Senin, 03 Oktober 2016

Belajar dari Pepatah Bijak Diam Itu Emas

"Diam itu Emas", Silent is Gold, otilah pepatah bijak yang sering kita dengar tentang keutamaan diam. Pengalaman mengajarkan bahwa manusia akan menemukan ketenangan dengan mengurangi empat kebiasaan bawaannya berupa sosialisasi, makan, tidur dan banyak berbicara. Khusus untuk yang disebutkan terakhir, Islam memberikan banyak penekanan tentang pentingnya mengendalikan lidah seseorang dari banyaknya bicara. Dalam islam, rasulullah melalui haditsnya juga mengajarkan bahwa kita lebih baik diam jika tidak bisa berkata yang baik-baik. Dan juga, diam lebih baik bagi orang yang bodoh untuk menyembunyikan kebodohannya. Orang bodoh yang banyak bicara sama saja dia mengumbar kebodohannya sendiri. Baca juga Belajar Kepedulian Sosial dari Matahari

Pada umumnya membicarakan hal-hal yang sebenarnya kurang bermanfaat sudah menjadi bagian dari budaya mayoritas masyarakat kita. Mereka sedikit berpikir, tapi banyak bicara tanpa guna. Anehnya, banyak juga orang yang banyak bicara tentang agama tapi pembicaraannya itu tidak bermakna, bahkan bisa menyesatkan banyak orang. Kenapa? Karena banyak orang yang berbicara tentang Tuhan dan agama tanpa didasari oleh ilmu dan pengetahuan yang mendalam tentang apa yang ia ucapkan. Di lain pihak, banyak orang yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak berguna. Padahal, salah satu tanda baiknya islam seorang muslim adalah dengan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya, termasuk pembicaraan.


Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang yang dalam obrolannya terjerumus ke dalam fitnah, perdebatan, kebohongan, dan mencari-cari aib orang lain. Di sisi lain ucapan yang bermanfaat dan sesuai dengan ajaran Islam adalah apa saja yang baik menurut pandangan islam dan bersifat konstruktif. Dalam hal ini, perkataan baik yang bisa membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain lebih baik daripada diam. Simak juga Motivasi Hidup ala Kang Mujib

Tidak jadi masalah kalau kita berbicara di depan publik, seperti menjadi seorang da’i atau penceramah, dan memang dalam agama kita diajarkan bahwa sebagian dari kita harus ada yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran, yang salah satu metodenya dengan ceramah. Akan tetapi, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Seperti niat yang benar, tidak untuk mencari keuntungan dan mengandung unsur kepentingan pribadi atau golongan yang sifatnya duniawi, memiliki pemahaman yang mendalam tentang apa yang diucapkan, dengan bahasa yang sopan santun dan halus, serta harus siap bertanggungjawab atas apa saja yang diucapkan.


Bicara yang berlebihan bisa menjadi ancaman serius bagi jiwa seseorang. Lidah memiliki keistimewaan, dan keistimewaan itu adalah untuk menyebut nama Allah dan mengingat-Nya. Hal itu merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada-Nya. Salah satu cara yang efektif agar kita tidak terjerumus ke dalam banyaknya pembicaraan yang tidak bermanfaat adalah dengan senantiasa membasahi lidah ini untuk menyebut nama ALLAH swt. setiap saat.
Rasulullah SAW bersabda: "Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama. Shadaqah dapat memadamkan murka Raab, tetapi diam itu lebih utama. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama. Jihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama." Dalam hadits lain Rasulullah juga pernah bersabda: "Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi." (HR. Dailami, dari Abu Hurairah)
Maksud dari diam di sini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun duniawi, dan diam dari membalas omongan orang yang mencemooh kita. Diam yang seperti inilah yang termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan.

Adapun jika seseorang diam karena dia sendirian tanpa ada orang lain yang memotivasinya/menyebabkan dia harus diam seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka diamnya bukan ibadah. Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
 
Kita diajarkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum bicara. Itulah mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan hanya satu mulut, agar lebih banyak kita mendengar daripada berbicara. Meskipun mungkin kita belum mampu menghabiskan setiap saat untuk berdzikir dan mengingat Allah, namun itu adalah bagian dari latihan spiritual untuk menjaga lidah seseorang basah dengan dzikrullah (mengingat Allah). Setelah banyak dzikir dengan lidah (beberapa mengatakan itu waktu bertahun-tahun), insyaAllah hal itu akan menjadi kebiasaan yang tertanam kuat dalam diri kita. Dalam setiap waktu, tempat, dan keadaan, kita terbiasa untuk berdzikir dan mengingat Allah. Diam lebih baik, jika kita masih sulit untuk mengontrol lidah untuk berbicara tentang hal-hal buruk.

0 Komentar Belajar dari Pepatah Bijak Diam Itu Emas

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top