Rabu, 09 November 2016

7 Golongan yang Akan Dinaungi Allah di Hari Kiamat

Hari kiamat merupakan hari yang pasti terjadi dan dialami oleh setiap makhluk Tuhan tanpa terkecuali. Setiap manusia akan sibuk dengan urusan pribadinya masing-masing. Kita akan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya selama hidup di dunia di hadapan pengadillan yang paling adil, yakni pengadilan Allah SWT. Beruntunglah orang-orang yang selama hidup mengisi waktu yang dia miliki untuk banyak-banyak beribadah dan berdzikir kepada Allah. Walaupun hal itu di dunia terkesan tidak ada harganya bila dinilai dengan uang atau perhiasan, namun di akhirat justru itulah yang sangat berharga. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di bawah 'Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada tempat bernaung kecuali naungan-Nya, yaitu:
  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang giat beribadah kepada Allah
  3. Orang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi sampai air matanya mengalir karena rasa takutnya kepada Allah
  4. Orang yang hatinya selalu terkait (terikat) dengan masjid saat ia keluar sampai kembali lagi masuk ke masjid
  5. Orang yang bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga orang lain yang ada di kanan-kirinya tidak mengetahuinya
  6. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, maka mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Allah
  7. Lelaki yang diajak berbuat mesum (berzina) oleh wanita cantik, tetapi ia menolaknya dengan berkata: "Aku takut kepada Allah."
7 golongan di atas termasuk yang kelak di akhirat akan mendapatkan fasilitas istimewa berupa naungan dari Allah SWT. Agama islam telah memberikan konsep-konsep yang kita jadikan pedoman dalam menggapai kebahagiaan baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Apa yang dipaparkan oleh rasulullah di atas merupakan pengetahuan yang menginformasikan kepada kita mengenai kriteria golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat yang penuh dengan huru hara dan ketakutan. Sehingga dengan mengetahuinya, diharapkan kita menjadi termotivasi untuk menjadi bagian dari golongan di atas.


Golongan pertama yang akan mendapatkan naungan Allah adalah para pemimpin yang adil dalam kepemimpinannya. Keadilan merupakan prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Sebagaimana kita tau, sulit sekali menemukan seorang pemimpin yang adil. Bahkan untuk memimpin diri sendiri pun kita seringkali tidak dapat berlaku adil. Padahal setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, keluarga, dan dalam skala yang lebih luas meliputi pemimpin di kalangan masyarakat. Dalam hal kepemimpinan, islam telah memiliki konsep dasar yang substansial yang bisa dipelajari melalui berbagai literatur keislaman. Berkaitan dengan persoalan kepemimpinan, anda dapat merujuk pada pendapat para intelektual muslim melalui buku-buku yang berkaitan dengan topik kepemimpinan dalam islam.

Baca : Cara Mengendalikan Emosi Menurut Islam

Golongan kedua adalah pemuda yang giat beribadah. Kita tau bahwa masa muda adalah masa di mana seseorang bergejolak hawa nafsunya. Terlebih di era sekarang, sungguh sulit menemukan pemuda yang benar-benar giat beribadah kepada Allah. Naungan Allah merupakan sebuah fasilitas istimewa untuk hambanya. Dan untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah, di mana kita harus bertarung melawan hawa nafsu dan setan yang setiap saat berupaya menjauhkan kita dari rahmat Allah. Para pemuda jaman dulu pada giat-giat beribadah. Dan sekarang, sebagai akibat dari penetrasi produk-produk teknologi ke dalam dunia islam, banyak para pemuda generasi islam yang hanyut dalam kesenangan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh produk-produk teknologi seperti HP dan internet. Perlu diketahui bahwa ridha Allah dikelilingi oleh hal-hal yang bertentangan dengan nafsu kita, sementara murka Allah dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan nafsu kita. Besar dan kecilnya nilai ibadah, ditentukan oleh terasa berat atau tidaknya kita melakukannya. Semakin terasa berat untuk kita lakukan, maka semakin tinggi nilainya, pun pula sebaliknya. Dan sebagai manusia yang dikaruniai akal yang dapat membedakan kebaikan dan keburukan serta keimanan, tentunya kita paham jalan mana yang harus kita pilih.

Golongan ketiga adalah orang yang gemar berdzikir di tengah kesunyian hingga air matanya menetes karena takut akan siksa Allah dan menyadari bahwa betapa banyaknya dosa dan kemaksiatan yang selama ini telah dilakukan. Pernahkah kita melakukan hal itu? jangankan untuk meneteskan air mata karena dosa, menyesali dosa saja mungkin jarang kita lakukan. Karena saking banyaknya noda-noda dosa yang menutupi kalbu kita, menjadikan hati kita keras dan sulit untuk menyesal dan takut atas maksiat dan dosa-dosa yang kita lakukan. Baca juga Keutamaan Membaca Al-Quran dan Dzikir Menurut Al-Ghazali

Golongan keempat adalah mereka yang hatinya selalu terpaut pada masjid. Artinya, orang-orang yang gemar berdzikir dan melakukan aktivitas-aktivitas peribadatan di masjid. Sebab masjid merupakan simbol tempat yang digunakan sebagai pusat aktivitas keagamaan orang islam.

