Santri dan Tradisi Bertabayyun

Klarifikasi atau ber-tabaayun, belakangan ini, tampak mulai terkikis -untuk tidak mengatakan telah hilang sama sekali- dari kehidupan umat, utamanya umat Islam. Padahal doktrin agama memerintahkan supaya kita ber-tabaayun atas informasi, sengketa, dan problem-problem sosial, politik dan keagamaan yang sedang terjadi. Ketahui Rahasia Kesuksesan Sistem Pendidikan Pesantren

Realitas menunjukkan bahwa umat cenderung langsung beraksi tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Langsung mengambil sikap tanpa terlebih dahulu memadukan pendapat. Keburu melaknat sebelum sempat menggali ayat secara tepat dengan metode yang akurat. Akhirnya berujung pada putusnya silaturahmi tanpa konfirmasi. Atas semua itu, saya jadi teringat pernyataan Abdul Qadir Audah, seorang tokoh kenamaan Mesir, bahwa "Islam berada diantara kebodohan umatnya dan ketidakmampuan ulama'nya" ...

 
Umat karebaketerbatasan ilmunya saling memfitnah, mencaci, mengkafirkan, sesat menysatkan sebagai akibat perbedaan penafsiran . Sementara ulamanya sudah mulai kedodoran dalam upaya mendamaikan dan memberi pencerahan terhadap keadaan umat.

Dalam konteks ini, menjadi benar kiranya tesis yang menyatakan bahwa "Kemunduran Islam bukan karena siapa- siapa, tapi karena sikap umat Islam sendiri: Walhasil, sudah saatnya kita membudayakan kembali budaya santri, yaitu budaya klarisikasi (tabaayun) sebelum ber-aksi, berkonsiliasi sebelum be-reaksi dengan caci maki, saling mensomasi dan memberikan petisi tanpa berkomunikasi dengan motif yang suci, mendialogkan pendapat sebelum menghujat.

Penulis: Ustadz Ahmad Syafi'i SJ. dosen tetap IAIN Ponorogo.

0 Komentar Santri dan Tradisi Bertabayyun

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top