Meluruskan Kesalahpahaman Terhadap Makna "Menjadi Diri Sendiri"

Mungkin sudah ratusan kali kamu posting slogan atau semboyan tentang menjadi diri sendiri. Jadilah diri sendiri, menjadi diri sendiri itu lebih baik, terserah orang lain mau menilai apa, aku adalah aku, begitulah kalimat-kalimat yang sering sekali saya temui, baik di status facebook, sms, twitter, dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya, banyak yang menyalah-artikan istilah menjadi diri sendiri. Sebagai akibatnya, banyak perilaku yang menyimpang akibat konsep diri yang salah dan berlebihan.

Di sini, saya ingin sedikit mengklarifikasi tentang istilah "menjadi diri sendiri" yang selama ini cenderung dikonotasikan sebagai istilah yang selalu positif, terutama oleh kalangan ABG yang pola pikirnya bisa dibilang masih cukup dangkal dan sederhana. Belum sampai pada tingkat pemikiran kritis dan analisis terhadap segala macam informasi yang diterimanya.

Istilah "menjadi diri sendiri" ini kalau saya perhatikan seringkali menjadikan seseorang terjebak pada sikap atau mental yang membesarkan egoismenya alias membanggakan diri. Terkadang hal itu juga memunculkan sifat menonjolkan diri sendiri yang berlebihan. Seolah tidak ada bedanya antara menjadi diri sendiri dengan mementingkan diri sendiri, padahal keduanya jelas berbeda. Bahkan kerapkali istilah tersebut dipakai untuk melegitimasi kesalahan-kesalahannya yang sebenarnya tidak bisa ditolerir.

Jadi, benarkah "menjadi diri sendiri" itu selalu bermakna positif..?? Belum tentu, tergantung bagaimana seseorang memaknainya. Terkadang seseorang tidak bisa membatasi antara bagaimana konsep menjadi diri sendiri dan membanggakan diri sendiri. Karena memang dua karakter ini mirip, namun sangat berbeda. Menjadi diri itu positif, namun membanggakan diri itu negatif.

Membanggakan diri adalah sifat ingin menjadi diri sendiri yang diwujudkan secara over dan frontal.
Selain membanggakan diri, keinginan untuk menjadi diri sendiri yang terlalu over, menyebabkan seseorang egois dan sulit menerima perbedaan serta nasehat baik dari orang lain. Kalu diri anda gampang marah-marah, maunya menang sendiri, jarang sholat, dan seperangkat mental negatif lainnya, apakah "menjadi diri sendiri dengan tetap kukuh mempertahankan atribut diri yang seperti itu" masih bermakna positif..? Tidak, bukan? Justru dengan dalih ingin menjadi diri sendiri, sebenarnya hal itu adalah pembelaan diri untuk memuaskan segala hasrat negatif yang selama ini menjadi kebiasaannya.


Untuk menjadi diri sendiri, terlebih dahulu anda harus menyelami sisi terdalam dari diri anda sendiri. Setelah anda menemukan siapa dan seperti apa diri anda yang sebenarnya, anda perlu mentipologikannya, mana sisi yang positif yang harus terus dijaga dan dipertahankan, dan mana yang negatif dan perlu dihindari sebisa mungkin. Ambillah sisi yang positif itu sebagai alasan untuk "menjadi diri sendiri" yang baik.

Istilah "menjadi diri sendiri" akan bermakna positif manakala apa yang anda jadikan pertimbangan untuk membangun sebuah identitas diri adalah hal-hal positif yang anda miliki. Anda tidak perlu menjadi orang lain, di mana hal itu justru akan membuat anda berkamuflase dan kehilangan identitas diri anda sendiri, namun yang harus anda lakukan adalah belajar dari orang lain untuk kebaikan diri anda sendiri.

0 Komentar Meluruskan Kesalahpahaman Terhadap Makna "Menjadi Diri Sendiri"

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top