Cara Dunia Islam Menyikapi Tradisi dan Modernitas

1. Pengertian Tradisi dan Modernitas

Tradisi adalah sesuatu peninggalan masa lalu, baik masa lalu umat islam maupun masa lalu barat kepada masa sekarang, baik peninggalan yang bersifat material seperti bangunan-bangunan peradaban maupun peninggalan yang bersifat intelektual seperti karya-karya tasawuf, tafsir, filsafat, dan fikih.

Sedangkan modernitas adalah segala sesuatu yang datang dari barat. Barat mempunyai berbagai macam produk yang bersifat material yang kemudian masuk ke timur tengah. Dengan kata lain, dunia arab itu berdiri atau hidup di atas dua kaki, yaitu di kaki tradisi dan di kaki modernitas. Dikatakan bahwa mereka hidup di kaki tradisi karena mereka masih memegang tradisi intelektualnya imam syafii, al-Ghazali, Asy’ari, ath-Thabari, dan lainnya. Ini berarti bahwa di satu sisi mereka masih memegang tradisi keilmuan dunia islam, tapi di sisi lain mereka hidup di dunia modern dengan berbagai produknya mulai dari alat komunikasi dan informasi, transportasi, dan lain sebagainya.

2. Cara dunia islam menyikapi tradisi dan modernitas

Bagaimana dunia islam menyikapi dua tradisi ini, tradisi masa lalu dan tradisi modernitas? Seperti misalnya bagaimana kita menyikapi pemikiran Syafi’i dan modernitas?

Dalam menyikapi hal di atas, kemudian muncul tiga kelompok, yaitu:

1. Kelompok Idealistik

Kelompok ini mengatakan bahwa kalau umat islam ingin maju, maka umat islam harus meninggalkan modernitas dan mengambil mentah-mentah tradisi umat islam. Kita harus mengambil pemikiran Syafi’i, Hanafi, Hanbali, As’yari, Al-Ghazali dan setiap pemikiran masa yang berasal dari tradisi masa lalu. Kita tidak boleh mengambil segala sesuatu yang berasal dari modernitas yang berasal dari barat seperti produk-produk teknologi misalnya HP, Internet, dan lain sebagainya. Karena mereka menganggap segala bentuk modernitas yang berasal dari barat adalah bid’ah, kafir, dan haram.

Begitu pula sebalikya, tradisi umat islam masa lalu merupakan sesuatu yang pasti baik. Pada intinya, menurut kelompok ini kita harus kembali kepada tradisi umat islam masa lalu dan pada saat yang sama membuang mentah-mentah semua yang datang dari barat.
Kelompok ini mengidealkan segala bentuk tradisi masa lalu umat islam. Apabila umat islam saat ini ingin maju, maka kita harus kembali ke masa lalu umat islam di mana saat itu umat islam sangat ideal. Kelompok yang pertama ini adalah kelompok mayoritas. Contoh dari kelompok ini adalah Ikhwanul muslimin, Hisbut Tahrir, ISIS, dan Wahabi.

2. Kelompok Transformatif

Kelompok ini merupakan antitesa dari kelompok yang pertama. Mereka menyatakan bahwa ketika umat islam ingin maju seperti barat baik dalam hal peradaban material maupun pemikirannya, maka kita harus mengadopsi peradaban yang berasal dari barat dan menanggalkan peradaban islam klasik. Secara kuantitatif, kelompok ini lebih sedikit dibandingkan kelompok pertama. Rata-rata mereka berasal dari orang-orang Kristen yang berasal dari Timur tengah dan tinggal di Barat yang kemudian kembali untuk melakukan transformasi intelektual dari barat ke dunia islam.

3. Kelompok Reformatif

Kelompok ini merupakan sintesa dari kelompok pertama dan kedua. Dengan kata lain, corak pemikirannya merupakan perpaduan antara kelompok yang pertama dan kedua. Menurut kelompok ini, tradisi itu ada yang positif ada yang negatif. Ada yang cocok untuk masa lalu, tapi tidak cocok untuk masa sekarang, tetapi ada pula yang tidak cocok untuk masa lalu tetapi cocok untuk masa sekarang. Begitu pula dengan peradaban barat, ada yang positif ada yang negatif.

Kelompok transformatif mengambil sesuat yang positif dari tradisi dan modernitas yang berasal dari barat. Perpaduan yang dihasilkan dari dua sisi positif inilah yang kemudian disebut dengan pola berfikir reformatif. Silahkan saat ini kita menggunakan berbagai perangkat teknologi modern yang berasal dari barat. Namun di saat yang sama, kita juga harus tetap memegang nilai-nilai etika dan semangat yang berasal dari tradisi islam.

Dari kelompok reformatif ini, masih terbagi lagi menjadi dua kelompok yang berbeda. Pertama adalah kelompok rekonstruktif dan yang kedua adalah kelompok dekonstruktif.

Kelompok rekonstruktif ini menampilkan kembali karya-karya tradisi masa lalu umat islam kemudian diambil mana yang baik. Sedangkan kelompok dekontruktif mengambil mana yang baik dari tradisi masa lalu sekaligus mengkritisi sesuatu yang dianggap negatif dari tradisi masa lalu yang menjadi akar penyebab kemunduran umat islam.

Kelompok dekonstruktif ini bisa diistilahkan dengan Post. Kita tentu sering mendengar atau membaca istilah-istilah seperti Post-modernisme, Post-tradisionalisme, dan post-post yang lain. Istilah Post- ini secara bahasa memiliki dua makna, yaitu melahirkan dan memutus. Post- bisa bermakna melahirkan atau melanjutkan sesuatu yang sudah ada, atau memutus dari sesuatu yang sudah ada.

Dalam konteks di atas, dapat dipahami bahwa kelompok rekonstrukktif merupakan kelompok yang relevan dengan istilah Post- yang bermakna melanjutkan, sedangkan kelompok dekosntruktif yang memutus.

Dari perbedaan sikap mengenai tradisi dan modernitas saja, muncullah begitu banyak kelompok dalam islam. Ada di kelompok mana kita saat ini? Masing-masing tentu bisa instrospeksi diri.

0 Komentar Cara Dunia Islam Menyikapi Tradisi dan Modernitas

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top