Selasa, 22 November 2016

10 Ciri Ahlussunnah Wal Jamaah berdasarkan kesepakatan para ulama

Sejak ratusan tahun lalu, Rasulullah SAW. telah bersabda bahwa kelak umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Dan di antara 73 golongan tersebut, hanya ada satu golongan yang diridhoi Allah dan selamat di akhirat kelak. Golongan itu adalah golongan Ahlussunnah wal jama'ah (Aswaja). Sayangnya, dengan semakin banyak bermunculannya aliran-aliran dalam islam, semakin sulit mendeteksi dan membedakan mana yang termasuk ahlussunnah wal jamaah dan mana yang bukan. Sebab ada sebagian golongan yang sebenarnya di dalamnya sama sekali tidak terdapat karakteristik ahlussunnah wal jama'ah, namun mereka memproklamirkan diri sebagai ahlussunnah wal jamaah dengan cara dan trik yang mampu mengelabuhi banyak orang, tetutama orang-orang awam yang masih dangkal pengetahuannya tentang teologi islam.

aswaja, ciri, sejarah, karakter, tokoh aliran ahlussunnah wal jamaah
Sumber gambar: aswajanucenterjatim.com
Banyak orang yang kebingungan bagaimana membedakan mana yang merupakan Ahlussunnah wal jama’ah sebenarnya, dan mana yang hanya sebatas pada pengakuan saja. Mereka yang tidak tau, akhirnya ikut terhasut oleh propaganda dan masuk menjadi kelompok aliran yang mengaku-ngaku sebagai ahlussunnah wal jamaah. Oleh karena itu, kita perlu mengenali ciri-ciri atau karakteristik dari Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri, agar masing-masing dari kita dapat menilai apakah kita ini termasuk dalam kelompok Ahlussunnah wal jama’ah atau kita termasuk kelompok yang berada di luar Ahlussunnah wal jama’ah. Dan apakah benar hanya beberapa kalangan saja di Indonesia ini yang termasuk golongan Ahlus Sunnah, dan yang lainnya sesat?

10 ciri golongan Ahlussunnah wal jamaah (aswaja)

Nabi saw. bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan konsekuen atas Ahlus sunnah waljama'ah, Allah akan menulis baginya setiap langkah yang dilakukan sepuluh kali kebaikan, dan diangkat baginya sepuluh derajat. Para sahabat bertanya, "Bagaimana bisa kita ketahui bahwa seseorang termasuk golongan Ahlus sunnah waljama'ah?" Nabi Muhammad saw. menjawab, " Apabila didapati pada diri seseorang sepuluh perkara, ia golongan Ahlus sunnah waljama'ah."
Sepuluh perkara itu adalah:
  1. Ia suka shalat lima waktu dengan berjamaah.
  2. Ia tidak suka menyebut kepada seseorang dari para sahabat Nabi dengan sebutan yang tidak sopan dan menjatuhkan martabatnya.
  3. Ia tidak keluar (melawan atau memberontak) terhadap pemerintah dengan pedang (mengangkat senjata).
  4. Ia tidak diragu-ragukan tentang keimanannya.
  5. Ia percaya kepada qadha dan qadar baik dan buruknya adalah dari Allah.
  6. Tidak suka berjidal (berbantah-bantahan/berdebat) dalam masalah agama Allah.
  7. Ia tidak suka mengkafirkan seseorang dari ahli kiblat (mukmin).
  8. Ia tidak enggan menshalatkan jenazah siapapun asal ahli kiblat.
  9. Ia menerima hukum menyapu sepatu dalam keadaan musafir dan bermukim sebagai kebolehan (ganti dari membasuh kaki dengan air).
  10. Ia tidak keberatan menjadi makmum di belakang imam yang mana saja, apakah ia orang baik atau orang fasik (maksiat).
Hadits tersebut diangkat dari kitab "Al Buraiqat Al-Muhammadiyah". Para ulama Ahlussunnah telah sepakat menetapkan kriteria golongan Ahlus Sunnah dengan 10 ciri tersebut. Di antara golongan-golongan yang tidak memiliki sepuluh ciri tersebut ialah Syi'ah, Muktazilah, Khawarij, serta kaum-kaum Mujassimah, Najjariah, dan musyabbihah. Dengan demikian, semua golongan itu berada di luar Ahlus sunnah waljama'ah. Dari 10 ciri di atas, setidaknya kita menjadi tau mana yang benar-benar Ahlussunnah wal jama’ah dan mana yang non-Ahlussunnah wal jama’ah.

Dalam sejarah teologi islam, tokoh yang merumuskan ahlussunnah wal jamaah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Isma'il bin Ishaq bin Salim bin Isma'il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy'ari atau yang lebih dikenal dengan Abu Musa Al-Asy'ari. Beliau Lahir di Basrah (Iraq) pada tahun 260 H/875 M, dan wafat di Baghdad pada tahun 324 H/935 M. Beliau adalah Ulama besar ilmu Ushuluddin bermadzhab Syafi'i, yang merupakan perumus dan pembela faham Ahlussunnah wal jama'ah yang menjadi panutan mayoritas umat islam dari dulu sampai sekarang.

Sebelum menjadi tokoh pencetus faham ahlussunnah wal jamaah, Abu Musa Al-Asy'ari adalah penganut aliran rasionalis Mu'tazilah. Beliau memproklamirkan diri keluar dari faham tersebut setelah berusia 40 tahun di hadapan para jamaah masjid Basrah.  Sebab utama beliau meninggalkan Mu'tazilah ialah adanya perpecahan kaum muslimin yang jika tidak segera diakhiri akan menimbulkan kehancuran. Beliau sangat mengkhawatirkan Al-Qur'an dan Hadis menjadi korban atas rasionalisme Mu'tazilah yang menyeret umat islam kepada kelemahan dan kebekuan yang tidak dapat dibenarkan agama. Sedangkan menurut riwayat Ibnu Asakir, faktor yang melatarbelakangi Abu Musa Al-Asy'ari meninggalkan faham rasionalis Mu'tazilah ialah pengakuan Abu Musa Al-Asy'ari tentang mimpinya bertemu dengan Rasulullah saw. sebanyak 3 kali berturut-turut, yaitu pada malam kesepuluh, keduapuluh, dan ketigapuluh pada bulan ramadhan. Dalam tiga mimpi tersebut, rasulullah memperingatkan Abu Musa Al-Asy'ari agar meninggalkan faham Mu'tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan beliau, yaitu faham Ahlussunnah wal jamaah.

Sumber Pustaka:
  • Ahmad Hanafi, Teologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 2001
  • Abdul Rozak, Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2010
  • Referensi: Drs. Tgk. H.Z.A. Syihab, Akidah Ahlus Sunnah: Versi Salaf-Khalaf Dan Posisi Asya'riah Di Antara Keduanya
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top