Rabu, 12 Oktober 2016

Melacak Perkembangan Tradisi Islam Nusantara

Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Sebelum islam datang, masyarakat nusantara sudah mengenal berbagai kepercayaan. Hal itu yang membuat proses dakwah islam pada saat itu tidak terlepas dari adat yang sudah berlaku. Kepercayaan masyarakat yang sudah mendarah daging tidak mungkin dapat dihilangkan secara langsung. Akan tetapi, memerlukan akulturasi antara ajaran islam dan adat yang ada di nusantara. Para ulama tidak menghapus secara total adat yang sudah berlangsung di masyarakat. Mereka memasukkan ajaran-ajaran atau nilai-nilai islam dalam tradisi-tradisi tersebut dengan harapan masyarakat tidak merasa kehilangan adat dan ajaran islam dapat diterima. Dengan demikian, tradisi islam di nusantara bukan merupakan ajaran islam yang harus diamalkan, tetapi sebagai metode dakwah saat itu. Baca juga Rahasia Kesuksesan Sistem Pendidikan Pesantren

Secara umum, proses islamisasi terjadi dalam empat hal, yaitu:
  1. Proses pemasyarakatan warisan budaya istana yang dinilai halus dan adiluhung. Misalnya seni pewayangan dan gamelan.
  2. Kitab-kitab pesantren, seperti naskah berbahasa melayu, bertulisan jawa pegon, atau naskah berbahasa arab menjadi sumber dalam proses kreatif para pujangga dan sastrawan jawa.
  3. Proses pencarian titik temu antara dua tradisi yang berbeda. Misalnya upaya sultan agung untuk menyatukan hitungan tahun saka dengan tahun hijriyah.
  4. Dukungan pihak istana dalam penyebaran islam, berupa pembangunan fasilitas keagamaan seperti masjid dan penyelenggaraan hari besar islam.
Akulturasi Islam Dan Budaya Lokal

Akulturasi merupakan perpaduan antara dua budaya atau lebih yang saling berhubungan atau saling bertemu, tetapi tidak menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Dalam konsep akulturasi ini, Islam diposisikan sebagai kebudayaan asing dan masyarakat sebagai lokal sebagai penerima kebudayaan asing tersebut. Baca juga Pesantren Sebagai Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

Setiap masyarakat di suatu daerah memiliki tradisi dengan ciri khas tersendiri. Karena ajaran islam yang bersifat universal, islam bersifat mengakomodasi suatu budaya, bukan mengubahnya. Pada gilirannya, tradisi islam semakin memperkaya keragaman budaya lokal di nusantara.

Kedatangan islam berbeda dengan kedatangan hindu-budha yang membawa symbol-simbol bangsa india. Islam datang tanpa membawa symbol-simbol budaya timur tengah atau Arab, sebagai tempat awal perkembangannya. Dalam penyebarannya, islam cenderung mengakomodasi budaya penduduk setempat. Akibatnya, islam dapat seiring-sejalan dengan tradisi yang ada sebelumnya.

Dengan demikian, terjadilah akulturasi budaya islam dengan budaya lokal sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Dalam penyebarannya di Indonesia, islam menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat setempat.

Strategi dakwah ditentukan berdasarkan pemahaman mereka terhadap tradisi lokal. Wayang dan gamelan merupakan contoh bentuk akulturasi antara budaya hindu dengan islam. Dengan praktek ini islam dapat tersebar melalui tradisi Hindu yang telah ada sebelumnya. Pemanfaatan unsur budaya lokal memungkinkan agama islam diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.

0 Komentar Melacak Perkembangan Tradisi Islam Nusantara

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top