Hidup Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulasi Matematis

Dalam hidup ini, kita tidak lepas dari harapan dan kenyataan. Harapan adalah sesuatu yang abstrak yang mampu membuat seseorang terus bergerak untuk mencapainya. Dengan memiliki harapan yang positif, seseorang tidak akan merasa kebingungan dalam hidup ini. Ia juga tidak akan mengalami kekosongan orientasi hidup. Karena harapan bagaikan penunjuk jalan bagi seseorang tentang kemana ia harus melangkah dan bagaimana cara melangkah.

Setiap orang tentu ingin apa yang ia harapkan menjadi kenyataan. Akan tetapi, kenyataan hidup ini seringkali menghadiahkan kita kesenjangan-kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Ketika kita menyukai si A dan berharap bisa menikah dengannya misalnya, justru kenyataan yang terjadi adalah si A tersebut suka kepada si B dan akhirnya menjadi istri si B, atau ketika kita jatuh cinta dan mati-matian membela salah satu capres idola kita dengan harapan agar menang dalam pemilu, akan tetapi pada kenyataannya capres yang kita bela tersebut kalah.





Sahabat, begitulah kehidupan. Skenario Tuhan penuh dengan hal-hal yang unik dan mengejutkan. Episode demi episode sudah tersusun rapi dalam satu draft yang sudah satu paket dengan yang apa yang dinamakan Takdir. Seberapa kuat dan kerasnya harapan dan usaha kita untuk merealisasikan nya, tak akan mampu menembus tembok takdir Tuhan. Artinya, kalau memang takdir Tuhan berkata lain, tiada yang bisa kita lakukan selain ikhlas menerimanya. Begitu pula sebaliknya, apabila harapan kita itu memang berbanding lurus dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, maka tiada seorangpun yang dapat menghalangi terwujudnya harapan itu menjadi sebuah kenyataan.


Sebagai manusia, kita hanya bisa berasumsi dan berestimasi. Kita hanya bisa menduga merancang kenyataan-kenyataan yang mungkin akan terjadi dengan jalan melakukan pendekatan berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain di masa lampau. Sesakti apapun manusia, ia tidak akan bisa memastikan bahwa apa yang dia harapkan saat ini pasti akan menjadi kenyataan di esok hari atau suatu hari nanti.

Apabila kita sering melihat adanya kaitan sebab-akibat yang hampir tidak bisa dipisahkan sama sekali, bukan berarti kita dapat memastikan bahwa sebab tersebut akan selalu membwa akibat seperti yang sudah pernah kita lihat sebelumnya. Karena pada hakikatnya, Tuhan Maha Kuasa untuk memunculkan akibat yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini lazim kita lihat. Begitulah, Tuhan memberikan indikasi-indikasi kepada kita akan kenyataan tertentu yang kemungkinan bisa terjadi. Kita perlu berpikir tentang kenyataan atau kenyataan yang sedang kita alami saat ini, apakah match atau tidak dengan harapan-harapan kita.

Terkadang, semakin pintar seseorang maka semakin banyak pula pertimbangan seseorang itu dalam melangkah, padalah jika kita telaah lebih jauh terlalu banyak pertimbangan menimbulkan orang menjadi ragu bahkan mengarah kepada takut untuk sekedar memiliki sebuah harapan. Jika pertimbangan itu dilakukan kepada hal yang negatif itu sangat perlu, tapi jika untuk masalah kebaikan itu yang akan menjadi kurang benar.

Dalam hal menikah contohnya, banyak orang yang pintar dan mempunyai pendidikan yang tinggi takut untuk menikah karena dalam benaknya terlalu banyak konsep hidup yang diukur dengan hitungan matematika, takut gak bisa ngasih nafkah lah, belum siap lah dll, ini berbanding terbalik dengan orang yang mempunyai pendidikan rendah, tukang becak misalnya mereka lebih berani mengambil keputusan untuk segera menikah walaupun penghasilan mereka belum jelas, karena mereka mempunyai tingkat kepasrahan kepada Allah yang sangat tinggi. Dan sesungguhnya hidup tidak bisa diukur dengan matematika.

0 Komentar Hidup Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulasi Matematis

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top