam Beragama

Manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih, termasuk memilih agama. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, menebarkan kasih sayang terhadap seluruh alam semesta. Oleh karenanya, islam melarang cara kekerasan dan pemaksaan dalam beragama. Salah satu ayat yang berkaitan dengan hal itu adalah yaitu ayat 256 - 257 Q.S al-Baqarah. Awal ayat 256 surat al-Baqarah ini berbunyi "Laa ikraaha fid diini", yang artinya "Tidak ada paksaan dalam beragama". Ayat ini sekaligus mengajarkan kita akan pentingnya memegang prinsip toleransi dalam beragama. Penanaman tentang nilai-nilai pendidikan toleransi harus dilakukan sedini mungkin agar tumbuh menjadi karakter yang mampu menghormati dan menghargai setiap perbedaan sebagai sebuah rahmat. Baca Cara Menumbuhkan Budaya Toleransi Beragama Pada Siswa

Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan tidak adanya unsur paksaan atau kekerasan untuk masuk ke dalam agama (islam). Sebab iman itu esensinya tunduk dan khudu' (patuh), di mana hal itu tidak dapat dicapai dengan pemaksaan atau kekerasan, melainkan dengan argumen dan penjelasan yang meyakinkan. Sejarah telah membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW. dalam berdakwah menyebarkan islam tidak pernah menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan. Adalah sebuah kekeliruan besar jika ada sebagian orang yang mengatakan bahwa dakwah islam itu harus dengan cara-cara kekerasan dan pemaksaan.

Dalam konteks asbabun nuzul, ayat ini diturunkan sebagai tarhib (menakuti) dan targhib (menghimbau), dan diturunkan 3 tahun setelah Rasulullah hijrah. Ayat 256 ini meupakan dasar kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan. Di sinilah mengapa manusia itu dikaruniai akal, agar dengannya mereka dapat memilih apa yang terbaik menurut mereka.


Kelanjutan dari "laa ikraaha fid diini" yaitu "qad tabayyanar rusydu minal ghayyi", yang artinya "Telah nyata terang petunjuk dan kebajikan dari kesesatan". Artinya, dengan akal sehatnya, sebenarnya manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Dan telah jelas, bahwa islam adalah agama yang memberikan petunjuk dan pencerahan kepada umat manusia.

Masih menurut tafsir al-Misbah, di situ dijelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan betapa telah jelasnya agama islam sebagai agama yang membawa petunjuk dan kemenangan. Tiada agama yang benar selain islam. Oleh karenanya, tidak perlu memaksa orang lain untuk memeluk islam.

Pep3rangan yang terjadi di zaman Rasulullah SAW bukan karena beliau dan umat islam memaksa orang-orang non-muslim untuk masuk ke dalam agama islam. Perang yang terjadi kala itu merupakan sebuah pembelaan diri dari kaum muslim atas gangguan dan fitnahan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik.

Dalam sejarah perkembangan islam di Indonesia, walisongo merupakan para ulama' penyebar islam yang mewarisi cara dakwah Rasulullah yang santun, damai, dan tanpa paksaan atau kekerasan. Dan terbukti hingga saat ini, berkat cara dakwah mereka yang tanpa unsur kekerasan tersebut, islam telah menjadi agama mayoritas yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi di bumi Nusantara ini.

Berdasarkan keterangan di atas, sudah seharusnya kita mampu mengambil sikap yang cerdas dan bijak atas isu-isu yang berbau SARA seperti isu penistaan agama yang saat ini heboh di media. Jadilah orang islam yang cerdas menyikapi setiap isu, tidak gampang kagetan dan gampang terprovokasi oleh media-media yang menebarkan isu-isu provokatif yang dapat memecah belah persatuan umat serta mencederai kerahmatan lil alaminan islam. Orang sekarang cenderung menilai islam dari perilaku pemeluknya, bukan esensi ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, jangan sampai sebagai muslim kita merepresentasikan perilaku-perilaku yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip islam, termasuk dalam hal toleransi antar pemeluk agama.

0 Komentar Belajar Toleransi dari Quraish Shihab, Tiada Paksaan dalam Beragama

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top