2 Jalan Menggapai Kebahagiaan Sejati Versi Imam Al-Ghazali

Wikipendidikan - Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) tidak hanya dikenal sebagai salah satu filsuf besar Islam, ia juga dianggap, setelah Nabi Muhammad SAW, sebagai pemegang otoritas terkemuka pada bidang teologi Islam dan jurisprudensi. Apa yang kebanyakan orang tidak ketahui adalah bahwa al-Ghazali menulis secara panjang lebar tentang topik kebahagiaan. Ihaya' yang terdiri lebih dari 6000 halaman dan 4 volume, diringkas sebagai teks pendek dalam bahasa Persia, berlabel Kimia Kebahagiaan (Alchemy of Happiness).

Baca juga:
Dalam Alchemy of Happiness, al-Ghazali memulainya dengan menulis bahwa "Dia yang tahu dirinya benar-benar bahagia." Pengetahuan tentang diri terdiri atas menyadari bahwa kita memiliki hati atau roh yang benar-benar sempurna, tetapi telah ditutupi debu berupa akumulasi kesenangan yang berasal dari tubuh dan sifat kebinatangan. Inti dari diri disamakan dengan cermin sempurna yang jika dipoles akan mengungkapkan sifat ilahiah seseorang yang sebenarnya.


Kunci untuk membersihkan cermin itu tadi adalah dengan penghapusan keinginan ego dan semua keinginan yang bertentangan dengan melakukan apa yang benar dalam semua aspek kehidupan seseorang. Saat ia menulis, "tujuan disiplin moral adalah untuk memurnikan hati dari karat-nafsu dan amarah sampai seperti cermin yang jelas, yang mencerminkan cahaya dari Allah."

Tugas seperti itu tidaklah mudah, sehingga akan terlihat bahwa kebahagiaan sejati bukan keadaan yang dapat dengan mudah dicapai kebanyakan orang pada umumnya. Memang, al-Ghazali menekankan bahwa hanya beberapa orang telah mencapai kebahagiaan tertinggi ini, yang mengalami persatuan dengan ilahi. Orang-orang ini adalah para nabi, sebagai utusan untuk mengingatkan umat manusia dari tujuan sebenarnya dan tujuan akhir mereka. Para nabi adalah mereka yang telah berhasil membersihkan cermin batin mereka dari semua karat dan kotoran yang dikumpulkan oleh keinginan tubuh. Hasilnya, mereka dapat melihat sesuatu saat mereka terjaga, di mana orang lain hanya dapat melihatnya dalam mimpi mereka, dan mereka menerima wawasan ke dalam qalbu melalui pancaran langsung dari intuisi daripada melalui proses pembelajaran yang melelahkan.

al-Ghazali menyatakan bahwa para nabi adalah orang-orang yang paling bahagia, karena mereka telah mencapai tujuan akhir dari eksistensi manusia. Al-Ghazali menulis bahwa setiap orang dilahirkan dengan "mengetahui rasa sakit dalam jiwa" yang dihasilkan dari pemutusan hubungan dengan Realitas non-materiil (Tuhan). Mata kita telah begitu terganggu oleh hal-hal fisik dan kesenangan, akibatnya kita telah kehilangan kemampuan untuk melihat yang tak terlihat. Inilah sebabnya mengapa orang tidak bahagia: mereka mencoba untuk menghilangkan rasa sakit dalam jiwa dengan jalan mencari kesenangan-kesenangan fisik. Tapi kenikmatan fisik tidak bisa meredakan rasa sakit yang pada dasarnya itu merupakan kegersangan spiritual. Satu-satunya jawaban untuk kondisi kita adalah kenikmatan yang datang bukan dari tubuh, tetapi dari pengetahuan tentang diri.

Pengetahuan tentang diri sendiri tidak akan dicapai oleh pemikiran semata atau filsafat. Sebagai sufi, al-Ghazali mengacu pada dua cara untuk mencapai puncak kebahagiaan: melalui tarian (para darwis berputar) dan musik (Qawalli, yang diwakili di zaman modern dengan lagu-lagu dari Nusrat Fateh Ali Khan, sebagai contoh). Salah satu tarian dasar darwis sufi hanya berputar di sekitar paku besar yang ditempatkan di antara dua jari pertama dari kaki kiri. Ini melambangkan gagasan bahwa segala sesuatu berputar di sekitar Allah, bahwa Dia adalah pusat serta lingkar setiap kegiatan. Satu demi satu putaran, batas-batas diri mulai memudar, dan menjadi benar-benar diserap oleh cinta murni ilahi. Euforia dicapai ketika kita kehilangan kesadaran diri dan menjadi terfokus pada Tuhan. Dengan cara ini, tarian Sufi atau musik mirip dengan konsep Csikszentmihalyi tentang "Flow".

al-Ghazali juga menulis bahwa ketidakbahagiaan diciptakan oleh perbudakan keinginan dan keyakinan bahwa seseorang harus memenuhi keinginannya sendiri (sebagaimana diatur oleh naluri dasar dan selera). Dia berpendapat bahwa semua orang merasakan, bahkan dalam keadaan membingungkan, bahwa ada sesuatu yang salah, bahwa otentisitas kehidupan kita perlu dikoreksi. Perasaan jengkel seperti ini adalah sumber sukacita terbesar kita, agar sesekali kita menjadi sadar akan hal itu dan kita dapat memimpin diri kita dalam arah yang berlawanan, menuju kehidupan penuh makna dan transendensi-diri. [Diolah dari the history of happiness]

0 Komentar 2 Jalan Menggapai Kebahagiaan Sejati Versi Imam Al-Ghazali

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top