Sabtu, 22 Oktober 2016

Sejarah Pengumpulan dan Penulisan Al-Quran di Masa Nabi Muhammad SAW

Sejarah pengumpulan dan penulisan Al-Quran telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW. Hal ini sekaligus menandati bahwa tradisi literasi umat islam sudah berlangsung semenjak kedatangan islam di jazirah Arab yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Tentu sungguh pantas apabila Nabi Muhammad SAW. mendapatkan gelar sebagai bapak literasi dunia. Beliaulah yang mendekonstruksi tradisi oral bangsa Arab menjadi tradisi literasi berdasarkan perintah wahyu pertama Al-Quran. Semasa Rasulullah masih hidup, beliau telah memiliki beberapa pencatat wahyu, di antaranya adalah para Khulafa' al-Rasyidun, Muawiyah, Zaid bin Tsabit, Khalid bin Walid, Ubai bin Ka'ab, dan Tsabit bin Qois. Baca juga Gerakan Literasi dalam Al-Quran

Setiap wahyu turun, Rasulullah SAW memanggil beberapa sahabat dan memerintahkan salah seorang diantara mereka untuk menulisnya. Dan sekaligus memberitahukan kepada mereka dimana ayat-ayat yang diturunkan tersebut harus diletakkan. Di sisi lain, para sahabat pun menuliskan wahyu yang turun itu atas inisiatifnya sendiri, tanpa ada perintah dari Rasulullah SAW.

literasi al-quran, literasi arab, tradisi literasi, penulisan dan pengumpulan al quran, sejarah kodifikasi

Untuk menghindari tercampurnya Al-Quran dengan yang lainnya, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk tidak menuliskan sesuatu selain Al-Quran. Pola pengumpulan Al-Quran pada masa Rasulullah masih sangat sederhana sekali. Adapun alat tulis yang dipergunakan para sahabat pada waktu itu sangat beraneka ragam, antara lain: lembaran kulit, lembaran daun, atau lembaran kain, pelepah kurma, batu-batu yang tipis, tulang unta atau kambing yang lebar dan lain sebagainya.

Pada masa Rasulullah, pengumpulan dan penulisan ayat-ayat Al-Quran masih berserakan, hal ini dikarenakan antara lain:
  1. Pertama, para penghafal di kalangan sahabat jumlahnya masih banyak.
  2. Kedua, Rasulullah masih selalu menunggu akan turunnya wahyu dari waktu ke waktu.
  3. Ketiga, kemungkinan adanya ayat-ayat yang menasakh (merevisi) beberapa ketentuan hukum yang telah turun sebelumnya.
Barulah setelah Al-Quran turun lengkap, yaitu ditandai dengan wafatnya Rasulullah, kemudian Allah mengilhamkan kepada para Khulafa' al-Rasyidun untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, dan ini merupakan janji Allah untuk memelihara Al-Quran kepada umat islam.

Setelah wafatnya Rasulullah dan sebelum masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan sudah terdapat beribu-ribu salinan Al-Quran. [Lihat Muhammad Ali Ash Shabuniy, Studi Ilmu Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia, 1998, hal. 100]
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top