Rabu, 19 Oktober 2016

Santri dan Kekuatan Finansial di Era Global, Sebuah Refleksi Hari Santri Nasional 2016

Bila didefinisikan, santri adalah sebutan bagi peserta didik atau murid yang belajar di pondok pesantren. Keistimewaan santri tidak terlepas dari keistimewaan pesantren itu sendiri. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara, pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang titik tekannya terletak pada internalisasi nilai-nilai keislaman dan local wisdom. Sedangkan menurut definisi Hadratussyekh KH. Hasani Nawawie, Santri, berdasarkan peninjauan prilakunya, adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan mengikuti sunnah Rasul saw, serta teguh pendirian. Ini adalah arti berdasar pada sejarah dan kenyataan, yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.

Belakangan ini, santri menjadi sosok yang menjadi harapan bagi terciptanya iklim indonesia yang bermartabat dan berbudi luhur. Di tengah merosotnya moral generasi muda dan para pemimpin, pesantren menjadi lembaga pilihan yang dinilai paling tepat untuk menyelamatkan anak-anak sedini mungkin dari pengaruh tersebut. Akan tetapi di sisi lain, masih ada kekhawatiran sebagian pihak bahwa output pesantren tidak memiliki bekal lifeskill untuk menunjang kehidupan finansialnya di masa depan.


Terkait kekhawatiran di atas, bapak Ahmad Syafi'i, dosen tetap STAIN Ponorogo saat menyampaikan Ceramah Motivasi PP. Darul Huda Mayak tentang Filsafat Ilmu Agama (ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu agama) menjelaskan, bahwa ada tiga komponen yang harus dikombinasikan oleh santri paripurna, yaitu: finansial, intelektual, dan spiritual. Seorang yang intelek tidak harus lemah secara finansial dan spiritual. Seorang yang ahli ibadah harus kuat secara finansial dan intelektual. Dan seorang yang kaya harus intelek dan ahli ibadah.

Terkait aspek intelektual, beliau menyampaikan bahwa alatnya ilmu, sebagaimana dikatakan dalam kitab Al-Fawa'idul Makiyyah, itu ada empat: Pertama, Syaikh/Kyai/Guru yang mampu membuka hatinya santri. Kedua, Piranti akal yang cerdas. Ketiga, kitab yang shahih/valid, dan keempat adalah berkesinambungan.

Dalam tradisi pesantren, kyai adalah sosok pengajar dan pendidik yang sentral dan memegang otoritas kebenaran. Akal yang cerdas merupakan piranti bagi santri untuk menginput pengetahuan-pengetahuan yang diberikan oleh kyai yang bersumber dari kitab-kitab yang dikaji secara berkesinambungan.

Tujuan puncak dari pendidikan yakni membentuk manusia seutuhnya, tidak terjadi split personalitiy dalam kepribadiannya. Hal ini dapat terwujud apabila telah terjadi keseimbangan antara kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, ditambah kuat secara finansial. Bagaimanapun juga, urusan finansial memang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, apalagi di jaman seperti sekarang ini. Santri yang kuat secara finansial setidaknya akan membuktikan bahwa umat islam bukanlah umat miskin dan terbelakang yang pandai menggunakan dalil tawakkal untuk menutupi kemalasannya dalam bekerja.

Tantangan santri di era global ini memang semakin berat. Santri tidak hanya diuntut untuk mampu membaca kitab kuning dan menghafalkan nadhom-nadhom seperti imrithi, alfiyah, dan lainnya. Santri juga harus siap untuk berkontribusi bagi kehidupan masyarakat ketika telah paripurna dari dunia pesantren. Oleh karenanya, tiga komponen sebagaimana yang disebutkan oleh bapak Ahmad Syafi’i di atas harus berusaha dikombinasikan dalam hidup seorang santri saat ia sudah terjun di masyarakat.

Di lapangan banyak ditemukan kasus, bahwa himpitan finansial dapat memicu ambisi seseorang untuk menembus batas-batas syariat guna mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kecerdasan intelektual dijadikan alat untuk bermain curang demi mencari keuntungan finansial, dan nilai spiritual pun tak lagi mampu menjadi rem yang mengontrol perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama, maka tidak ada alasan lain untuk tidak memperhatikan persoalan finansial seseorang, meski ia seorang santri yang dalam dirinya sarat dengan nilai-nilai religius keagamaan.

Pada kenyataannya, memang tidak semua orang memiliki maqom yang sama sebagai hamba Allah. Seperti yang dinyatakan dalam kitab Al-Hikamnya Ibnu Atha’illah, ada orang yang maqomnya tajrid, ada yang maqomnya asbab. Orang yang maqomnya tajrid yaitu orang yang dalam masalah finansialnya menjadi urusan Allah. Tugasnya hanya rajin beribadah dan berdzikir kepadanya. Soal finansial, Allah yang mengatur tanpa ia harus berpayah-payah dalam bekerja. Berbeda dengan orang yang maqomnya asbab, dia memang oleh Allah disetting untuk bekerja melayani sesama manusia untuk mencukupi kebutuhan finansialnya. Dari sini, tidak semua santri maqomnya tajrid, pun tidak pula semuanya asbab.

Bahkan Al-Quran pun mendorong umat islam untuk bekerja semaksimal mungkin dengan segala potensi yang dimilikinya dalam mencari rizki. Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya untuk menjadi pemalas yang berpandangan bahwa bekerja merupakan sesuatu yang buruk dan memberatkan diri. Padahal, letak bahagia dan nikmat Allah salah satunya ada dalam bekerja. Apalagi bila hal itu dalam rangka memberikan nafkah bagi keluarga.

Selain harus cerdas secara intelektual dan matang dalam spiritual, seorang santri juga harus menyadari akan pentingnya bekerja dan mencintai apa yang dikerjakan sebagai sebuah kewajiban dalam hidupnya. Umat islam dianjurkan untuk bekerja, dan islam membenci kebodohan, kemalasan, dan pengangguran. Di dalam bekerja, kita belajar dan berlatih untuk memanifestasikan nilai-nilai yang pernah diajarkan para kyai di pesantren seperti kejujuran, ketekunan, istiqomah, kerajinan, keterampilan, dan lain sebagainya. Dengan bekerja, seseorang akan memiliki nilai diri yang tinggi, tidak hanya secara individu, namun juga masyarakat, dan bahkan berkontribusi menguatkan umat islam secara keseluruhan.

Dalam hal ini, Nabi saw. melalui beberapa hadis beliau menerangkan tentang keutamaan bekerja. Seperti misalnya beliau menerangkan bahwa tiada makanan yang dimakan seseorang yang lebih baik daripada yang diperoleh melalui usahanya sendiri. Barangsiapa yang mencukupi kebutuhannya sendiri, maka Allah akan mencukupinya. Bahkan, pekerjaan mencari kayu bakar yang dalam pandangan orang sekarang adalah pekerjaan yang rendah, lebih baik dari meminta-minta.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai sebuah refleksi dan motivasi dalam menyambut Hari Santri 22 Oktober 2016 yang tinggal beberapa hari lagi. Semoga dengan doa dan keberkahan para wali, ulama, dan kyai yang terus mengalir, tewujudlah santri-santri unggulan yang dapat memperbaiki berbagai problem multidimensi yang melanda negeri ini. Al fatihah...

0 Komentar Santri dan Kekuatan Finansial di Era Global, Sebuah Refleksi Hari Santri Nasional 2016

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top