Alasan Mekah dan Madinah Disebut Tanah Haram

Salah seorang santri saya bertanya kepada saya mana saja yang disebut dengan Tanah Haram itu dan mengapa kok disebut Tanah Haram? Mendengar pertanyaan itu saya agak sedikit goblok mendadak, soalnya saya tidak sempat belajar sebelum mengajarkan materi hari itu. Seperti biasanya, saya mengajar materi fikih setiap jumat sore di madrasah diniyah desa saya. Sejak beberapa bulan materi yang belum selesai dibahas adalah materi tentang haji. Pembahasannya memakan waktu berbulan-bulan karena saya sedikit sok sibuk dengan kegiatan kampus yang sebenarnya tidak layak disibuki, hehe.

Pembahasan tentang haji tentu saja tidak lepas dari Mekkah dan Madinah yang notabene merupakan tempat yang menjadi tujuan para jamaah haji. Penyebutan “Tanah Haram” banyak sekali kita jumpai dalam dialog sehari-hari maupun tulisan-tulisan di buku maupun media yang lainnya. Akan tetapi masih banyak di antara kita yang mungkin masih bertanya-tanya kenapa kok bisa disebut tanah haram atau bagaimana kronologi yang melatarbelakangi munculnya istilah tersebut.


Dari hasil pencarian yang saya lakukan, saya menemukan beberapa jawaban tentang Tanah Haram tersebut. Salah satunya dari salah satu artikel yang dirilis oleh republika.co.id yang dikutip dari buku berjudul Haji dan Umrah Bersama M. Quraish Shihab yang ditulis oleh Prof. Dr. Quraish Shihab.

Menurut pendapat Quraish Shihab yang tertuang dalam buku tersebut, secara etimologis kata haram diambil dari akar kata yang maknanya larangan dan pengetatan. Apabila dimaknai dari perspektif fikih, kata haram merupakan lawan kata dari kata halal yang memiliki makna penguraian atau pelepasan. Namun kata halal ini kemudian mengalami perkembangan makna yang berarti boleh, sedangkan haram mengalami perkembangan makna yang berarti hormat.

Quraish Shihab berpendapat bahwa sebenarnya penyebutan kota atau tanah haram yang dalam istilah arabnya al Balad al Haram sudah lama dikenal dan digunakan jauh sebelum Rasulullah Muhammad SAW. lahir. Lalu siapa yang pertama kali menggunakannya? Ia adalah Nabi Ibrahim AS.

Tanah Haram adalah sebuah kawasan yang terhormat dan wajib dihormati. Oleh karena itu sebagai konsekuensinya ada ketentuan-ketentuan dan larangan yang harus dipenuhi yang berkaitan dengannya. Layaknya seseorang atau sesuatu yang dinilai terhormat, maka ada banyak syarat dan ketentuan yang berkaitan dengannya, entah dalam bentuk larangan atau aturan yang menharuskan.

Seperti misalnya ketika kita berziarah kubur ke makam para wali yang merupakan tempat yang terhormat dan harus dihormati, ada keharusan-keharusan yang mesti kita penuhi dan ada pula larangan-larangan yang mesti kita hindari sebagai bentuk penghormatan kita atas tempat yang terhormat tersebut. Intinya, penghormatan menghasilkan larangan-larangan atau ketentuan-ketentuan.

Menurut Direktur Pusat Studi Al-Quran, Tanah Haram adalah tanah yang terlarang bagi para penganiaya, agresor, dan sejenisnya. Kata haram juga disandingkan dengan kata masjid yang akhirnya membentuk istilah Masjidil Haram. Makna kata haram di sini bukan dalam arti haram sebagaimana pemakanaan yang berasal dari hukum fikih. Namun haram di sini bermakna penuh dengan kehormatan. Jadi makna masjidil haram adalah masjid yang penuh kehormatan.

Hal ini bisa kita lihat melalui firman Allah dalam surat At-Taubah (9) ayat 28 yang artinya, ''Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (jiwanya), maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini.''

Ayat ini merupakan ketetapan Allah di mana orang-orang kafir atau orang non-muslim dilarang memasuki masjidil haram. Ketetapan ini terjadi pada sekitar tahun 9 setelah Nabi SAW. hijrah. Ini bukan berarti Islam itu eksklusif, akan tetapi setiap agama memang memiliki ketentuan dan kebijakan tertentu. Sebagaimana sebuah negara memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan yang mengatur siapa saja yang boleh masuk atau dilarang masuk ke negaranya.

Batas Wilayah Tanah Haram

Wilayah Mekkah seluruhnya termasuk Tanah Haram, akan tetapi berbeda dengan Madinah. Kota Madinah terbagi dua seksi yaitu sebagian tanah haram dan sebagian lagi bukan. Batas antara kedua seksi itu ditandai dengan “gate” dari segala penjuru mata angin bertuliskan “start of haram area” tersebut. (sumber)

Untuk wilayah Mekkah, semua ketentuan dan larangan tentang tanah haram mulai dari batas miqat makani sebagaimana yang berlaku bagi jamaah haji. Di sebelah timur ada Dzatu ‘Irqin, yaitu batas orang yang masuk dari arah negeri Iraq. Agak ke Selatan masih di timur ada Qarnul Manazil. Paling selatan, yaitu dari arah negeri Yaman, ada Yalamlam. Sedangkan dari arah utara, beberapa kilometer dari Kota Madinah, ada Bi’ru Ali, atau disebut juga dengan Dzil Hilaifah. Di sebelah Barat ada Juhfah atau disebut juga Rabigh. (sumber)

Apa saja larangan yang berkaitan dengan Tanah Haram itu?

Beberapa larangan di Tanah Haram ialah: Tidak dibenarkan bagi siapa pun untuk berburu binatang di sana, kecuali terhadap binatang buas yang mengganggu atau membahayakan. Tidak juga dibenarkan mencabut pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya, bukan yang tumbuh karena ditanam manusia, atau pepohonan dan tumbuhan yang telah mengering atau mati. Tidak juga dibenarkan membuang atau membawa sebagian dari tanah atau batu-batuan ke luar tanah haram, sebagaimana tidak dibenarkan pula memungut suatu barang kecuali untuk diumumkan siapa pemiliknya.

0 Komentar Alasan Mekah dan Madinah Disebut Tanah Haram

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top