Senin, 03 Oktober 2016

Guru Profesional Wajib Miliki Tiga Unsur Ini

Profesi, profesional, dan profesionalisme merupakan tiga kata yang sering dikaitkan dengan Guru. Dalam KBBI, profesi diartikan sebagai pekerjaan yang dilandasi dengan proses pendidikan tertentu. Sedangkan profesional adalah pekerjaan yang membutuhkan kepandaian atau skill khusus agar dapat mengerjakannya.

Dalam konteks profesionalisme guru, penyebutan “guru profesional” sudah tidak asing lagi di telinga kita, namun masih banyak orang yang belum tau atau gagal paham terkait unsur apa saja yang harus ada pada sifat profesional tersebut.


Menurut Lawren Friedman, bahwa profesional itu meniscayakan tiga hal, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan etika (ethics). Bila tiga unsur ini telah ada dalam sosok seorang guru, maka dia layak untuk disebut sebagai Guru Profesional, sekalipun dia masih berstatus honorer dengan nasibnya yang sering diPHPin sama pemerintah. Simak juga Guru Honorer dan Dituntut Perbaiki Kualitas Pendidikan?

Guru sangat berperan penting dalam membantu peserta didik mencapai berbagai tujuan dalam hidupnya melalui serangkaian proses pendidikan dan pengajaran. Guru tidak hanya sebatas transformator pengetahuan, namun ia juga seorang ahli dalam berbagai keterampilan sesuai dengan profesinya sekaligus teladan dalam beretika bagi anak didik dan masyarakatnya.

Dalam dunia pendidikan, guru berperan membantu peserta didiknya dalam mengoptimalkan minat yang dimiliki. Dengan mengenali minat dari masing-masing peserta didiknya, guru kemudian membantu peserta didik mengembangkan minat tersebut dengan kemampuan yang dimilikinya.

Selain itu, guru juga membantu peserta didik mengenali dan mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki. Minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik merupakan potensi yang akan berkembang secara optimal apabila mendapat bantuan, arahan, dan bimbingan dari guru.

Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didiknya. Dan kemampuan tersebut merupakan karakteristik seorang Guru Profesional. Bentuk penjabaran dari sifat seorang Guru Profesional menurut Lawren Friedman di atas ialah sebagai berikut:
  1. Penuh kasih sayang terhadap semua anak didiknya. Guru harus memiliki sifat kasih sayang terhadap setiap anak didiknya. Ia tidak boleh memiliki sikap pilih kasih terhadap anak didiknya. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki kesadaran yang tinggi akan perbedaan karakteristik setiap anak didiknya, baik dari segi latar belakang keluarga, intelektual, dan lain sebagainya.
  2. Mau menjadi tempat mencurahkan segala permasalahan peserta didik. Seorang guru hendaknya bisa menjadi tempat yang nyaman untuk mengadukan segala perasaan atau permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak didiknya. Dengan begitu, antara guru dan peserta didik akan terjalin sebuah jalinan emosional yang kuat, sehingga para peserta didik tidak memiliki persepsi yang negatif terhadap guru.
  3. Fasilitator yang siap memberikan kemudahan. Guru hendaknya selalu siap untuk menjadi fasilitator bagi anak didik untuk lebih mudah dalam mengembangkan bakat, minat, dan kemampuannya. Baca juga 10 Kewajiban Seorang Guru
  4. Membantu orang tua menemukan masalah dan solusi bagi permasalahan yang dihadapi anak. Guru hendaknya memiliki jalinan komunikasi yang baik dengan para orang tua peserta didik agar para orang tua bisa dengan mudah mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh anaknya. Dengan kerjasama yang baik anatar guru dan orang tua, maka permasalahan-permasalahan yang sekiranya bisa muncul dari diri peserta didik dapat diminimalisir dan ditangani sejak dini.
  5. Memupuk rasa percaya diri, berani, dan bertanggung jawab kepada anak didiknya. Selain mentransfer ilmu pengetahuan, guru juga harus memiliki kemampuan untuk memotivasi dan menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri setiap peserta didik. Konsekuensinya adalah, minimal guru harus menguasai psikologi pendidikan dan perkembangan agar ia dapat mengidentifikasi karakter dari setiap anak didiknya. Sehingga ia dapat memberikan solusi yang tepat sesuai dengan latar belakang masalah yang dihadapi peserta didiknya. Sebagai contoh, apabila ada diantara anak didiknya yang kurang percaya diri, maka seorang guru harus mampu mencari apa penyebabnya dan memberi solusi bagaimana agar anak tersebut menjadi lebih percaya diri.
  6. Menanamkan kebiasaan pada peserta didik untuk bersosialisasi secara wajar. Bersosialisasi secara wajar maksudnya adalah bergaul dengan orang lain baik teman, keluarga, serta masyarakat yang lain sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang bersumber dari agama maupun budaya. Jangan sampai ada anak didik yang memiliki jiwa anti-sosial dan tidak tau aturan tentang cara bersosialisasi yang baik dan benar. Oleh karena itu, guru hendaknya mampu menjadi model bagi para peserta didiknya.
  7. Mengembangkan kreatifitas. Guru harus kreatif, agar para peserta didiknya termotivasi untuk kreatif. Sebagai contoh apabila seorang guru bahasa indonesia sering menyuruh anak didiknya untuk menulis, maka guru tersebut hendaknya juga harus bisa dan kreatif menulis. Apa kata dunia kalau yang sering menyuruh nulis anak didiknya, tapi dia sendiri tidak bisa menulis karena tidak pernah menulis, kan lucu.
  8. Menjadi pembantu ketika diperlukan. Menjadi pembantu maksudnya bukan menjadi pembantu rumah tangga yang disuruh nyuci, ngepel lantai, dan lain sebagainya. Namun membantu di sini maksudnya adalah guru tersebut ringan tangan dan siap siaga apabila ada peserta didik, orang tua, atau guru lain yang meminta bantuan kepadanya. Selama ia mampu memberi bantuan, hendaknya tidak menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak logis.

0 Komentar Guru Profesional Wajib Miliki Tiga Unsur Ini

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top