5 Cara Ampuh Menghilangkan Pikiran-pikiran Negatif

Dari Fikiran Hingga Peradaban: "Hati-hatilah dalam berpikir. Karena pikiran akan jadi ucapan. Dan ucapan akan jadi perbuatan. Perbuatan yang terus menerus akan menjadi kebiasaan. Karena sudah menjadi kebiasaan maka akan menjadi karakter hidup. Kalau sudah menjadi karakter lama-lama menjadi unsur dari kebudayaan dan bersama-sama menjadi kebudayaan masyarakat. Kalau kebudayaan masyarakat dibiarkan tanpa kritik atas dirinya maka dalam jangka waktu tertentu akan menjadi peradaban. Kalau sudah jadi peradaban, susah untuk dirubah lagi. Ibarat batu yang sudah jadi akik." (Bapak Ahmad Syafi'i)

Berpikir negatif atau memikirkan hal-hal negatif atau dalam bahasa inggrinya Negatif Thinking, adalah cara berpikir atau cara seseorang mempersepsi sesuatu dengan asumsi-asumsi yang berbau curiga, menuduh, dan kedengkian. Bisa dikatakan pula berpikir negatif sebagai penarikan kesimpulan atas sesuatu secara tidak objektif. Baca juga 7 Pelajaran Berharga dari Mengantre

Orang yang pola pikirnya cenderung negatif seperti menggali lubang penderitaan untuk mengubur dirinya sendiri. Kecenderungan untuk selalu memberi penilaian negatif terhadap berbagai hal yang ada dan terjadi dalam hidup anda, dan anda betah tinggal berlama-lama di dalamnya, hanya akan membuat anda sulit meraih bahagia karena banyak sisi positif yang tidak bisa anda nikmati dan anda syukuri. Di samping itu, hal itu juga membuat mood orang-orang yang berada di sekitar anda menjadi illfeel.

Pikiran negatif selalu bertolak belakang dengan pikiran positif. Ada banyak orang yang merasa kesulitan menghindari pikiran negatif, termasuk penulis sendiri. Indikasi dari pikiran negatif dapat dilihat dari bagaimana kita merespon sesuatu. Jika cara merespon kita bertolakbelakang dengan realita dan logika, maka itu pertanda pikiran negatif tengah bercokol di otak kita. Contoh-contoh Pikiran Negatif adalah sebagai berikut:

1. Menggeneralisir secara berlebihan

Penggunaan kata “tidak pernah”, “semua”, “selalu”, adalah kata-kata yang digunakan untuk menggeneralisir. Cara berpikir menggeneralisir adalah menganggap sesuatu atau persoalan yang sebetulnya sebagian saja, dianggapnya persoalan itu bagian dari keseluruhan. Dalam bahasa penelitian, sampel dianggap sebagai populasi. Cara berpikir seperti ini mengakibatkan seseorang mudah menyalahkan semuanya, tapi juga bisa membenarkan seluruhnya.

Misalnya, ketika pacar anda terlambat mengirimkan sms ucapan selamat malam kepada anda, dengan mudahnya anda menggeneralisir bahwa dia selalu terlambat mengirimkan sms ucapan itu kepada anda. Dalam skala yang lebih besar, banyaknya konflik antar suku, ras, bangsa, dan bahkan agama, seringkali dilatarbelakangi oleh pikiran negatif yang digeneralisir seperti ini.

2. Cara berpikir hitam-putih

Dunia ini sebenarnya ibarat pelangi, penuh warna-warni. Namun masih banyak orang yang memandang dunia atau hidup ini hanya terdiri dari dua warna saja, hitam dan putih. Berpikir secara hitam- putih bermakna bahwa kita mempersempit pikiran-pikiran kita sendiri. Orang yang berpikir seperti ini miskin toleransi dan mudah memvonis seenaknya sendiri. Pelajari juga Cara Mudah Melatih Kekuatan Fokus Pikiran Kita

Contoh berpikir hitam-putih yang terkadang kita sendiri mengalaminya adalah memilih untuk tidak berbuat dari pada salah, atau memilih untuk tidak mau menikah selamanya bila gagal mendapatkan pujaan hatinya. Contohnya lagi adalah orang yang memvonis kesalahan orang lain secara mutlak. Misalnya, dia pernah sekali dibohongi oleh orang lain, maka sampai kapan pun dia tidak mau lagi mempercayai orang itu sepenuhnya. Padahal, tidak menutup kemungkinan orang itu berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

3. Memaksa keadaan

Misalnya, ketika anak anda sedang membaca Al-Quran dan anda mendengarkan bacaannya, ternyata bacaannya masih banyak yang salah. Lantas anda berkata: “Seharusnya bacaanmu tidak banyak yang salah, kamu sudah berbulan-bulan berlatih.” Padahal anda tidak setiap hari mendengarkan bacaannya. Dan anda tidak tau kalau ternyata di hari-hari sebelumnya bacaannya tidak banyak yang salah. Hanya pas anda ikut mendengarkannya, dan mungkin dia grogi atau merasa gugup, bacaannya banyak yang salah. Perkataan anda kepadanya bisa saja membuatnya frustasi dan putus asa.

4. Menimpakan kesalahan pada satu faktor/orang/unsur saja

Misalnya anda melihat terjadinya sebuah kesalahan, yang anda persalahkan hanya satu pihak saja, padahal masih banyak faktor yang ikut berkontribusi menjadi penyebab terjadinya masalah tersebut. Misalnya, ketika anda tau bahwa nilai IPK anda jelek, tanpa berusaha merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi penyebabnya, anda langsung memvonis diri anda sendiri sebagai mahasiswa yang bodoh, atau anda menyalahkan dosen anda karena tidak adil dalam menilai, atau anda akan menyalahkan sistem administrasi kampus.

Bagaimana cara menghilangkan Pikiran Negatif...??

Pertama, bangunlah pikiran yang konstruktif, yang berorientasi pada solusi pemecahan masalah.

Kedua, jangan mudah menggeneralisir sesuatu. Teliti, amati, cermati setiap persoalan secara rasional dan objektif. Agar anda benar-benar memahami realitas yang sebenarnya. Hal ini akann menghindarkan anda dari asumsi-asumsi yang irasional.

Ketiga, apabila anda sedang dihadapkan pada sebuah kejadian yang awalnya anda pikir kejadian itu berpotensi memunculkan masalah, jangan langsung panik atau kesal, tenangkan diri saja dulu. Terkadang hal yang saat ini kita pikir berpotensi menjadi masalah di masa mendatang, ternyata hal itu biasa-biasa saja, aman-aman saja. Baca juga Panduan Lengkap Mengendalikan Emosi Marah Sesuai Tuntunan Islam

Keempat, Banyak-banyak berdoa kepada Allah untuk kebaikan orang yang terlanjur kita nilai negatif. Bayangkan jika anda berada di posisinya, bagaimana perasaan anda?

Kelima, belajarlah untuk mengapresiasi sekecil apa pun usaha atau pekerjaan orang lain. Dan jangan sampai muncul pikiran atau perasaan meremehkan ketika anda melihat orang-orang yang hidupnya mungkin tidak seberuntung dan seenak yang anda jalani.


Pikiran negatif yang terlalu berlebihan juga berdampak buruk bagi kesehatan fisik. Untuk itulah mengapa agama dan para motivator selalu menhekankan kita un tuk berpikir sepositif mungkin. Selain tidak bermanfaat, berpikir negatif justru malah merugikan diri sendiri bahkan orang-orang di sekitar kita.
Wikipendidikan
Back To Top