Golongan kelima adalah orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas, tidak memamermamerkannya ke publik, tidak butuh sanjungan sesama manusia, bahkan dia berusaha keras agar jangan sampai orang lain tau (termasuk orang yang disedekahi) bahwa dia telah bersedekah. Biarlah dia dan Allah saja yang tau. Orang yang mampu melakukan hal ini termasuk orang yang sangat istimewa, sebab pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk selalu memenuhi kepuasan nafsnya dengan dipuja-puji serta dihargai oleh manusia lainnya atas setiap kebaikan yang dilakukan.

Golongan yang keenam adalah orang yang saling mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah. Mencintai karena Allah tidaklah semudah pengucapannya dan sesederhana penulisan kata-katanya. Cinta merupakan bagian dari emosi batin yang bersifat abstrak dan tidak terdeteksi secara empiris. Oleh karenanya, sangat sulit membedakan manakah yang termasuk cinta karena Allah dan cinta yang bukan karena Allah. Bahkan Imam Al-Ghazali dalam kitab ihya’nya membahas terkait cinta karena Allah ini menjadi satu bab tersendiri. Di dalam bab tersebut, imam Al-Ghazali mencontohkan salah satu jenis cinta karena Allah adalah cinta seorang guru kepada muridnya. Hubungan guru dan murid merupakan hubungan simbiosis mutualisme. Guru akan terangkat derajatnya karena pekerjaan mulianya berupa mengajar dan mendidik. Sedangkan mengajar dan mendidik dibutuhkan objek yang diajar dan dididik, yaitu murid. Jadi, murid merupakan partner yang dapat mengangkat derajat guru di sisi Allah. Dan kecintaan guru terhadap murid termasuk cinta karena Allah.

Termasuk juga mencintai karena Allah adalah mereka yang mengawini seorang wanita yang shalihah, sehingga melalui pernikahannya dengan wanita itu ia menjadi terpelihara dari gangguan setan dan dan hawa nafsu, serta dapat menjaga agamanya atau supaya ingin memperoleh keturunan yang shalih dan shalihah dari istrinya itu, yang kelak akan mendoakan kedua orang tuanya. Seseorang yang mencintai isterinya karena tujuan-tujuan itu termasuk mencintai karena Allah, sebab istrinya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan maksud-maksud yang diridhoi oleh agama. Silahkan buka dan pelajari kitab Ihya’ Imam Al-Ghazali untuk lebih mendalami tentang mencintai karena Allah.

Golongan yang ketujuh adalah golongan orang yang menolak diajak berzina oleh wanita yang sangat cantik sekalipun karena dia takut kepada Allah. Sudah sejak berabad-abad yang lalu islam melarang praktik p3rzinaan dan pr0stitus1. Namun ironisnya, justru di akhir zaman ini praktik tersebut semakin merajalela. Dengan cara-cara yang lebih tidak manusiawi, terorganisir, dan bahkan tanpa ada perasaan berdosa melakukannya. Sungguh memang manusia super akhir zaman yang menolak diajak berzina oleh seorang wanita yang sangat cantik karena ia takut kepada Allah.

Berdasarkan uraian di atas, sudah selayaknya kita termotivasi untuk bisa menjadi bagian dari tujuh golongan di atas sesuai dengan posisi dan kondisi kita masing-masing. Kalau kita diberi amanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin, ya berupaya bagaimana agar bisa menjadi pemimpin yang adil, bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Pun pula sebagai seorang pemuda, jangan sampai masa muda kita terisi oleh banyaknya perbuatan dan omong kosong tanpa guna. Sebalikna, jadikan masa muda sebagai masa untuk bersemangat mencari ilmu dan berusaha mengamalkannya. Masa muda bukan berarti bahwa masa hidup kita masih panjang, sebab kita tidak pernah tau kapan kematian itu akan datang.

Sebagai guru, hendaklah mengajarkan kepada para peserta didiknya tentang 7 golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah kelak di hari kiamat. Sebab kita tidak pernah tau apa rencana Allah. Siapa tau ada salah satu peserta didik kita yang kelak mendapatkan naungan Allah karena mendapatkan rahmat Allah sehingga ia diizinkan oleh Allah untuk menarik tangan kita ke surga. Hal serupa juga hendaknya dilakukan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain sebenarnya secara tidak langsung kita telah berinvestasi kebaikan yang tiada akan pernah terputus pahalanya bahkan sampai kita terbungkus kain kafan. [Referensi hadits diambil dari kitab Kitab Nashaihul Ibaad]
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top